
"Sini dong cantik." kata Rendy kembali sambil memegang tangan Nayla.
"Jangan sentuh saya." Kata Nayla marah ke pada orang yang telah menyentuh dirinya dan melihat orang yang menyentuh tangannya.
"Lepaskan tangan saya." Sambung Nayla sambil memberonta berharap tangannya akan lepas.
"Waw lihat mata ini, Tatapan marahmu itu sungguh sangat seksi cantik." Kata Rendy yang masih tetap memegang tangan Nayla dan juga hendak menyentuh pipi Nayla tapi terhenti karena ia melihat buliran air mata yang ingin tumpah dari matanya Nayla.
"Udah deh Ren jangan ngangu dia." kata Dirga berdiri untuk mengehentikan Rendy Karena ia tau jika Nayla adalah gadis baik-baik dan tidak ingin menganggu Nayla.
"Emang kenapa?, Lo suka sama gadis ini?" tanya Rendy.
Dirga hanya diam dan tak tau harus jawab apa karena sebenarnya ia juga tidak tau perasaan apa yang ia rasakan untuk Nayla.
"Hai kalian berhenti." Ucap seseorang tiba-tiba yang ingin memberhentikan aksi Rendy dan teman-temannya melecehkan Nayla.
"Hish siapa yang berani menganggu seorang Rendy ini?" Kata Bagas.
"Hai lepaskan tanganmu itu." Kata seorang yang melepaskan tangan Nayla dari cekalan tangan Rendy dan yang ternyata seseorang itu adalah pak Ridwan si dosen killer.
"Jangan ngangu deh pak. Silahkan bapak pergi aja urus urusan bapak." Jawab Rendy.
"Benar itu pak, bapak sebaiknya jangan ganggu kami dan urus saja urusan bapak sendiri." Kata Bagas.
"Ya pak, sebaiknya bapak pergi aja." Kata Tito kemudian.
"Dasar kalian anak-anak yang tidak tau sopan santun. Mau saya laporkan kalian ke polisi atas pelecehan terhadap seorang gadis hah." Ucap pak Ridwan kemudian melindungi Nayla dan menempatkan Nayla di belakangnya.
"Terima kasih ya Allah karena telah melindungi ku lewat pak Ridwan." Batin Nayla bersyukur karena Allah telah menjawab doanya.
__ADS_1
"Halah pak kalau berani laporin aja pak, kami tidak takut." Jawab Bagas.
"Benar pak kami tidak takut, karena orang tua kami tidak akan membiarkan kami masuk penjara." Jawab Tito kemudian.
"Woy kalian berdua sadarlah itu si dosen killer, hanya dia satu-satunya dosen yang tidak takut ancaman dari orang tua kalian." kata Dirga yang juga tidak ingin ikut-ikutan.
"Halah bodo amat,palingan itu hanya ancamannya doang." Kata Tito.
"Gw ngak ikut-ikutan ya." Jawab Dirga kemudian pergi.
"Ya elah dasar pengecut Lo." Kata Bagas.
"Iya, nggak setia kawan Lo." kata Tito.
"Kita pergi aja dulu bokap gue juga pasti marah kalau sampai kita di bawa ke kantor polisi. Bisa-bisa fasilitas gue di ambil lagi." Kata Rendy.
"Sampai ketemu lagi cantik."Sambung Rendy kemudian pergi dari situ.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya pak Ridwan kepada Nayla.
"Saya baik-baik saja pak, terima kasih telah menolong saya dari mereka pak".
"Jika kamu ketemu mereka lagi sebaiknya pergi saja jangan ladeni mereka lagi". Kata pak Ridwan.
"baik pak, sekali lagi terima kasih pak. Saya permisi ke kelas dulu pak." Kata Nayla kemudian pamit untuk ke kelas terlebih dahulu.
"Baiklah." Kata pak Ridwan.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
Selesai mata kuliah siang.
Nayla bersama Mira temannya pergi ke kafe dekat kampusnya untuk mengisi perut yang telah keroncongan.
"Eh Nay, tumben kamu telat masuk kelas tadi. Biasanya kamu selalu ontime." Kata Mira yang telah memesan makanan.
"Itu tadi aku di cekal ama gengnya Tito." Jawab Nayla.
"Oh ya terus-terus apa yang terjadi?" Tanya Mira penasaran.
"Ya gitu." Ucap Nayla malas membahas yang terjadi tadi.
"Iiih cerita dong Nay." kata Mira penasaran.
__ADS_1
Bersambung......