
an Masa Lalu
Kupikir, semua rencanaku akan berjalan dengan begitu mudah. Namun, aku salah. Ujian ini lebih berat dari yang kukira. Pasalnya, Mas Rendy selalu menambah nasi setiap harinya. Bahkan, uang yang kugunakan sampai melebihi batas harian.
Ah, sial! Laki-laki itu pasti sengaja melakukan ini padaku! Aku tidak ingat dia rakus pada makanan sebelum ujian ini dimulai.
“Masakanmu enak,” begitulah alasannya.
Apa aku akan percaya? Makanan yang dibuat orang yang mahir bisa kalah dengan jangan asemku.
Tidak bisa. Ini kan, namanya curang. Aku harus mengatakan keberatanku padanya.
Saat aku memasuki kamar Mas Rendy, aku melihatnya sibuk menata sesuatu di atas ranjang. Lampu padam dan kain kelambu belum dibuka. Kenapa Mas Rendy menyukai suasana temaram begini?
“Uangmu kan, banyak. Masak, cuma buat bayar listrik lampu aja enggak bisa,” kataku sembari menekan tombol saklar lampu.
Ruangan pun terang. Aku bisa melihat Mas Rendy sudah menghentikan kegiatannya dan menghadap padaku. “Aku lebih nyaman dengan suasana redup,” katanya membela diri.
“Bilang aja kamu pelit!”
“Aku bukannya pelit. Tapi, aku menghargai kerja kerasku. Aku bukan bekerja keras untuk hal-hal yang enggak berguna.”
“Emangnya, hal berguna apa yang udah kamu dapatkan? Bahkan, enggak ada yang istimewa dari rumahmu.”
“Kamu.”
“Apa?”
“Kalau bukan karena kerja kerasku, mungkin sekarang kamu masih dikejar-kejar pemilik angkot atau anak buah rentenir yan bisa mencincangmu kapan aja.”
Aku tertohok. Mas Rendy memang pandai membuatku bungkam.
__ADS_1
Kudengar suara ritsleting menutup. Kemudian Mas Rendy berjalan melewatiku untuk meletakkan kopernya di samping lemari cokelat. Dia segera berbalik dan berjalan mendekatiku.
“Besok aku ada perjalanan bisnis selama tiga hari. Aku akan berangkat nanti malam. Kamu enggak keberatan kan, kalau sendirian?”
“Justru, aku berharap begini aja selama sebulan ini.”
Aku pun pergi dari kamar itu menuju kamarku sendiri. Ruangan sempit yang menjadi satu-satunya tempat yang bisa kugunakan untuk bernapas.
Ah, iya. Aku lupa untuk mengatakan keberatanku pada Mas Rendy. Tak apalah. Lagi pula, kepergiannya selama tiga hari ini, bisa membayar kelebihan uang belanjaku sebelumnya. Aku akan belanja mi instan dan hanya memakannya selama itu.
Ah, nikmatnya. Sudah lama aku tidak memakannya.
-oOo-
Akhirnya, Mas Rendy pergi setelah mengantarku belanja mi instan. Dia sempat melarangku. Katanya, mi instan tidak sehat. Namun, aku terus memaksa. Lagi pula, aku hanya memakannya selama tiga hari, bukan sebulan apalagi setahun. Dia hanya terlalu berlebihan.
Kini, aku sendirian di rumah ini. Bebas melakukan apa pun, tetapi tidak bisa keluar sekali saja. Mas Rendy telah mengunci pintu utama.
Aku mengawali hari kebebasanku dengan bermalas-malasan. Senang sekali karena tidak ada yang membangunkanku di pagi hari. Sayangnya, semakin lama aku tidak bisa menikmati mimpiku. Baru beberapa detik mata ini terpejam, segera terbuka lagi.
Entah, bagaimana aku bisa makan mi dalam jumlah banyak, sedangkan mengisi nasi ke dalam perut hanya dengan beberapa sendok nasi saja.
Waktu terus berlaru. Aku sudah bangun dan aku sudah makan. Namun, aku tidak bisa melakukan apa pun. Tidak ada apa-apa di rumah ini yang bisa menarikku. Di kamar Mas Rendy hanya berjajar majalah bisnis. Sedangkan televisi hanya menampilkan sinetron dengan konflik berbelit-belit.
Aku trauma dengan sinetron seperti itu. Aku pernah menyukai salah satu sinetron seperti itu. Awalnya bagus. Semakin lama, konfliknya semakin berbelit-belit, entah mau dibawa ke mana. Judulnya begini, jalan ceritanya begitu. Aku berusaha tetap bertahan, karena kupikir, akhir cerita akan selesai segera. Tak lama, tokoh utama laki-laki malah meninggal.
Apa ini sejenis sad ending? Bukan. Ceritanya bahkan belum berakhir. Entah, masih mau dibawa ke mana lagi. Membuatku bertanya-tanya, apa yang sebenarnya kutonton selama ini?
Andai ada satu novel saja, mungkin hidupku tidak akan sesuram ini.
Aku masih duduk di atas ranjang Mas Rendy. Bau wangi tubuhnya yang kerap menempel di seprai masih tercium hidungku. Seolah-olah, Mas Rendy tidak pergi dan tetap di dekatku.
__ADS_1
Perhatianku kusapukan ke sekitar. Semua masih sama. Sayangnya, justru keheningan yang menemaniku.
Aku sendirian di tempat ini.
Tiba-tiba, sesuatu masuk ke pikiranku. Aku bangun dan bergegas ke nakas. Menarik lacinya satu per satu untuk menemukan sesuatu.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kucari. Karena Mas Rendy tidak akan segera kembali, kupikir aku bisa mencari sesuatu di sini. Sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk siapa Mas Rendy sebenarnya.
Aku tidak menemukan apa pun di nakas. Jadi, aku beralih ke lemari. Di sana ada sebuah laci yang terkunci. Namun, kuncinya tidak tersimpan di sana. Membuatku semakin penasaran saja. Jadi, aku mulai menggeledah seluruh bajunya.
Aku telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk ini. Sial sekali! Aku tidak mendapatkan apa pun di seluruh tumpukan baju itu.
Kelelahanku membuatku merasa putus asa. Sudah ogah mencari lagi. Kuyakin tidak ada apa pun yang bisa kudapatkan sampai perhatianku terjatuh pada ranjang.
Aku ingat, sewaktu kecil, aku sering melihat ibuku menyembunyikan sesuatu di bawah ranjang agar ayahku tidak mengetahuinya.
Aku pun bangkit dan mendekati ranjang itu. Ibuku manusia dan Mas Rendy juga manusia. Kami memiliki perbedaan juga persamaan. Mungkin saja, mereka berdua memiliki kesamaan dalam hal ini. Aku pun mengangkat ranjang di sana. Berat. Namun, aku bisa memuaskan diriku dengan kunci yang kutemukan.
Aku mengambil kunci itu dengan begitu bangganya. Cepat-cepat menuju lemari untuk membuka laci itu.
Laci itu tidak berisi sesuatu yang istimewa. Karena di sana, aku hanya menemukan sebuah kalung berliontin seperti permata dan dua lembar foto.
Laki-laki di foto itu seperti Mas Rendy semasa mudanya. Sedangkan di sampingnya ada perempuan berambut pendek, yang wajahnya tidak begitu asing. Hanya saja, aku kesulitan mengingatnya. Namun, bukan foto itulah yang membuatku terkejut. Melainkan wajah ayahku yang terpampang di foto berikutnya.
Aku mendekatkan kedua alisku sampai mataku menajam. Memperhatikan foto itu dengan saksama, barangkali aku salah mengenali. Namun, tidak. Laki-laki paruh baya yang merangkul Mas Rendy semasa mudanya adalah ayahku. Latar tempat mereka di depan sebuah counter(1) kafe.
Kenapa mereka bisa beradu dalam satu foto? Bagaimana mereka bisa saling mengenal?
Apa hubungan mereka juga ada hubungannya dengan pernikahan kami?
Apa mungkin, Mas Rendy sudah mengenalku sebelum pertemuan kami?
__ADS_1
-oOo-
Counter adalah meja panjang yang biasanya ada di kafe atau bar. Tempat barista maupun bartender mengolah minumannya.