Super Husband

Super Husband
28. Belum Menyerah


__ADS_3

“A-apa yang kamu lakukan?” Mas Rendy menyentuh pundakku. Berusaha melepaskan pelukanku. Namun, aku justru mengeratkannya. Bahkan, aku mengunci kuat-kuat kesepuluh jari tanganku.


“Lepaskan! Aku harus ke restoran sebentar lagi!”


Aku menggelengkan kepalaku yang menempel di atas dadanya. “Aku enggak mau,” tolakku.


“Pantas aja sedari tadi kamu kelihatan aneh. Sebenarnya, apa sih maumu?”


“Aku mau membuatmu jatuh cinta.”


Mas Rendy tak memberikanku jawaban lagi. Dia juga melepaskan tangannya dari pundakku. Kini, tangannya menggantung di bawah.


Keheningan berkuasa selama beberapa waktu. Membuatku keheranan karena Mas Rendy tak memberikan reaksi apa pun atas tindakanku. Aku pun merenggangkan pelukanku. Hanya memegang kedua sisi punggung Mas Rendy. Aku mendongak untuk melihat wajah yang berada di ketinggian atas kepalaku. Tiba-tiba tanganku terlepas sempurna. Mas Rendy mendorongnya. Kemudian mundur beberapa langkah.


“Usahamu sia-sia. Aku enggak tertarik sama perempuan aneh,” katanya begitu dingin.


“Katamu, butuh waktu untuk membuat seseorang mencintai sepanjang hidupnya. Sekarang, aku hanya berusaha untuk membuatmu mencintaiku sampai sisa akhir bulan ini.”


“Lakukan aja terserahmu. Tapi, aku enggak akan pernah tertarik sama perempuan lain mana pun, dan itu termasuk kamu.” Mas Rendy mengangkat telunjuknya padaku. Kemudian bergegas pergi meninggalkan kamar ini.


“Aku bukannya membuang waktuku untuk hal yang enggak berguna. Tapi, berusaha untuk membuatmu mencintaiku!” jelasku. Sayangnya, Mas Rendy telah lenyap oleh belokan.


Aku kembali lemas. Langkahku mundur sehingga menabrak ranjang. Lututku yang tak bertenaga akhirnya membuatku lunglai di atas ranjang.


“Apa aku ditolak lagi?” gumamku.


Aku berusaha menenangkan diriku. Tidak mau sampai air mata ini terjatuh apalagi sampai putus asa. Aku tidak mau menyerah. Ini masih langkah pertama. Setidaknya aku harus berusaha tiga kali.


… dan ini masih tersisa dua kesempatan lagi.

__ADS_1


Aku melirik tajam pada pintu yang masih terbuka itu. Pintu yang hanya menghadirkan kekosongan. Dalam mataku, tergambar bayangan Mas Rendy yang berdiri di sana.


“Kamu sangat yakin enggak akan jatuh cinta padaku. Tapi, kamu enggak pernah larang aku untuk berusaha membuatmu jatuh cinta. Tunggu aja, Mas Rendy. Akan kubuktikan kalau keyakinanmu adalah salah.”


Aku beranjak dari ranjang itu. Turut keluar menuju kamarku sendiri. Aku kembali menggali beberapa informasi dari google. Sampai perhatianku tertarik pada sebaris judul artikel: Antara Gairah dan Cinta.


Aku membuka artikel itu. Kemudian tersenyum. Sangat puas dengan isinya.


Baiklah, Dinda. Perjuanganmu akan diuji di sini.


-oOo-


“Ka-kamu ngapain di sini?”


Baru saja keluar dari kamar mandi, Mas Rendy langsung mengangkat telunjuknya padaku dengan ekspresi ketakutan.


Rambutnya basah dan tubuhnya terlihat segar habis terguyur air. Dia mengenakan celana abu-abu yang dipadukan kaus hitam, dengan tangan sibuk mengeringkan rambutnya yang berkilau karena pantulan lampu.


“Biasanya kamu tidur di kamarmu sendiri.”


“Aku kan, masih istrimu. Berarti ini juga kamarku.”


Mas Rendy tak lagi bisa bicara. Dia mengabaikanku. Kemudian pergi ke cermin untuk menyisir rambutnya setelah menaruh handuknya.


Tiba-tiba Mas Rendy berbalik. Dia melihat ke arahku dengan ekspresi keberatan.


“Lalu, ada apa dengan gaya baju tidurmu itu?” Mas Rendy menunjukku dengan telapak tangannya.


Aku melihat diriku dengan wajah luguku. Kini, aku sedang mengenakan baju tidur komono dengan panjang selutut. Apa yang salah?

__ADS_1


Oh, ya. Aku lupa harus meletakkan paha kananku di atas paha kiriku. Aku pun melakukannya. Kini, lengkaplah sudah.


“Aku mengenakan baju tidur karena aku mau tidur,” jawabku.


“Terus, lipstikmu?”


Aku menyentuh bibirku dengan ibu jariku. Terdapat jejak merah di sana.


Ah, sial! Rupanya, aku mengenakan lipstik merah terlalu tebal. Ini semua gara-gara artikel yang kubaca tadi. Artikel itu memberikanku cara-cara untuk membuat laki-laki bergairah. Namun, aku justru melihat diriku jadi begitu aneh.


“Kamu jangan melakukan hal-hal yang enggak berguna lagi!” Mas Rendy menegaskan.


Aku mengulas senyumku. Berusaha melupakan ketidaknyamanan ini. “Baik, Mas,” kataku dengan suara mendayu-dayu.


Mas Rendy berjalan dengan kepala bergeleng-geleng. Dia melewatiku begitu saja dan lekas menaiki ranjang. Kemudian menarik selimut dan tidur.


Apa-apaan ini?


Apa dia sama sekali tidak melirik usahaku?


Ingin sekali kuluapkan kesebalanku. Entah dia memang tidak mengerti atau dia tidak bisa menghargai. Aku berdengus. Kelelahan sendiri. Namun, aku tidak mau merusak suasana tenang ini dengan perdebatan. Aku pun menaiki ranjang dan turut membaringkan diri tepat di samping Mas Rendy.


… sangat dekat.


Aku belum terpejam, tetapi Mas Rendy membuatku serasa di dalam mimpi. Tiba-tiba dia sudah berada di atasku dengan mencekal kedua tanganku. Mataku mendelik. “Apa yang kamu lakukan?”


“Apa yang kamu lakukan?”


Mas Rendy justru membalikkan pertanyaanku.

__ADS_1


-oOo-


__ADS_2