
Keheningan menguasai ruangan setelah kuungkapkan isi hatiku. Mau bagaimana lagi? Aku tidak mau disiksa perasaanku karena ketakutanku.
Sejak dulu, hanya orang berani yang bisa mendapatkan keinginannya.
Mas Rendy mengangkat senyumnya lagi setelah turun sejenak. “Apa kamu membutuhkan sesuatu yang lain? Kalau kamu butuh pembagian harta gono-gini, aku bisa membelikanmu rumah besar nantinya. Bahkan, akan kusewakan pembantu rumah tangga juga.”
Entah Mas Rendy tidak mengerti atau sekadar pura-pura tidak mengerti. Dia bertingkah tidak cerdas seperti biasanya.
“Aku enggak mau bercerai sama kamu,” tegasku. Seharusnya, ini sudah jelas. Jika Mas Rendy masih menanyakan sesuatu, aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Kita akan bercerai.” Mas Rendy ikut menegaskan.
“Tapi, aku enggak mau!”
“Bukan aku yang memutuskan untuk menyetujui tantangan ini.”
“Kalau gitu, aku akan menggagalkan diriku.”
“Berarti kamu mengorbankan tanggung jawabmu.”
“Kalau gitu, kenapa kita enggak sama-sama setuju buat melupakan kesepakatan ini aja? Lalu, sama-sama kita bangun kehidupan baru. Aku sungguh ingin hidup bersamamu, Mas.”
“Sayangnya, aku sama sekali enggak mencintaimu.”
Aku tertohok. Kalimat terakhir Mas Rendy menusuk bersama tatapannya yang telah menjadi dingin. Senyumannya telah pudar sedari tadi. Kini, Mas Rendy kembali membaringkan dirinya dengan membelakangiku.
Tubuhku bergetar menyadari penolakannya padaku. Aku diliputi rasa malu. Pikiranku bingung. Bagaimana wajah ini harus kutampakkan esoknya.
Aku bangun. Aku tidak tahu apa pun. Aku hanya tahu bahwa aku harus pergi untuk saat ini. Menjauhkan diri sejenak dan memeluk tangisku dalam selimut.
Aku bingung dan aku malu. Namun, bukan dua hal itu yang membuatku semakin runyam. Melainkan bayang-bayang perpisahan yang akan terjadi dua minggu lagi.
Mas Rendy sudah berulang-ulang memberikan larangannya padaku, agar aku tidak menjatuhkan hatiku padanya. Namun, aku harus bagaimana? Semua ini terjadi begitu saja tanpa kuputuskan.
-oOo-
“Tujuh cara membuat laki-laki jatuh cinta.”
Apa benar ada yang seperti itu?
Jika ada, mungkin para perempuan tidak akan kesulitan mendapatkan laki-laki yang disukainya. Lagi pula, memangnya ada yang lebih baik dari pelet?
Aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Karena kakiku tengah berpijak di atas zona putus asa. Aku pun membaca kelanjutan artikel yang kudapatkan dari google. Sesekali mengangguk seolah mengerti.
Aku puas membacanya. Namun, aku tidak yakin bisa melakukannya. Mau bagaimana lagi? Aku sudah didesak keputusasaan dari diriku.
Ini gila! Namun, aku harus melakukannya!
Aku bangun dari ranjangku. Kemudian bergegas ke dapur dan memulai kegiatan memasakku. Mas Rendy biasanya datang saat masakan telah tersaji tanpa kupanggil. Seolah-olah, dia sudah bisa menerka atau sudah terbiasa.
Sebenarnya, aku tidak membutuhkan waktu lama untuk memasak akhir-akhir ini. Hanya memasak nasi dan mi instan yang tersaji dalam lima menit. Setelah masakan tertata di atas meja, seperti biasa Mas Rendy datang. Dia langsung duduk tanpa menyapaku. Ini sudah terjadi sejak pengakuanku malam itu.
Mas Rendy sudah mengangkat sendoknya dan mulai menelan nasi. Namun, tidak dengan diriku. Aku hanya mengangkat sendokku, tetapi tidak menggerakkannya. Aku teringat tips yang diberikan artikel tadi.
__ADS_1
1. Lakukan kontak mata.
… jadi, aku hanya menatap Mas Rendy selama dia makan.
Setelah beberapa waktu, akhirnya Mas Rendy berhenti menggerakkan sendoknya. Kini, dia melihatku. Sepertinya, langkah pertamaku berhasil. Mas Rendy mulai tertarik padaku.
2. Tersenyum.
Aku pun menaikkan kedua sudut bibirku.
Ah, sial! Tiba-tiba aku teringat pada pipiku yang bundar ini. Apa senyumku tidak akan terlihat buruk di matanya?
“Ada apa?” Akhirnya, Mas Rendy membuka suara.
3. Buat dia merasa spesial.
“Aku hanya ingin tahu bagaimana pendapatmu tentang masakanku. Aku memasak mi instan ini spesial buat kamu, lho,” balasku.
“Spesial? Aku enggak lihat ada yang berbeda dari mi ini?”
4. Bersikap tertarik dan selalu mendengarkan.
“… untuk membuatnya menjadi spesial, setidaknya tambahkan telur.”
“Mas Rendy mau telur?”
“Enggak. Aku cuma menjelaskan aja.”
Aku bangun hendak kembali ke dapur. Namun, Mas Rendy langsung mencekal tanganku.
“Enggak usah!”
Aku berbalik.
“Aku bisa makan ini aja.”
Aku merasa malu. Sepertinya, ketujuh cara ini mulai ampuh. Karena ketujuh cara ini, Mas Rendy mau melihatku, mau berbicara padaku, dan kini memegang tanganku. Tersisa tiga cara lagi dan Mas Rendy akan luluh padaku.
Aku mengulas senyumnya. “Baik, Mas.” Suaraku terdengar begitu lembut.
“Apa hanya aku yang merasa ada yang berbeda darimu?” Mas Rendy menyipitkan matanya padaku.
Aku tertawa sangat pelan sampai terdengar seperti bunyi kuntilanak dan menutup mulutku dengan tangan kananku. “Cuma perasaanmu aja,” elakku.
Mas Rendy melepaskan tanganku. Aku pun duduk kembali ke kursiku.
“Kalau gitu, lanjutkan makannya.” Mas Rendy menunjuk makananku dengan telapak tangannya.
Aku mengangguk pelan.
5. Tunjukkan bahwa dirimu orang yang manis.
Aku pun memulai kegiatan makanku dengan mengangkat sendokku yang hanya berisi kuah. Kemudian menguyup sangat pelan agar mulutku tidak terbuka lebar. Begitu pun dengan nasi. Aku hanya mengisi sendokku seujungnya saja. Kemudian menguyupnya yang sudah tercampur dalam kuah.
__ADS_1
“Kenapa kamu makan sedikit sekali?” Mas Rendy menanyakanku. Kulihat, makanannya telah habis.
“Aku cuma makan. Emangnya biasanya gimana?”
Mas Rendy kembali menyipitkan matanya padaku. “Kamu … sariawan?”
Aku kembali tertawa pelan dengan mulut tertutup telapak tanganku. “Apa aku bisa kesakitan selama tinggal bersamamu.”
“Terus, kenapa kamu bertingkah begini?”
“Aku hanya bertingkah biasa.”
“Terserah kamulah.”
Aku kembali tertawa pelan.
Mas Rendy bangun dengan mengangkat piringnya.
“Eh, Mas Rendy mau ke mana?” tanyaku menahan langkahnya.
“Mencuci piring. Ke mana lagi?”
“Eh, tunggu-tunggu!” tahanku saat dia hendak melangkah.
Aku langsung bangun dan mengitari meja. Kemudian merebut piring itu setelah berdiri di depannya. Kuletakkan piring itu di atas meja.
6. Bersikap mandiri.
“Aku yang akan mencucinya. Aku bisa melakukannya.”
“Tapi, ini hanya piring. Aku juga bisa.”
“Ayolah, Mas. Apa kamu enggak bisa percaya kalau aku ini bisa mencuci piring sendiri?”
“Baiklah.” Akhirnya, Mas Rendy pasrah. Kemudian melangkah pergi meninggalkanku.
Kini, giliran cara terakhir. Aku masih diam untuk menormalkan pernapasanku. Lebih tepatnya, aku sedang mengumpulkan keberanianku. Setelah merasa yakin, aku pun melangkah mengejar Mas Rendy, melupakan piring kosong yang masih belum kucuci.
Aku menemukan Mas Rendy di dalam kamar. Dia dari lemari setelah mengambil setelan jas. Sepertinya, dia akan ke restoran.
“Kamu kok di sini? Katanya mau cuci piring?” Mas Rendy melihatku keheranan.
Aku tidak memberikannya jawaban. Justru mengatakan sesuatu yang tidak berhubungan.
“Tujuh, lakukan banyak sentuhan,” kataku lirih.
“Apa kata—”
Sebelum Mas Rendy selesai mengutarakan pertanyaan, aku lebih dahulu memberikannya jawaban.
Aku langsung memeluknya.
-oOo-
__ADS_1