
Baru setahun yang lalu aku menikah.Bukan karena ingin,tapi lebih karena harus.Aku memilih Mas Hari mungkin karena atribut yang melekat padanya.Mas Hari punya karier yang bagus,wajahnya tampan,dan sifat yang matang.Satu lagi,dia selalu bisa membuat ku tertawa.Ketika aku begitu sedih kehilangan calon bayi kami yang baru berumur dua minggu,dia tak henti hentinya menghiburku dengan berbagai cara.
"Setiap orang setidaknya pernah mengalami satu kisah pahit dalam hidup nya,dan kurasa kamu baru saja mengalami nya",begitu Mas Hari menghiburku.Dan aku memang terhibur.Saat kutanyakan dari mana dia mendapat kalimat indah itu,dia mengaku mengambil dari catatan ku.Aku memang punya kebiasaan menuliskan kembali kalimat kalimat yang menurut ku punya arti yang sangat dalam.Salah satu yang di kutipnya tadi berasal dari novel karya Mary Higgins Clark.
Mungkin Mas Hari merupakan impian setiap wanita.Termasuk aku yang beruntung di pilih nya.Tapi Adi juga mimpiku.Mimpi ku yang lain.Keberadaannya mampu membuatku meledak ledak dan seakan tidak pernah kehabisan energi.Aku bahagia bersama nya.Saat yang paling membahagiakan bukan ketika aku diberi,tetapi ketika aku bisa memberikan semua cinta ku untuknya.Dia bisa membuatku membara dalam pelukan nya dan kehangatan nya.
Tetapi cinta semacam itu pula yang membuat ku hancur suatu malam,setelah melewati pembicaraan dari hati ke hati yang sangat serius,tentang kelanjutan hubungan kami,dia meninggalkan ku.Aku tak pernah tahu apa yang menyebabkan nya tak pernah menemui ku lagi.Bahkan sampai aku harus pindah ke Jakarta karena lamaran kerja ku di terima,dia tak pernah muncul.Setelah itu,setiap kali aku memandang cermin,yang kutemukan hanyalah sepotong wajah yang selalu menyiratkan kesedihan dan kerinduan yang menyiksa,betapa pun aku mencoba tertawa.Mata yang cekung dan sembap karena kebanyakan menangis.Hebatnya,aku selalu menimpakan kesalahan hanya kepada diriku.Adi pergi karena salahku.
__ADS_1
Suasana masih saja kaku.Aku tak sabar lagi.Aku ingin segera menanyakan semua yang selama ini mengganggu hidup ku:
"Mengapa kamu tidak pernah datang lagi sejak malam itu?"
"Siapa yang ternyata bisa menggantikan aku dalam hidupmu?"
"Seperti apa dia?"
__ADS_1
Semua pertanyaan itu hanya melompat lompat di dalam benakku,dan mendesak ingin keluar. Tapi sekuat tenaga aku menahan diri.Ku pilih pertanyaan yang menurut ku biasa."Kamu pasti sudah menikah...."
Ah,rupanya pertanyaan itu terlalu terus terang. Aku langsung melarat nya,"Eh...,sudah lama sekali..."
Dia hanya tersenyum.Lagi lagi aku tak tahu apa artinya.Mataku mulai panas dan sebentar lagi mungkin mengalir air bening.Terulang lagi.Aku merasa diseret kembali ke masa lalu ketika aku merasa putus asa karena tak pernah bisa mendapatkan jawaban,sementara aku terus berusaha memaksanya bicara.Pernah aku menggoda nya dengan menyuruh nya ke dokter dengan keluhan kesulitan bicara.Itu dulu.Tapi sudah cukup.Kali ini aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.Kupandangi dia,bahkan aku bergeser duduk persis di depan nya.
"Aku ke sini karena ingin mencari jawaban yang selama tujuh tahun tidak pernah kudapatkan.Pertanyaan itu terus mendekam dalam hatiku,sementara aku tak pernah bisa menjawabnya sendiri.Aku hanya ingin tahu,kenapa sejak malam itu kamu tidak pernah datang lagi?"
__ADS_1
Dia tetap diam Aku mulai terisak.