SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH

SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH
EPISODE 024


__ADS_3

Sebuah gudang kosong. Hanya terdapat beberapa lampu kuning remang-remang yang menerangi gudang itu.


Kaki dan tangan yang terikat di belakang badannya, membuat Igor sama sekali tak bisa berbuat apa-apa.


*BYUR!!!


Gun membangunkan Igor. Menyiramnya dengan air comberan. Tersedak menahan bau yang menyengat dari air itu.


Ikatan tali terlalu kencang, tak mungkin Igor dapat melepaskan tangannya yang terikat di belakang. Sekeras apapun dia mengerang dan berusaha, tetap tak mampu untuk melepaskan dirinya sendiri.


“Igor!” Gun berjalan mengitari Igor. “Sial! Bagaimana bisa Arthur, memiliki KTP dan SIM yang bernama Igor? Hhh. Sepertinya banyak hal yang kau alami.


Tak mudah mengganti identitas di negara ini, jika kau tak memiliki koneksi yang bagus. Aku penasaran, apa yang terjadi denganmu setelah kau menghilang. Bagaimana bisa kau memiliki identitas baru?”


Igor memperbaiki posisinya berusaha duduk, meski kedua kaki dan tangannya terikat.


“Siapa sangka? Seorang pembunuh berantai sepertimu, mengubah identitas, menikah, dan bahkan memiliki seorang anak.”


Dengan pisau dapur yang digunakan Igor untuk menusuk pahanya, Gun menggesekkan pisau itu melingkar ke leher Igor.


“Apa kau mau kubuat lebih iri?” Igor mendengus kesal. “Aku memiliki 3 rumah di tengah kota. Setiap rumah memiliki dua lantai, tak seperti dirimu yang miskin. Bahkan kau harus menjadi seorang sopir taksi untuk mencari nafkah.” Cuihh!!! Igor meludah sedikit  tertawa.


Dia tahu tak dapat melakukan apapun. Dia memanfaatkan emosi Gun dengan perkataannya.


“Kau tertawa? Kau berani tertawa?” Gun merasa Igor meremehkannya.


“Wah, astaga. Kau menyedihkan sekali. Kau hanya sopir taksi miskin yang menyedihkan.”


*BUK!!! Gun memukul wajah Igor.


“Menyedihkan apa maksudmu? Apa yang menyedihkan?”


“Dasar, Bodoh! Orang yang ingin kau balas sudah mati sejak lama, jadi, kau memilih putranya yang tak tahu apapun sebagai target utama~untuk melampiaskan semua amarah yang belum kau lepaskan.

__ADS_1


Pikiranmu berkata ‘Dia seperti ayahnya. Dia dirasuki Roh jahat. Dia seorang monster. Dia tidak pantas untuk hidup. Mereka berdua hanyalah manusia hina. Mereka sama saja’ Semua itu berkecamuk dalam pikiranmu.”


Sama sekali tak takut dengan pisau yang dibawa Gun, Igor makin membuatnya emosi.


“Ternyata rumor yang beredar itu benar. Kau hanyalah monster yang tak memiliki perasaan. Kau juga tak takut apapun, bahkan saat ajal sudah di depanmu. Aku bahkan bisa membunuhmu dalam sekejap.”


“Selama aku bisa melihat lawanku, kenapa aku harus takut padanya? Wah, kau sangat membosankan.” Igor meringis tersenyum.


*JLEB!!!


“Arg!” Igor mengerang lirih. Gun menancapkan pisau dapur itu pada lengannya, lalu mencabutnya lagi.


Darah segar menetes membasahi lantai gedung dari lengan Igor. Igor hanya bisa bertahan sekuat tenaga dari rasa sakit itu. Dia menempelkan lengannya erat ke tubuh, agar tak mengeluarkan banyak darah.


“Hhhh. Lihatlah, kau masih merasakan sakit, tapi, kau masih menyombongkan dirimu.”


Dahi, leher, tangan dan tubuh Igor dipenuhi keringat yang mengucur deras.


“Dekat… Mendekatlah! Dia ada di…” ucap Igor lirih. Suaranya mulai lemas.


“Apa katamu? Ulangi lagi!” Gun berjongkok mendekatkan dirinya pada Igor.


Suara daging terkoyak dan terkunyah terdengar kasar. Igor menggigit telinga kiri Gun hingga putus, lalu menendangnya. Igor mengunyah dan meludahkan telinga kanan Roy ke lantai gedung.


Dia tertawa melihat Gun yang mengerang kesakitan. Salah satu telinganya menghilang, hanya dengan sekali gigitan Igor.


Tatapan mata Igor berubah drastis. Separuh monster yang diwariskan ayahnya menguasai dirinya. Bibirnya berlumur darah akibat memakan telinga Gun.


Dia terlihat sangat menikmati daging dan darah segar dari telinga Gun. Dia lebih mirip seperti kanibal saat itu.


Sementara Gun masih mengerang kesakitan. Seluruh tubuhnya kejang-kejang. Kedua tangannya memegangi bagian telinganya yang sudah menghilang.


Dia berlari dan mengambil sebuah botol berisi cairan alkohol dari dalam tasnya. Menumpahkan semua alkohol itu ke bekas luka.

__ADS_1


Igor tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu.


“Balas dendam?” Igor mendengus. Meludahkan darah yang masih ada di mulutnya. “Kau sudah gagal total. Membunuhku akan menjadikan kegagalan untukmu.


Meski kau memotong organ tubuhku, melubangi beberapa bagian tubuhku, kau tak akan bisa membuktikan apa yang memang tidak kuperbuat atau ketidaktahuanku atas kejadian istrimu. Dasar, Idiot!


Apa yang akan kau perbuat padaku sudah jelas. Namun, aku yakin itu akan menghancurkanmu selamanya. Kau tetap tak bisa menemukan istrimu, walau kau membunuhku saat ini. Lakukan saja, jika kau tak percaya padaku. Lakukan! Kau pikir aku takut mati?”


Igor mendengus dan malah menantang balik.


“Psikopat Gila!!!”


*BUK!!! Gun berlari dan menendang kepala Igor. Muncrat darah di bibir dan hidung Igor. Kondisinya sudah cukup parah, tapi, Igor masih tetap bertahan dengan itu.


Selesai mengeringkan lukanya dengan alkohol, Gun mengambil tali dadung berukuran panjang.


Membuat sebuah simpul dan mengikat leher Igor dengan kencang. Tali itu dikaitkan dengan tuas derek yang dapat menarik ke atas, dengan satu kali putaran ayunan tangan.


Setiap ayunan tangan, sekali putaran alat itu, akan menarik leher Igor ke atas secara perlahan.


“Apa kau menyukai permainan ini? Menurutmu, berapa lama kau bisa bertahan jika aku memutar tuas ini, dan derek itu menarik lehermu ke atas?


Berita bagusnya adalah kau masih punya banyak waktu untuk berubah pikiran. Aku akan menarik memutar tuas dan derek itu akan menarik lehermu setiap satu menit sekali.”


Gun berdiri di depan alat tuas derek dan mulai mengayunkan tangannya, memutar tuas itu sekali. Igor duduk dengan posisi tegak.


“Sial! Aku sudah berkata padamu. Aku tak bisa membuktikan apa yang tak kuketahui. Apa kau tuli? Kenapa kau masih keras kepala?”


“Korban terakhir ayahmu, tepat sebelum kau menghilang. Elena, dia adalah istriku. Saat itu di persimpangan gang sempit, seorang saksi melihat Elena yang di paksa masuk ke dalam mobil Alex.


Dari kejauhan, saksi mata itu mengambil foto plat nomor mobil yang membawa istriku, lalu melaporkannya pada kepolisian setempat. Singkat cerita, Alex diselidiki tapi kemudian dibebaskan karena kurangnya bukti.


Aku yakin itu karena putranya memiliki alibi yang sangat kuat untuk ayahnya saat itu. Andai saja ayahmu ditahan saat itu, mungkin Elena tak akan mati. Itu adalah kesempatan terakhir untuk menyelamatkan istriku.”

__ADS_1


__ADS_2