
Igor menendang bartender hingga berlutut, lalu menjambaknya, menatap tajam.
“Kenapa… Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku sungguh tak tahu apapun.” Si Bartender masih saja tak ingin mengatakan.
“Katakanlah, jika kau tak ingin pisau ini menancap ke lehermu.”
Si Bartender masih saja tetap diam.
“Baiklah, jika itu yang kau mau.” Igor mengangkat pisau itu dari jauh mengambil ancang-ancang.
“Tunggu! Baiklah. Lepaskan aku!” Bartender memegang tangan Igor yang masih menjambak rambutnya. “Aku akan memberitahumu. Koperasi simpan pinjam. Aku akan membawamu ke tempat itu.”
Bartender menelan ludah karena pisau kecil itu hampir menembus lehernya.
“Koperasi simpan pinjam?” tanya Igor penasaran.
“Ya, aku bisa mengantarmu kesana agar kau bertemu dengan seorang yang lebih tahu.”
Igor mengikat tangan Bartender ke belakang, lalu membawanya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
***
Satu jam berlalu. Kini Igor dan Si Bartender itu sudah berada di depan sebuah ruko berukuran sedang.
Lingkungan itu berada tak jauh dari tengah kota dan rumah Igor berada. Beberapa ruko sekitar itu telah tutup dan hanya ada satu ruko yang terpakai.
Igor melepaskan tali yang mengikat dan menyuruh bartender itu untuk membukanya.
Seorang pria bertubuh tinggi dan gempal duduk di kursinya. Pria itu seumuran dengan Igor. Beberapa kacung dan tukang pukul terlihat berdiri di setiap sudut ruangan.
Tanpa takut sedikitpun, Igor langsung duduk di depan pria bertubuh gempal itu, sementara Si Bartender membisikkan sesuatu pada pemilik atau Bos dari koperasi simpan pinjam itu, memberitahukan siapa Igor sebenarnya.
“Apa kau benar putra Alex? Bagaimana aku bisa mempercayaimu bahwa kau putranya?” Si Bos bertanya.
“Alex selalu memesan minuman yang sama di bar itu. Apa kau tahu itu?”
“Ayahku selalu memesan Whiskey dengan kadar alkohol 15% tanpa dicampur dengan es batu ataupun minuman lain. Hanya Whiskey.
Si Bos mengangguk percaya. Dia berdiri dari kursinya dan duduk di sofa menghadap Igor. Menatap wajah Igor sejenak. “Wah, kau sangat mirip dengannya.”
__ADS_1
“Sekarang ceritakan tentangmu. Apa yakin kau pasti tahu siapa kaki tangan ayahku.”
“Astaga, lihatlah berandal ini. Kau baru saja melewati batas dengan pertanyaan itu.” Si Bos terkekeh. “Aku melihatnya dari berita, kau sedang dicari karena pembunuhan yang terjadi minggu-minggu ini.”
“Itulah mengapa aku sangat ingin mengejar kaki tangan itu. Bajingan itu telah membuatku dalam masalah, jadi, aku harus membalasnya,” ucap Igor serius menatap Si Bos.
“Apa kau tahu orang seperti apa dia? Kau terlalu meremahkannya.”
“Katakan padanya apa yang barusaja kau katakan. Katakan padanya, aku akan memotong semua organ tubuhnya sebelum dia mati.”
“HAHAHAHAHAHAHA.” Si Bos terkekeh. Perut buncitnya bergoyang-goyang karena itu. “Hei, kalian! Lihatlah, Bajingan ini!” Bos menatap beberapa kacung dan tukang pukulnya yang ikut tertawa.
“Astaga. Aku ikut terjebak dengan dua orang bajingan gila ini. Ini sunggu gila.”
“Kau tertawa dan bicara seolah-olah kau tak segila itu. Apa kau tak sadar, jika kau lebih gila?”
“Aku? Aku hanyalah seorang pengusaha. Aku memiliki beberapa usaha besar lain selain koperasi simpan pinjam ini. Aku hanya menjual, membeli, dan mendapat keuntungan kembali. Sesederhana itu.”
“Lantas, apa yang kau perjual belikan?”
__ADS_1
“Semuanya, apapun yang bisa aku jual, maka aku akan menjualnya,” tegas Si Bos.
“Itu artinya, kau juga dapat menjual nama kaki tangan itu padaku.” Igor mengeluarkan pulpen dan merobek kertas catatan yang ada di meja depannya.