
Perasaan aneh kembali memasuki relung hatiku.
Memang banyak kenangan manis disini.Tapi,tak sedikit pula yang akhirnya menyisakan keperihan yang tak kunjung hilang hingga sekarang.Berapa seringlah aku kesini bersama adi?Terlalu sering,sampai aku tak ingat lagi.Saat kami menonton pentas sodom dan gomorah bersamanya,dan aku merasa malu karena kedua pemainnya mengenakan selembar cawat minim?Saat kami mengunjungi berbagai pameran lukisan?Atau sekadar menonton anak anak kecil belajar menari klasik di sore hari?Rasa perih itu datang lagi.Kenapa terasa begitu perih?Kuharap malam nanti aku menemukan jawabannya.
Hari mulai beranjak siang dan kami harus segera kembali ke hotel.Ku hampiri Viktor,dan setelah berpamitan serta mengucapkan terimakasih kepada pak murjito,kami meninggalkan pendopo.Sempat ku lirik baliho besar di depan pintu gerbang.Sebenarnya,pameran inilah yang menjadi satu satunya alasanku kembali ke sini.
"Ada apa,mbak?"Viktor bertanya setelah
melihat perubahan raut mukaku.
"Sepertinya itu nama temanku.Lama aku nggak ketemu dia",jawabku sambil menunjuk baliho yang memuat tentang pameran lukisan.
Aditya Rukma.Baru seminggu yang lalu aku mengetahui keberadaannya melalui agenda Taman Budaya bulan ini.Di situ tercantum namanya.Di dunia ini banyak nama yang sama,tapi aku yakin yang ini adalah adi.
__ADS_1
Yang pertama kali mengusikku adalah pameran itu,yang membuatku terpaksa kembali menyusuri sepotong waktu di masa lalu.Adi pernah membawakan ku lukisan.Gambar danau yang sangat indah.Waktu kecil aku pernah diajak
nenekku tamasya ke telaga kecil di kaki gunung dieng.Telaga menjer namanya.Aku menceritakan pada adi bagaimana aku menangis
hanya karena membayangkan nenekku tenggelam di danau itu.Aku takut air.Menurutku,telaga selalu misterius dan angker.Seminggu kemudian lukisan itu aku terima,dan sejak itu untuk pertama kalinya aku tak takut lagi pada telaga.Bodohnya aku,lukisan itu ternyata hasil karyanya.
Aku tak salah lagi.Aditya Rukma adalah Adi.Aku langsung memutuskan untuk berangkat ke solo, dan memberi alasan ingin membuat artikel budaya tentang kota itu pada Bu vidi,atasan ku.
"Pelukis itu?"Agaknya Viktor sudah memahami
apa yang bergejolak di hatiku.Lamunanku buyar.
Aku terpaksa mengangguk.
__ADS_1
"Tolong bilang pada Bu vidi,aku pulang besok.
Tentang Mas Hari,biar aku sendiri yang menelepon",kataku.Aku harus menguak misteri yang mengusikku selama ini.
Sore harinya,Viktor sudah pergi,dan kini aku benar benar sendiri.Sesaat aku teringat Mas Hari.Mungkin tadi aku lebih baik pulang dengan Viktor.Aku gamang,merasa telah salah mengambil keputusan.Tetapi setelah apa yang kurasakan dalam kehidupan pernikahan kami selama ini.Hidupku mesti berlanjut.Sekaranglah saatnya aku menemukan jawaban.
Tahu tahu aku mendapatkan diriku sudah berada
di depan cermin kamar hotel ku.Ku perhatikan penampilan ku.Celana panjang hitam dan kemeja biru.Serasi.Rambutku yang selalu pendek tak terlalu bermasalah.Entah kenapa aku ingin terlihat secantik mungkin di mata Adi.
******
Aku tak terlalu lama mencarinya.Begitu memasuki ruangan ,mataku segera menemukan sosoknya di antara pengunjung.Dia masih seperti dulu.Sekilas aku tidak menemukan perubahan yang mencolok.Dia tetap tinggi dan ramping,dengan rambut ikal yang dipotong pendek seadanya.Penampilannya memang tidak terlalu rapi,tapi menarik.
__ADS_1