SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH

SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH
EPISODE 027


__ADS_3

“Kau tak perlu mencemaskan dia. Aku akan mengurus itu.”


“Bukankah dia akan curiga, kenapa kau ada disana saat itu?”


“Aku sudah bekerja sama dengan temanku. Dia seorang wartawan. Aku sedang bersamanya agar mendapatkan ide baru untuk pekerjaanku. Aku akan menelponnya setelah ini.”


“Bagaimana kita bisa mempercayai wartawan itu?”


“Tenang saja. Aku tahu kelemahan terbesarnya. Aku memegang rahasia besar yang telah disimpannya selama ini.”


“Rahasia apa itu?” seru Nyonya Fred penasaran.


Igor menyeringai kecil. “Kalian tidak perlu mengetahuinya.”


Fred dan istrinya saling menatap satu sama lain.


“Kau tak mempercayai kami?” tanya Nyonya Fred yang masih penasaran.


Igor tersenyum. “Bagaimana denganmu sendiri? Seberapa besar kau mempercayaiku?”


Nyonya Fred terdiam.


“Mari berhenti membicarakan hal yang tak penting. Masalah kita saat ini adalah Gun, sopir taksi sialan itu,” ucap Fred.


“Lantas? Apa kau punya solusinya? Kau punya rencana? Bagaimana caramu membungkamnya, jika dia sadar?” tanya istrinya panik.


“Tenanglah!”


“Apa? Tenang?” Nyonya Fred menggebu-gebu dan berbicara dengan nada tinggi. “Dia adalah bom waktu! Kau tak bisa hanya diam saja dan tak melakukan apapun.”


“Pelankan suaramu. Apa kau tak tahu, dimana kau berada?” Fred mendekat. “Kau lupa, apa yang terjadi pada keluarga kita beberapa tahun lalu? Itu semua karena tindakan bodoh dan gegabah yang kau lakukan.”


Nyonya Fred menunduk, menggertakkan gigi.


“Ini masalah yang terlalu berat untuk kau tangani. Kau harus segera pulang. Biar aku yang menyelesaikan semuanya. Aku mengatakan ini demi dirimu.”


Igor hanya diam tanpa ekspresi apapun melihat orang tua angkatnya bertengkar.


“Aku tahu. Aku tahu bahwa aku adalah manusia tak berguna. Aku tahu betul.” Nyonya Fred sewot. Mengambil tasnya, lalu pergi dari ruangan.


Suasana hening. Rumah sakit itu berlalu ramai dengan pengunjung yang berdatangan untuk menjenguk teman, saudara, kerabat, keluarganya yang sedang dirawat disana.


Rumah sakit itu memiliki luas satu hektar, jika dihitung secara menyeluruh. Taman hijau yang terawat mengelilingi rumah sakit. Beberapa  pasien melakukan terapi dan berjalan-jalan di taman itu.


Begitupun dengan Eva. Dia terduduk di salah satu bangku taman yang ada. Melamun.

__ADS_1


“Senior!!!” seru Mike yang juga datang. Dia berlari dan duduk di sebelah Eva. “Wah. Aku sangat bersyukur suamimu telah sadar.”


“Astaga. Kau malah terlihat lebih bahagia dariku.”


“Kau tak tahu betapa khawatirnya aku? Aku berpikir mungkin sesuatu terjadi padamu. Wah! Kau tak ingat, apa yang kau lakukan saat suamimu masih tak sadarkan diri?


Kau sama sekali terjaga di sebelah tempat tidurnya. Kau juga berteriak histeris memanggil dokter, saat suhu tubuh suamimu mendadak naik. Kau ketakutan seolah suamimu tak bisa bangun lagi. Aku merasa kasihan saat melihatmu begitu.” Mike menggeleng.


“Setidaknya, kau lebih tenang sekarang. Mungkin kau juga langsung menari saat mendengar suamimu tersadar. Hahahaha.” Mike memperagakan tangannya menari.


Eva tersenyum kecil. “Ya, kau benar. Aku sudah menari tadi. Bukan hanya menari, bahkan melompat-lompat kegirangan.”


“Omong-omong, Mike. Bagaimana soal Gun?”


“Wah, itu gila. Mereka memutuskan surat penahanannya besok. Tak mungkin baginya untuk menjalani interogasi dengan keadaan seperti itu. Dokter mengatakan dia mengalami kerusakan di saraf otak, akibat meminum pil itu.


Beberapa detektif lain berkata, mungkin dia sedang berpura-pura untuk menghindari hukumannya,” jelas Mike.


Mike juga mengatakan bahwa hari pihak kepolisian akan melakukan semacam interogasi, tepatnya adalah sebuah pernyataan untuk korban.


Dengan sebuah tripod dan kamera akan digunakan untuk mewawancarai korban di kamarnya.


“Pernyataan?” tanya Eva.


“Ya, begitulah kurang lebih. Apa menurutmu Pak Igor bisa melakukan itu saat ini?”


“Akan menguntungkan jika kita memiliki pernyataan dari korban-soal betapa liciknya dan kejamnya Gun. Bayangkan saja, Pak Igor sampai disiksa dan digantung seperti itu.”


Eva mengangguk setuju. Mereka berdua bergegas menuju kamar Igor.


Dengan sebuah kamera dan tripod menggunakannya untuk mewawancarai dan meminta pernyataan dari korban.


Mike mulai menata letak kamera yang pas, untuk mengambil video, sementara Eva berdiri di samping ranjang Igor, memastikan kembali, apakah dia bersiap atau tidak.


“Kau yakin bisa?”


“Ya, tentu. Aku baik-baik saja.” Igor menyeringai lebar.


“Apa kau cukup percaya diri?”


“Hmm. Apa wawancara ini membutuhkan itu?”


“Tidak juga. Maksudku, mungkin saja sulit bagimu untuk mengingat apa yang terjadi.”


Eva menghindar, saat tangan Igor akan membersihkan kotoran di rambutnya. Dia seperti memendam dan memikirkan hal lain tentang suaminya itu.

__ADS_1


“Kenapa? Ada apa denganmu? Kau terlihat begitu gelisah.” Igor kembali mengangkat tangannya dan menyingkirkan kotoran kecil yang ada di rambut Eva.


“Lihat ini! Ada kotoran di rambutmu.” Igor membuang kotoran kecil itu ke lantai. Eva memegangi rambutnya celingukan.


“Kenapa kau terlihat gugup? Apa ada masalah?”


“Tidak. Lupakan saja!” Eva menyeringai lebar.


“Ehem!” Mike sengaja batuk memecah suasana. “Aku sudah mengumpulkan beberapa pertanyaan. Pak Igor, kau bisa memberi tanda atau mengangkat tanganmu, jika pertanyaan ini terlalu sulit untukmu.”


“Baiklah. Terimakasih, Detektif Mike.” Igor tersenyum.


“Wah!!! Halo, semuanya!!”


“Inspektur Han!” seru Mike.


Han datang dengan wajah berseri. Dia datang dengan pakaian tak formal. Hanya menggunakan kaos dan outer serta celana Jeans. Hari itu hari minggu. Dia mengambil jatah libur.


“Bagaimana kabarmu, Igor?” Han mendekat, menyeka rambutnya yang memutih


“Aku baik-baik saja, Inspektur. Terimakasih telah datang kemari.”


“Ah, tak apa. Sudah seharusnya aku datang kemari.” Han melambaikan tangan.


“Omong-omong, jika melihat kondisi Gun, dia terluka sangat parah dan babak belur. Sepertinya kau sempat menghajarnya beberapa kali saat itu. Wah, suamimu sangat tangguh.” Han melihat Eva.


“Lihatlah! Badannya tinggi dan kekar. Apa kau senang berkelahi saat masih muda? Hahahahaha.” Inspektur menceletuk memperagakan tinjunya.


“Astaga, Inspektur. Dia adalah korban. Jaga perkataanmu.”


Pria tua itu tak tahu umur. Dia bahkan sempat mengajak Igor bercanda saat itu.


“Apa itu?” Han menunjuk lembaran kertas yang dibawa Mike.


“Ini semacam kuesioner, tidak. Tepatnya beberapa pertanyaan untuk korban.”


“Kemarikan!” Han merebut kertas itu. “Wah, sejak kapan polisi membuat hal seperti ini.”


Tanpa banyak bicara, Han duduk di belakang kamera. Bersiap untuk memberi pertanyaan pada Igor .Sepertinya dia sedikit curiga tentang apa yang telah terjadi kemarin hari, dan ingin memastikannya sendiri.


“Baiklah. Bisakah kita memulainya?” tanya Han pada Igor.


“Wah kupikir kau sedang menikmati liburmu. Kau yakin ingin melakukan ini sendiri?” tanya Mike.


“Ah, tentu saja. Aku sangat bosan jika harus berdiam diri di rumah atau berlibur ke tempat yang itu-itu saja.”

__ADS_1


“Baiklah. Mari kita mulai.”


Eva menjauh dari ranjang Igor, sembari Igor memperbaiki posisi duduknya menghadap kamera. Kamera menyala. Mulai merekam.


__ADS_2