Suatu Cinta

Suatu Cinta
03.


__ADS_3

Aku memberanikan diri menghampirinya setelah sekian menit menata hatiku yang mendadak seperti terlanda badai gurun.Apa yang sebenarnya sedang kulakukan?Hai,apa kabar?Halo!Masih ingat aku?Aku masih bingung memulai pembicaraan,dan sialnya,dia sudah keburu menyadari kehadiran ku.


"Selamat malam".Ah,akhirnya cuma ucapan standar itu yang keluar dari mulutku.Entah seperti apa wajahku saat itu.Yang ku perhatikan justru wajahnya yang menunjukkan rasa terkejut yang sangat meski dia berusaha setengah mati untuk menyembunyikannya.


"Yanti..."Dia masih memanggilku dengan panggilan yang sama.Hanya dia dan ayahku memanggilku Yanti.


Aku mencoba tersenyum."Rasanya tak percaya kamu bisa menjadi pelukis hebat",kataku dengan tenang.Aku bersyukur kata kataku ternyata mengalir lancar.Aku mengulurkan tangan.Dia menyambutnya.Perasaan hangat menjalari seluruh wajahku.Mungkin raut wajah ku yang memerah membuat ku terlihat seperti remaja belasan tahun yang baru mengenal laki laki.


"Bagaimana kamu bisa berada di sini?"Dia seolah olah mengabaikan kata kataku.


"Kebetulan aku membuat liputan budaya dan seni di kota ini,dan kebetulan aku melihat baliho pameran mu di depan".Aku menekan kata 'kebetulan' supaya dia tak menyangka aku memang sengaja datang ke sini.


Celaka.Dari matanya aku melihat pandangan tak percaya.

__ADS_1


"Sebetulnya aku tahu dari pak murjito",aku mengoreksi kebohongan ku dengan kebohongan lain."Dia yang memberitahu ku.Aku ingin tahu,apakah Aditya Rukma adalah kamu.Ternyata dugaan ku benar".


Dengan memberanikan diri,aku mengajaknya bicara di luar.Di luar sadar aku memilih pendopo yang hanya berjarak beberapa meter dari galeri.


Ketika kulihat ia memutar kepalanya,seperti mencari seseorang,aku menyela,"kamu keberatan?"


"Tidak,tapi tunggu sebentar",dia berbalik dan menghampiri seseorang,mungkin temannya,mungkin minta izin.Tak lama kemudian dia menghampiri ku lagi.Perasaan gugup ku mulai berkurang.Tampaknya,aku mulai


Di pendopo,untuk beberapa saat kami cuma saling berdiam diri.Tidak ada yang ingin memulai pembicaraan.Persis seperti dulu.Dia masih saja tidak banyak bicara.Akhirnya aku yang mengalah.


"Kamu belum cerita kenapa bisa jadi pelukis",kataku.


"Sebenarnya aku tidak berniat menjadi pelukis. Aku hanya senang menggambar.Ternyata setelah bertahun tahun lukisan ku menumpuk,jadi aku coba coba jualan",dia mencoba merendah.

__ADS_1


"Lukisan mu bagus",aku memuji."Aku memang tidak terlalu mengerti tentang lukisan,tapi dari banyak nya pengunjung datang,mestinya kamu sudah cukup terkenal di sini".


Dia hanya tersenyum.Sedetik matanya menatap ku,tapi setelah itu membuang pandangannya ke arah lain.Itulah salah satu hal yang tak kunjung ku mengerti.Kenapa dia tak pernah menatap lama ke dalam mataku bila kami bicara?Anehnya,aku pun tidak pernah tersinggung atau


merasa diremehkan karenanya.Aku tahu,sifatnya


memang pemalu dan sangat tertutup.Tapi aku tak pernah tahu apa yang tersimpan di balik ketertutupan itu.


Banyak teman ku yang tak percaya,saat aku sering wira wiri bersamanya,tak sekali pun dia


mengizinkan aku membuka tas kuliahnya,atau membiarkan ku melihat KTP nya.Bahkan,setiap kali aku menanyakan nama nama keponakan nya,ia tak pernah menjawab. Sesungguhnya,


tidak banyak yang ku ketahui tentang Adi. Selama dua tahun aku(merasa)menjadi orang terdekatnya,belum sekalipun aku diajak ke rumahnya,hampir tak mengenal keluarganya,apalagi yang tersimpan di hatinya. Dan aneh nya,aku tak pernah berhenti mencari tahu,juga tak pernah berhenti memikirkan nya.Bahkan setelah aku menikah.

__ADS_1


__ADS_2