SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH

SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH
EPISODE 042


__ADS_3

“Semuanya saja, segera atur dan tata rapi barang-barang kalian agar kita bisa mulai bekerja.”


Pagi-pagi sekali, Kepala Tim sudah berada di ruangan barunya untuk memulai bekerja.


Eva, Mike dan Inspektur Han pun juga sudah di mejanya masing-masing. Mereka akan menyelidiki ulang kasus pembunuh berantai 15 tahun silam.


Memulai penyelidikan dengan Gun dan istrinya, Elena yang menjadi korban terakhir Alex.


Mike menyalakan laptop. Menghubungkan laptop itu dengan proyektor yang menyorot ke papan gelap dan menampilkan semua foto korban yang telah dibunuh oleh Alex di layar itu.


Beberapa berkas tebal bertumpuk yang sudah mulai usang diletakkan Eva di meja utama.


Debu-debu kecil dari berkas itu berterbangan sekitar meja.


Berkas-berkas yang tak dapat diselesaikan oleh aparat yang bekerja 15 tahun lalu karena Alex telah mati, kini harus diselesaikan tim Eva untuk menangkap kaki tangan Alex.


Entah apa yang terjadi pada Eva. Dia terlihat bersemangat dan membaca semua berkas, melihat beberapa tanda yang mencurigakan dari semua korban.


Hal itu membuat semua orang saling pandang, kenapa Eva tiba-tiba bersemangat, padahal tempo hari dia tak ingin jika timnya menyelidiki ulang kasus ini.


“Wah, tumben sekali kau sangat antusias dan bersemangat. Padahal, baru kemarin kau tak ingin ambil alih kasus ini,” celetuk Inspektur Han.


“Tak apa. Apa aku tak boleh bersemangat? Aku hanya ingin membantu kalian agar masalah ini cepat selesai,” jawab Eva singkat.


“Dengan begitu, aku bisa bersiap apa yang harus kulakukan selanjutnya,” gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Mike berdiri dan terus menjelaskan semua perbedaan dan persamaan antara korban satu dan korban lainnya.


Setelah itu, mereka mencocokkan hasilnya dengan korban terakhir yaitu Elena, karena hanya dia yang mayatnya tak ditemukan hingga saat itu.


Tak hanya itu. Alex selalu menculik dan mengurung korbannya sebelum dia mengeksekusinya, akan tetapi berbeda dengan Elena.


Semua orang mulai mengeluarkan pendapat dan argumennya masing-masing.


Sampai mereka benar-benar putus asa karena jalannya sudah buntu. Tak dapat petunjuk lagi dari semua bukti yang ada.


*BRAK!


“Astaga. Aku muak dengan ini.” Inspektur menggebrak meja dan tumpukan berkas yang sedang dibacanya. Muak dengan semua berkas lusuh. “Mari kita tangkap saja Arthur itu.”


“Arthur bukanlah kaki tangannya. Aku yakin itu. Percayalah padaku Inspektur,” sahut Eva.


“Kaki tangan tersebut menculik korban menggunakan mobil Alex menguncinya di bagasi dan meninggalkan mobilnya di sana, lalu Alex mengendarai mobilnya dan mengurung korban di ruang bawah tanah.”


“Ya, itu benar, lantas apa?” sahut Mike mendengar penjelasan Han.


“Bukankah sudah jelas? Itu artinya mereka bertemu dua kali. Mereka harus keluar untuk menukar kunci mobil dua kali. Sadar atau tidak, aku yakin pasti Arthur pernah melihat kaki tangan itu.”


Semua orang terdiam. Penjelasan Inspektur Han cukup masuk akal.


“Berarti, dia mungkin meninggalkan kunci mobil di dalam mobil itu,” ucap Mike.

__ADS_1


“Ya. Itulah yang akan dilakukan orang yang peduli dengan kenyamanan.”


“Jika dia meninggalkan kunci di dalam mobil, artinya dia membiarkan pintunya terbuka.” Eva nimbrung.


“Mungkinkah dia membiarkan kuncinya di mobil dan pintunya terbuka dengan orang yang diculik di dalam bagasi? Sepertinya itu tidak mungkin bagiku.”


“Bagaimana jika dia meninggalkannya di tempat tertentu?” Mike berasumsi.


“Tidak!” Han menggeleng. “Kunci mobilnya digunakan untuk melakukan kejahatan. Aku akan memberi dan menerimanya secara langsung, jika itu adalah aku.


Karena apapun yang mereka lakukan, akan lebih banyak kemungkinan dan mereka akan kehilangan kemampuannya untuk mengontrol korban.”


“Ah, sial! Ini rumit.” Mike memegang kepalanya yang tak pusing. “Lantas, bagaimana kita akan menemukan Arthur? Beberapa tim pendahulu kita bahkan tak mampu menemukannya.”


“Maka itu, kita harus membaca ini.” Han menunjuk berkas-berkas dan beberapa pernyataan yang pernah ditulis Arthur dulu. Mungkin dari itu mereka bisa mendapatkan petunjuk.


Eva terdiam dan memikirkan sesuatu sejenak. “Permisi, semuanya. Aku akan pergi dulu sebentar.” Berdiri dari kursinya dan beranjak pergi.


“Senior!”


“Hei, mau kemana kau?”


“Ada urusan mendadak.” Eva meneruskan langkahnya dan segera pergi.


Di lorong gedung kepolisian, Eva berjalan cepat dan terus melihat layar ponselnya. Melihat keberadaan suaminya dari ponsel.

__ADS_1


“Arthur mungkin sudah bertemu dengan kaki tangannya tanpa dia sadari. Aku harus memberitahukan ini.”


__ADS_2