
Taman budaya itu masih tampak sama.Dia bagai tak pernah terjaga oleh kebisingan jater di depannya.Bangunan luas itu berdiri diatas tanah yang lebih rendah dan letaknya agak tersembunyi sehingga makin memperlihatkan keterasingan dari dunia luar.Pusat taman budaya di kota solo ini berupa pendopo yang luas,yang di kanan kirinya di bangun gedung teater dan galeri.Memasuki pelatarannya seperti masuk kembali ke lingkaran waktu yang pernah kulalui dulu.
Aku dan viktor,fotografer rekan sekantorku,segera menuju kantor yang terletak di belakang pendopo,dan menemui pak murjito,pengelola sekaligus penanggung jawab gedung ini.Rupanya ia sudah menungguku untuk wawancara.Aku ingin melengkapi artikel ku tentang kehidupan budaya solo.
"Saya maya damayanti dari mingguan cemara.Dan itu Viktor,fotografer",aku memperkenalkan diriku dan rekanku.Pak murjito
lantas mengajak kami berbincang-bincang di pendopo,sementara Viktor langsung menjelajah mencari sudut sudut gambar yang bagus dengan kameranya.
Semenit kemudian,kami sudah terlibat dalam pembicaraan yang sangat mengasyikkan mengenai kegiatan kesenian di taman budaya.Sayangnya,belakangan ini pihak pengelola terpaksa mengubah komitmen mereka untuk mengunakan tempat ini hanya untuk kegiatan kegiatan budaya.Mulai tahun depan,mungkin orang sudah bisa menjumpai resepsi pernikahan disini.
__ADS_1
"Sayang sekali ya pak.Pasti image dan suasana
di tempat ini akan berubah",kataku menyesalkan,yang disetujui dengan berat hati oleh pak murjito.
Aku memang sangat mengenali tempat ini.Dulu,semasa kuliah dikota ini,aku sering menghabiskan waktu ku disini.Ku tengadahkan kepala ku di langit langit pendopo.Masih seperti dulu.Ada empat lampu kuno besar tergantung di tiap sudutnya.Di tengah langit langit melekat patung naga melingkar dari batu warna hitam pekat.Bisa ku bayangkan,betapa beratnya beban yang harus di sanggah langit langit itu.
hendak memotret beberapa bagian gedung itu.Aku mempersilakan karena memang tak ada lagi yang ingin ku tanyakan.
Yang ingin kulakukan justru menyendiri dan
__ADS_1
meneruskan lamunan ku.Dulu,setiap malam jumat kliwon,di gedung ini digelar pertunjukkan wayang kulit dengan dalang dalang yang sudah punya nama.Aku ingat,salah seorang temanku tak pernah melewatkan pertunjukkan itu,tidak seperti aku yang lebih suka sekadar nongkrong menghabiskan malam disini.Suatu malam,aku dan rischa temanku yang kini jadi polwan,menunggu dimulainya pertunjukkan teater sembari duduk duduk disini.Tepat dimana aku kini duduk.
Kami membeli susu jahe dalam plastik,lalu dengan asyik menyeruputnya."May,kamu berani tidak geletakan seperti orang itu?"Temanku menunjuk seorang lelaki yang sedang tidur telentang sambil memandangi langit langit pendopo.Saat itu,pendopo itu sepi,hanya ada kami dan lelaki itu.Orang orang lebih suka menunggu di gedung teater.
"Berani!"Tanpa banyak kata aku langsung tidur
telentang.Dinginnya lantai pendopo langsung menjalari punggung ku.Mataku langsung berhadapan dengan langit langit yang luas dan berbentuk prisma segi empat tumpul seperti pada umumnya bangunan bangunan beraksitektur joglo.Aku seperti tersedot ke atas.Aku merasa kecil sekali.
Ku lirik rischa.Dia pun melakukan hal yang sama.Akhirnya kami lupa pada tujuan semula untuk menonton,dan malah menghabiskan malam dengan ngobrol sambil tidur telentang di lantai pendopo.Baru beberapa saat kemudian kami ketahui bahwa orang yang kelakuannya kami tiru semalaman itu ternyata orang gila yang memang sering keluar masuk pendopo.Kami tidak bisa menahan tawa.
__ADS_1