Suamiku (Bukan) Biseksual

Suamiku (Bukan) Biseksual
Masalah Baru


__ADS_3

"Rey,  udah nunggu lama ya?" Naira muncul tanpa mengucap salam, dia langsung duduk di salah satu kursi kayu yang berhadapan dengan Rey. Sejak dua puluh menit lalu, Rey memang sedang menunggu Naira datang ke kafe tempat mereka janjian. Rencana awal Rey yang akan datang ke rumahnya, namun Rey  mengalihkan ke kafe. Takut obrolan mereka terdengar oleh orang tua Naira.


"Mau ngomongin apa? Kenapa pangeranmu, Rey?" tanya Naira penasaran. Terlihat ada yang berbeda dari wajahnya kali ini. Rey melihat wajah sahabatnya itu sangat pucat.


Rey melemparkan tatapan menyelidik, lalu menyentuh keningnya. "Ra, kamu sakit? Astaghfirullah ...." Buru-buru Rey pindah duduk mendekat Naira. Suhu tubuh gadis itu benar-benar tinggi.


"Engga, cuma demam."


Rey menyesal sudah mengajaknya bertemu di luar. Jika sebelumnya Naira bilang sedang demam, harusnya Rey yang datang ke rumahnya.


"Demam aja?" tanya Rey balik.


"Gak apa-apa, Rey. Udah mendingan kok." Bahkan dari suaranya terdengar lemas. "Mau cerita apa? Pengeranmu kenapa?" lanjutnya. Di saat sakit seperti ini saja, dia masih begitu peduli dengan Rey.


"Gak, gak bisa! Kita ke rumah sakit sekarang."


Baru hendak bangun dari tempat duduk.


"Ra ...."


Bruukk!


Naira ambruk seketika. Beruntung Rey dengan sigap menopang tubuhnya.


"Mbak, mas, tolong!"


Naira dibawa masuk ke dalam taksi yang tadi diberhentikan oleh salah satu pengunjung kafe. Rey ikut masuk, duduk di belakang menjadikan pangkuan Naira.


Selama perjalanan ke rumah sakit, Rey sibuk menghubungi kedua orang tua Naira, namun tak ada jawaban, dan Deni –kekasih Naira.. Butuh waktu lima belas menit untuk sampai di rumah sakit.

__ADS_1


Seorang perawat di sana langsung menyambut sambil membawa brankar. Naira dipindahkan ke sana, dibawa ke ruangan UGD. Rey membayar taksi dulu, kemudian bergegas masuk ke dalam. Ia menanti sahabatnya itu dengan cemas di luar ruangan.


Rey terduduk lemas disalah satu kursi. Sampai suara seseorang memecah keheningan.


"Rey,"


Seulas senyum terbit di wajah Rey tak kala ekor matanya menangkap sosok Deni datang. Istimewanya dia datang bersama Tante Risma --ibunya.


"Gimana keadaan Naira?" tanyanya khawatir.


"Masih diperiksa," balas Rey.


Tante Risma diam tanpa sepatah kata. Senyuman yang Rey lemparkan padanya pun tidak mendapatkan balasan. Dulu, ketika Rey dan Naira ke rumahnya, Tante Risma sangat ramah pada mereka berdua. Lebih tepatnya sebelum tahu perasaan Neira dan Deni saling mencintai.


Tak berselang lama, seorang perawat keluar. "Pasien sudah sadar, bisa ditemui,” ucapnya.


Mereka bergegas masuk. Rey berdiri di samping Tante Risma, raut wajah Neira mendadak pucat. Mungkin karena dia menyadari kehadiran Tante Risma.


Naira mengangguk lemah. “Kamu sudah menghubungi orang tuaku?"


"Sudah," jawab Deni.


Hening.


"Yasudah, dia baik-baik saja kan? Ayo kita pulang!" Tante Risma bersiap menarik lengan Deni.


"Tante, Naira .... "


Tante Risma menyela perkataan Rey. "Kamu harusnya tahu, dari dulu Tante nggak pernah menyukai Neira. Andai kamu dan Deni bisa saling mencintai, pasti Tante sudah merestui hubungan kalian.”

__ADS_1


Deg! Mata Rey terasa memanas. Apa yang barusan Tante Risma katakan? Rey? Deni? Kenapa buka. Mereka yang saling mencintai?


"Ibu!" Deni berusaha menenangkan suasana. Rey melirik Naira sendu.


"Memang begitu faktanya! Ibu lebih menyukai Reyna, bukan Naira. Ibu dulu pernah menyampaikan pada kamu untuk melamar Reyna."


"Bu, istighfar." Deni menghembuskan nafas berat. "Pernikahan itu bukan ibu yang menjalani, tapi Deni. Ibu tidak bisa menentukan siapa yang ibu sukai atau tidak. Lagi pula ibu tidak berhak bicara seperti itu. Reyna sudah menikah Bu!"


"Itu karena kamu terlambat. Harusnya dari dulu kamu yang melamarnya." Nada bicara Tante Risma naik satu oktaf. "Harusnya Reyna yang menjadi menantu ibu."


Plak!


Pipi Rey memanas seketika. Ekor matanya siap menumpahkan air mata yang sejak tadi tertahan.


"Puas kamu, Rey! Puas kamu lihat kenyataan ini!"


"Ra ..." Air mata Rey tumpah. Jujur ia tak percaya jika Naira melakukan itu padanya.


"Kamu tau rasanya jadi aku? Kenapa hidup kamu selalu beruntung! Bahkan masih ada orang lain yang mengharapkan kamu walau tahu kamu sudah menikah."


"Aku minta maaf," kata Rey memohon.


Sedari awal Rey tak pernah tahu kalau ibunya Deni menolak Naira karena mengharapkan Rey. Bahkan sedari awal Rey tak pernah tahu jika Mas Zafran adalah seorang bi**ksual. Siapa yang tau takdir? Siapa yang bisa mengelak takdir.


"Pergi, Rey!" bentak Naira pada Rey.


"Ra ...."


"PERGI!"

__ADS_1


Disaat Rey sedang berusaha mencari jalan keluar tentang masalah Mas Zafran, ia malah menemukan masalah baru.


"Adek? Adek nangis?" Terdengar suara teduh milik Mas Zafran. Rey sempat menghubunginya tadi saat di taksi. Rupanya dia datang, tapi ada sosok lain menemaninya. Rendi. Seketika tubuhnya lunglai, menjatuhkan diri pada kursi dan menyandarkan punggungnya di sana.


__ADS_2