
Saat malam hari tiba, aku selalu keluar rumah dan menikmati heningnya malam. Cahaya bulan yang begitu lembut selalu bisa membuatku merasa sangat nyaman berada di kegelapan malam hari. Hingga pagi hari 'pun tiba, matahari terbit dari timur kemudian menyinari gelapnya kehidupanku.
Arief, seorang laki-laki pendiam yang mulai menginjak usia 16 tahun itu untuk pertama kalinya akan masuk ke sekolah SMA. Arief merupakan anak pertama dari pasangan Albert dan Sona, kini ia sekarang sedang berada di aula sekolah SMA barunya untuk merayakan masa Orientasinya.
Di aula, para siswa baru saling berkenalan satu sama lain namun, hal itu tidak berlaku untuknya. Tidak seperti yang lain, Arief hanya terdiam diri mengasingkan dirinya dari kerumunan orang ramai sambil membaca buku.
Jujur saja, tidak ada yang memperdulikan Arief yang duduk di pojokan sambil membaca buku dan bahkan Arief sendiri tidak perduli dengan mereka.
Semakin lama suasana di sana semakin ramai. Karena merasa tidak nyaman Arief memutuskan keluar halaman untuk mencari tempat sepi yang cocok untuknya. Seorang laki-laki yang berada di kerumunan ramai itu menoleh ke arah Arief yang tiba-tiba saja pergi, dari tadi laki-laki itu terus memperhatikan Arief hingga kemudian Arief pergi
"Senyum laki-laki itu sambil menoleh ke arah Arief"
Rasanya, masa orientasi adalah hal yang paling Arief benci karena dimana-mana pasti saja ramai dan tidak ada tempat yang sepi untuk dirinya. Dia awalnya berniat untuk berbalik arah, tapi tanpa sengaja pandanganya itu jatuh ke salah satu wanita yang tengah berada di kerumunan dekat denganya.
Pandangan Arief tidak bisa lepas, pipinya seketika memerah tanpa sebab yang jelas.
Duar… suara ledakan balon yang mereka pecahkan, kembali menyadarkan Arief yang tengah sibuk memandangi wanita itu.
"Ahh, ada yang gak beres denganku sekarang" ucap Arief menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian Arief melanjutkan perjalananya mencari tempat yang sepi.
Dia maju beberapa langkah berbalik arah ke arah dan melanjutkan perjalananya mencari tempat sepi yang cocok untuk dirinya.
Bruk... seorang kakak kelas tiba-tiba saja menabraknya dengan sengaja. Bukanya meminta maaf, dia malah mengomeli Arief yang menabraknya sambil menarik-narik kera baju Arief
"Lu mau gua hajar, hah?" ucap kakak kelas itu dengan menarik-narik kera Arief.
"Udah sikat aja" ucap teman si kakak kelas itu menyuruhnya untuk menghajar Arief
Buak... kakak kelas itu memukul Arief hingga membuatnya terluka dan terbaring jatuh ke tanah. Seketika, hal itu menarik perhatian orang di sekitar mereka. Wanita yang dari tadi di pandangi Arief kemudian datang dengan membawa seorang guru bersamanya. Yang di lakukan Arief hanya terus-terusan memandangi wanita itu, apalagi dia sekarang berada di dekatnya.
"Baunya, dia wangi banget" ucap Arief dalam batinya yang terus-terusan memandangi wanita itu dengan kagumnya
__ADS_1
"Lu kenapa?" Wanita itu bertanya pada Arief yang memandanginya terus menerus tanpa henti.
"Oh, gak kok" setelah ditanya, Arief tersadar dan berusaha mengalihkan pandangan yang awalnya tidak bisa lepas itu.
Arief dibawa ke ruang UKS untuk diobati luka di hidungnya itu. Setelah selesai membawa dan mengobatinya, wanita itu langsung pergi dan sialnya. Arief malah langsung membiarkanya pergi tanpa menanyakan namanya. Padahal, dari awal dia sudah kepikiran untuk menanyakan namanya itu.
"Yah, kalo gitu gua pergi dulu ya" pamit cewek itu ke Arief
"Ah, tunggu dulu" tanya Arief
"Apaan?" Jawab wanita itu
"Eng, makasih" ucap Arief berterima kasih pada wanita itu dengan wajah memerah sambil mengarahkan bola matanya kebawah karena tidak ingin terjebak lagi dalam pandanganya.
"Oh, oke dan lagi satu, acara di ruangan aula udah mau mulai. Buruan lu kesana" jawab wanita itu, lalu pergi meninggalkanya.
"Kayaknya ada sesuatu hal yang lupa aku tanya deh, tapi apaan ya" pikir Arief dalam batinya
Arief 'pun pergi kembali ke aula sekolah. Arief memilih bangku di paling pojok kemudian duduk disana sambil menunggu acaranya selesai.
"Alya silakan maju kedepan" panggil guru itu lalu
menyuruhnya naik ke atas panggung untuk menampilkan acara pembukaan
"Dia, dia 'kan?" Ucapnya dalam batin Arief menunjuk-nunjuk wanita itu
Dengan mempersiapkan seperangkat biola dan sebuah mig, Alya kemudian mulai menyanyikan lirik lagu pertamanya.
▪When you hold me in the street
▪And you kiss me on the dance floor
__ADS_1
▪I wish that it could be like that
▪Why can't it be like that?
▪Cause i'm yours
Berbeda dengan orang lain, air mata Arief satu per satu keluar saat mendengar lirik pertama dari lagu itu. Dan yang membuatnya tidak habis pikir, kenapa air matanya bisa keluar tanpa henti-hentinya.
Semakin lama mendengarnya, semakin banyak air matanya yang keluar tanpa henti. Karena sudah tidak tahan, Arief keluar dari ruang aula menuju toilet dan segera membersihkan air matanya.
"Aku baru tahu, kalo ternyata aku ini cengeng" ucap Arief di kamar mandi
Semua penonton termasuk para guru bersorak dengan tepuk tangan yang meriah atas penampilanya. Alya 'pun kembali ke tempat duduknya dengan senyuman indahnya
"Keren abis deh, lu di atas panggung" ucap Dina salah satu temanya saat SMP dulu
"Baru liat aja udah jadi jatuh cinta gua, siapa tadi namanya ya" ucap salah satu cowok yang menyaksikan Alya di atas panggung
"Emn, kalo diliat-liat cantik juga dia ya. Kalo gua yang nembak duluan lu gak bisa protes ya" ucap salah satu cowok yang menyaksikan Alya di atas panggung
"Gak bakalan, gua duluan yang bakal nembak dia" ucapnya tidak mau kalah
"Hahaha, jadi saingan nih" ucap lagi salah satu cowok yang tidak mau kalah
"Eh?! Lu juga ikut-ikutan suka sama dia?" sahut mereka dengan terkejut sambil menunjuk-nunjuk jari mereka
Dikamar mandi, Arief tengah memikirkan gadis itu tanpa disadarinya.
"Jadi namanya Alya ya" ucapnya sambil tersenyum pada dirinya sendiri di cermin kamar mandi
"Gak, gak, gak, mustahil ini terjadi" ucapnya sambil menggelengkan lagi kepalanya
__ADS_1
"Gak bakal, mana mungkin aku jatuh cinta" ucapnya berusaha mengelak perasaanya
Arief terus menerus mengoceh dan bertanya pada dirinya sendiri dalam batinya kalau dia tidak sedang dalam yang namanya jatuh cinta. Dia terus menerus memikirkan soal ini dan berusaha mengelak cintanya ini hingga larut malam tiba.