Super Husband

Super Husband
30. Sarah Namanya


__ADS_3

“Mbak. Udah sampai.”


Aku baru sadar dari lamunanku setelah sopir itu menoleh padaku. Aku lekas mengeluarkan uang terakhirku kepadanya.


“Kembaliannya buat Bapak aja.”


Pikiranku terlalu runyam sampai aku tidak peduli bahwa uangku telah habis. Lagi pula, sisa uangku yang sedikit tidak membuatku bisa kembali ke kota.


Aku pun menuruni taksi yang mengantarku ke Gresik. Jalan aspal yang kupijaki masih basah. Namun, hujan sudah reda sedari tadi.


Langkahku pelan. Aku tidak memiliki kekuatan lebih untuk berjalan tegap. Sesampainya aku di depan kedai, Nenek Pia menyambutku dengan ekspresi terkejut.


Dia lekas keluar dari counter dan mengabaikan pembelinya. Dia bergegas mendekatiku.


“Nak. Kamu kemari. Tapi, kenapa penampilanmu begini?”


Di tengah hujan tadi, aku langsung pergi meninggalkan Mas Rendy. Aku tidak memperbaiki penampilanku yang acak-acakan setelah diserang air hujan.


Aku tidak memberikan Nenek Pia jawaban. Aku langsung menghambur dalam pelukannya. Mengadukan luka dalam bentuk air mata.


“Neneeek,” rengekku.


Selama itu, Nenek Pia menyahutiku dengan kediaman. Dia mengusap kepalaku seperti seorang ibu kandung.


Setelah puas mengadukan luka, aku duduk di kursi sembari menunggu Nenek Pia membereskan pekerjaannya. Demi menemaniku, dia sampai menutup tokonya lebih cepat dari biasanya. Kemudian mengajakku ke rumahnya.


Nenek Pia memberikanku satu setel pakaian perempuan. Begitu pas pada tubuhku. Entah, dari mana dia mendapatkan pakaian ini.


Nenek Pia juga menyuruhku langsung tidur ke kamar. Dia tidak menemaniku. Hanya mengantarkan segelas teh saja. Katanya, aku harus tidur dulu dan menenangkan diri. Tidak ada ketenangan yang lebih baik dari berdiam sendirian.


Aku melakukan seperti yang Nenek Pia katakan. Benar saja. Keesokan hari saat aku terbangun, aku jadi merasa lebih baik.

__ADS_1


Setelah mandi, aku mencari Nenek Pia ke mana-mana. Namun, di rumah hanya ada aku sendirian. Aku pun pergi ke kedai. Namun, kedai masih tutup. Seorang tetangga mengatakan kalau Nenek Pia sedang pergi ke pasar.


Aku jadi merasa tidak enak hati. Aku terlalu larut dalam kesedihanku sampai tidak membantu Nenek Pia.


Aku pun kembali ke rumah. Saat hendak masuk ke kamar, perhatianku tertarik pada kamar lain di depan kamarku. Itu kamar Mas Rendy. Langkahku beralih ke sana.


Kamar ini berukuran sama seperti kamar yang kugunakan. Ada lebih banyak benda di sini. Mungkin karena masa kecil Mas Rendy juga tersimpan di sini.


Sudah lama kamar ini tak dihuni. Namun, aura Mas Rendy seolah tak pergi. Sehingga aku masih merasa kalau Mas Rendy ada di sini.


Aku mengusap ranjang yang kududuki. Jadi, seperti ini kasur yang ditiduri Mas Rendy. Kasar dan tipis.


Aku bangun. Ada beberapa foto remaja laki-laki yang terpajang. Sepertinya itu Mas Rendy. Sudut bibirku terangkat tanpa mengingat rasa sakit yang mengoyakku semalaman.


Sejujurnya, Mas Rendy terlihat lucu di sini. Dia tidak tampan. Bahkan, kulitnya terlihat kusam. Tidak terawat seperti sekarang. Kadang-kadang rambutnya gondrong. Sibuk bekerja sampai tidak sempat memotongnya.


Senyumku luruh saat perhatianku beralih pada foto perempuan berambut pendek di figura lain. Perempuan itu mengenakan gaun pengantin putih, dengan Mas Rendy rapi mengenakan jas hitam di sampingnya.


“Kamu baik-baik aja, Nak?” Bukannya menanyakan kenapa aku kemari, Nenek Pia justru menanyakan keadaanku.


Aku menghela napas sedalam-dalamnya. Berusaha menenangkan diri dalam sekejap. Jika aku luruh begitu saja, Nenek Pia pasti bisa membaca isi hatiku.


“Maaf. Aku sembarangan masuk kamar. Aku tadi penasaran. Ternyata, kamarnya Mas Rendy,” jelasku jauh dari pertanyaan Nenek Pia.


“Enggak papa. Jangan sungkan-sungkan kalau main kemari.”


“Oh, ya, Nek. Apa perempuan itu yang bernama Sarah?” Aku menunjuk foto sepasang pengantin tadi.


“Bagaimana kamu tahu?”


“Aku … cuma pernah dengar dari Mas Rendy.”

__ADS_1


Nenek Pia berjalan ke belakang untuk duduk di atas ranjang. Aku mengikutinya dan duduk di sampingnya.


“Iya. Dia Sarah. Istrinya Rendy dulu. Tapi, udah bertahun-tahun enggak ada kabar.” Wajah Nenek Pia terlihat sendu. Sepertinya, aku menarik sesuatu yang salah dari kenangannya.


Aku masih tidak mengerti. “Apa maksudnya?”


“Rendy itu pebisnis. Dia pernah sukses dan pernah bangkrut. Di saat kesuksesannya dia menikah. Di saat dia jatuh, istrinya justru meninggalkannya.”


“Mereka bercerai?”


Nenek Pia menggelengkan kepala.


“Saat Rendy bangkrut, Sarah pamit ke Taiwan untuk bekerja menjadi TKW. Tapi, sampai sekarang dia enggak pernah pulang dan enggak ada kabar. Entah dia masih hidup atau mati.”


“Jadi, ada kemungkinan mereka akan bersama kembali kalau Sarah masih hidup?”


“Itu kalau dia udah enggak punya malu.”


Di sini, aku melihat sisi lain dari Nenek Pia. Selama ini dia selalu terlihat ramah. Namun, sekarang wajahnya dipenuhi kebencian.


Aku tidak lagi bertanya. Sudah bisa kutebak kalau sesuatu yang buruk bersarang pada masa lalu mereka.


Aku tidak meminta penjelasan apa pun lagi kepada Nenek Pia. Sebaliknya, aku meminta album masa remaja Mas Rendy. Di situ, beberapa kali kutemukan foto Sarah semasa muda. Rupanya, mereka berteman sejak kecil.


Kuperhatikan baik-baik, wajah di foto itu terlihat tidak asing. Gambaran masa lalu muncul di kepalaku sebagai kilatan, sehingga aku belum bisa melihatnya dengan jelas.


Aku berkonsentrasi baik-baik. Terus menggali pikirannya. Sampai akhirnya, aku menemukan selembar ingatan di sana.


Akhirnya, aku menemukan wajah perempuan itu.


-oOo-

__ADS_1


__ADS_2