
“Apa yang kamu lakukan?”
Aku tertegun mendengar pertanyaan Mas Rendy.
Memangnya apa yang sudah kulakukan?
Aku hanya mengikuti cara yang kudapatkan dari google untuk membuat Mas Rendy jatuh hati padaku. Bukan cengkeraman kuat pada tanganku. Ini menyakitkan.
Embusan napas Mas Rendy jatuh menimpa wajahku. Aku menjadi gugup. Apalagi, dengan posisi ini ….
“A-aku hanya tidur.” Aku berusaha mengangkat suaraku meski terseret-seret.
“Tidur, tidurlah. Lalu, ada apa dengan penampilanmu?”
“Apa kamu menanyakannya karena tidak mengerti?”
Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena kegugupanku atau intonasi suara Mas Rendy yang tidak terdengar ramah atau pun dingin seperti biasanya. Rasanya aku ingin menangis.
“Aku udah bilang, jangan melakukan hal yang enggak berguna.” Mas Rendy menekan setiap kata-katanya, sedangkan tekanan pada tanganku semakin kuat.
“A-aku mencintaimu. Apa salahnya kalau aku berusaha membuatmu membalas cintaku? Kamu enggak pernah melarangku.”
“Karena kupikir kamu akan langsung menyerah!” Mas Rendy meneriakiku.
Sial! Aku tidak bisa menahan tangisku.
Keheningan yang menguasai sejenak, hanya diisi rintihan. Perlahan, genggaman pada tanganku merenggang. Mas Rendy menjauh. Kini, dia duduk di tepi ranjang dengan membelakangiku
“Maaf.” Suara itu keluar lirih. Aku masih bisa mendengarnya meski sedikit terganggu oleh suara tangisku.
Aku tetap dalam kediamanku. Tidak tahu harus mengatakan apa.
“Aku … aku hanya takut benar-benar jatuh cinta padamu.”
Aku tidak salah dengar, kan?
Aku kembali dalam kediamanku. Suaraku tidak bisa keluar tertahan air mataku.
Mas Rendy bangun. “Aku bukan orang yang boleh mencintai perempuan lain, termasuk dirimu.”
Aku langsung bangun.
“Jadi, kamu ingin aku menyerah?” Ucapanku berhasil menghentikan langkah Mas Rendy.
“Iya.” Hanya itu jawaban Mas Rendy. Kemudian dia melanjutkan langkahnya pergi. Entah ke mana perginya di di malam begini. Aku tidak bisa memikirkannya karena aku disibukkan patah hatiku.
Aku melipat kedua lututku dan memeluknya. Menyembunyikan tangisku di dalam sana.
“Apa aku sungguh harus menyerah? Tapi kan, masih ada satu kesempatan lagi bagiku.”
-oOo-
__ADS_1
“Kamu mau ke mana?” Suara itu terdengar dingin.
Setelah berhari-hari hanya saling sapa dalam kediaman, akhirnya Mas Rendy melontarkan pertanyaan padaku.
Aku berbalik. Kemudian kubuang arah pandanganku ke samping. “Aku enggak akan kabur sampai akhir bulan.”
“Kamu masih jadi istriku sampai akhir bulan. Jadi, aku berhak tahu ke mana kamu akan pergi.”
“Berkencan.”
“Apa?”
“Kataku tadi enggak mungkin masih enggak jelas.”
“Apa-apaan kamu? Kita bahkan belum bercerai.”
“Pada akhirnya, kita akan bercerai.”
“Ini bisa disebut perselingkuhan.”
“Yang melakukan aku. Kenapa kamu yang keberatan?”
“Apa kamu enggak keberatan?”
“Daripada aku hidup sendiri setelah bercerai darimu, lebih baik aku menikahi siapapun yang mau menikahiku. Itu lebih baik daripada aku harus mencopet dan lari dari kejaran warga.”
“Siapapun? Pernikahan bukan sesuatu yang remeh.”
“Kalau enggak cocok kan, tinggal cerai. Bukannya ini caramu?”
Tidak ada yang dijelaskan lagi. Jadi, aku pun melangkah pergi.
Di luar, kulihat awan begitu mendung. Sebentar lagi akan turun hujan. Sialnya, aku mengenakan kaus putih yang kupadukan rok hitam. Aku tidak mungkin kembali setelah mengatakan semua hal dengan begitu angkuh. Aku pun tetap melanjutkan langkahku.
Aku berjalan tanpa tujuan. Hanya berjalan. Lagi pula, aku tidak memiliki uang banyak untuk membayar taksi.
Sebenarnya, aku berbohong. Tidak ada kencan atau pun menikah dengan laki-laki mana pun. Setelah perceraian ini, mungkin aku tidak akan pernah menikah lagi. Menyebalkan! Pernikahan tanpa alasan, begitu pun dengan perceraian. Seolah puncak impian banyak pasangan sekadar lelucon bagi Mas Rendy.
Aku keluar rumah karena muak dengannya. Aku ingin menghirup udara segar. Jika ada seorang laki-laki yang mau melirikku dan mengantarku pulang, itu lebih baik. Akan sangat baik kalau Mas Rendy juga terpengaruh karena itu.
Ah, sial! Hujan jatuh begitu saja. Deras. Membuatku tidak sempat melindungi diri.
Jauh di depanku ada seorang laki-laki berpayung yang melambaikan tangannya padaku. Dia juga menunjuk emperan toko di depannya. Aku menyipitkan mataku. Apa dia melambaikan tanganku? Apa dia mengenalku? Kenapa aku tidak?
Ah, entahlah. Aku hanya tahu kalau aku harus ikut berteduh bersamanya.
Baru saja kakiku terangkat, gerakanku langsung dihentikan kedua tangan yang kini memegang lenganku. Aku melirik. Rupanya, sebuah jas hitam sudah tersampir di pundakku.
Bau ini ….
Aku langsung menoleh.
__ADS_1
“Apa kamu akan menemui laki-laki itu dengan kaus ini?”
“Mas Rendy.” Aku terperangah.
Mimpi apa yang bisa menarikku masuk di kala hujan mengguyurku.
Ini kenyataan.
“Lain kali, jangan mengenakan baju berwarna putih. Apalagi, kalau kamu enggak bawa payung.”
Mas Rendy terlihat khawatir padaku. Melihat kerutan erat pada dahinya, amarahku yang tadi luruh bersama air hujan yang mengalir turun dari wajahku.
“Aku … aku enggak akan menemui laki-laki mana pun. Aku enggak kenal dia.” Aku menunjuk ke belakang.
“Lalu, apa maksud kata-katamu tadi?”
“Aku hanya ingin membuatmu cemburu.”
“Udah kubilang, jangan melakukan sesuatu yang enggak berguna.”
“Pada akhirnya, kamu datang, kan?”
“Aku bukan datang karena cemburu.”
“Jadi, aku benar-benar harus menemui laki-laki itu, kan?”
Aku hampir mundur. Namun, Mas Rendy langsung menahanku dengan memeluk punggungku. Dia mendekatkan wajahnya padaku. Sehingga napasnya yang terasa hangat menabrak wajahku.
“Apa kamu akan terus mengujiku?” Suaranya menjadi lirih.
Aku tidak memberikannya jawaban. Aku masih tertegun. Mas Rendy benar mengejarku, memelukku, dan mengatakan sesuatu padaku.
Untuk sejenak, hanya hujan yang bersuara. Kami tetap dalam kediaman. Sampai pelukan ini terasa merenggang dan Mas Rendy benar-benar melepaskanku. Tiba-tiba dia berlari ke depan.
Aku tidak sempat membebaskan napasku yang baru saja terikat kegugupanku. Aku langsung berbalik. Laki-laki yang tadi berada di depan dengan melambaikan tangan padaku sudah tidak ada lagi. Namun, bukan itu yang membuatku keheranan. Melainkan tingkah Mas Rendy yang seperti orang gila. Dia histeris. Berlari ke sana kemari dengan meneriaki sebuah nama, “Sarah!”
Sarah? Siapa dia?
Mas Rendy berbalik. Dia kembali mendekatiku.
“Apa kamu melihat perempuan berambut pendek tadi?”
“Siapa?”
“Sarah. Istriku.”
Seketika aku mematung di tempat. Pikiranku membeku. Sehingga aku tidak bisa mendengarkan pertanyaan apa saja yang Mas Rendy berikan. Semua hanya menjadi dengungan yang mengusik gendang telingaku.
Istri?
Apa maksudnya, Mas Rendy sudah menikah sebelumnya?
__ADS_1
Lalu, apa aku selama ini?
-oOo-