
Sementara itu.
Caraka, yang telah berhasil mengambil perhiasan ibunya., segera masuk kamar.
Kebetulan saat itu istrinya tengah terjaga, sehabis menyusui anaknya.
Caraka, diam di ambang pintu. Dia bingung apa yang harus ia katakan pada istrinya, bila bertanya.
Namun pikiran yang bertentangan degan akal sehatnya, memaksa Caraka, untuk mengatakan hal yang ia lakukan.
" Darimana saja sih, mas.? Anak kita nangis sejak tadi, tapi kamu enggak muncul muncul..Aku tuh capek mas. Dari pagi ngurusin keluarga ini. Dari memasak. Mencuci sampai membersihkan halaman,,,Sedangkan kalian.Kamu dan adikmu sama saja..!"
Tanya istrinya, melihar keraguan Caraka.
" Sudah..suda. Pokoknya besok pagi, kamu harus menjual perhiasan ini..!"
Kata Caraka, sembari memperlihatkan perhiasan milik ibunya.
" Ini punya ibu, kan? Kenapa kamu mengambilnya, mas...Tidak.Aku tidak mau menjualnya...Aku tidak mau bekerjasama dengan pencuri..!"
" Terserah apa katamu...! Yang pasti..Aku butuh uang itu,,,!"
Dan tanpa bicara panjang lebar. Caraka, pun menggelar alas di lantai untu tidur.
Sebelum berangkat ke kantor. Pak kades, segera mengumpulkan anggota keluarganya.
Bagai orang yang tak bersalah.Caraka, hadir lebih dulu bersama istrinya.
Sementara Ramli, seperti malas dia datang paking ahir.
" Aku sengaja mengumpulkan kalian di ruangan ini. Sebab ada yang akan aku tanyakan pada kalian...Dan, kalian harus menjawab dengan jujur...Paham !
Semalam, ada yang berani masuk ke kamar ayah...Dan ibu kamu kehilangan semua perhiasaan nya...Aku pikir rumah kita kedatangan pencuri...Tapi, setelah ayah cek. Baik pintu atau jendela semua dalam keadaan terkunci rapat.
Jadi hanya satu kemungkinannya...Yaitu, satu dari kalian bertigalah yang mengambil perhiasan itu...Nah. siapa yang telah berani masuk kamar ayah tanpa ijin dulu...Kamu, Caraka. ?! "
" Aku tidak melakukan hal tolol seperti itu ayah..Sebab. ayah sendiri bilang tidak punya uang untuk membelikan aku motor..Ya sudah. Aku terima nasib, kalau diriku anak seorang kades yang miskin..!"
Jawaban Caraka, begitu menohok hati ayahnya.
" Bagus kalau kamu sudah tahu, kalau ayahmu kades yang miskin...!" Pak kades berkata dengan nada sinis.
" Kamu Siti,,,Apa kamu yang telah mencurinya,,?" Lanjut pak kades..
Siti Sundari, terdiam. Dia tak tahu harus berkata apa.
Andai dia jujur. Maka suaminya pasti akan sangat marah padanya. Tapi untuk berbohong itu pun dia tak tega. Dia adalah wanita jujur. Wanita yang lugu.
Dan Siti, hanya menggelengkan kepala.
Namun, pak kades melihat kejanggalan sikap menantunya itu.
" Kamu Ramli. Kemana dan dimana kamu semalaman,,,? "
" Aku,,,Seperti biasa...Aku begadang dengan teman teman. Dan seperti biasa juga, aku membawa kunci pintu belakang.
Aku pulang sekitar jam tiga pagi. Aku membuka pintu belakang. Dan aku melihat seorang yang memakai penutup wajah masuk ke kamar ayah.
Kemudian, aku sengaja tidak segera menangkap orang itu...Aku bersembunyi di samping rak dapur agar orang tadi tidak melihatku...!" Sampai disitu Ramli, menghentikan kata katanya.
" Terus. Kamu lihat orang itu..?" Tanya pak kades, tak sabar.
__ADS_1
Ramli, melirik kepada kakaknya, yang nampak gelisah.
" Iya. Setelah dia keluar dari kamar.Dia sudah tak memakai penutup wajah lagi. Sebab kain penutup wajahnya ia pakai untuk membungkus barang curiannya,,,!"
" Siapa. Bilang sama ayah. Ramli, siapa orang yang telah berani lancang itu,,?"
Ramli, tidak menjawab. Tapi jari telunjuknya menunjuk tepat pada kakaknya, yang langsung emosi.
" Heh. Enak aja luh nuduh gua ! Apa eluh punya bukti...!? " Caraka, mendekati Raml, dengan tangan terkepal.
" Berani mukul aku, kamu akan konyol, bang..! Buktinya gampang kok. Kita semua tahu, kalau Siti, adalah istri yang jujur. Dia akan mengatakan apa yang terjadi semalam...!" Kata Ramli, dengan lantang.
" Nah. Ramli sudah memberikan kesaksiannya. Dan sekarang ayah minta sama kamu, Siti, untuk berkata jujur...." Kata pak kades seraya mendekati Siti.
Untuk sesaat. Siti, terlihat ragu. Dia memandang wajah suaminya yang sudah memerah merasa akan di permalukan.
Tak ada pilihan lain bagi Siti. Dia bersikap pasrah pada keputusan yang akan diterima oleh suaminya.
Siti pun mengangguk.
" Dasar luh istri sialan. Bukannya melindungi gua, luh malah bikin gua malu...!" Umpat Caraka, kepada istrinya.
" Mas bilang malu,,,? Tapi aku jauh lebih malu, punya suami seorang pencuri..! " Suara Siti, tidak kalah lantang.
" Sudah,,sudah.! Sekarang serahkan barang ibu itu. Dan kita lupakan semua kehilapan Caraka...Siti, mana barang itu..?"
Siti, mengeluarkan bungkusan kecil dari saku roknya.
Semua mata tertuju pada bungkusan yang menggunakan saputangan. Seperti yang dikatakan Ramli.
Caraka, memandangi keluarganya satu persatu.
Siti, berusaha mengejar Caraka, yang sudah berlari jauh.
Entah apa yang kini ada dalam benak Caraka.?
Malam harinya.
Sesosok bayangan serba hitam dengan membawa sebuah derigen, mengendap endap, menyusuri sebuah tembok pagar halaman di sebuah rumah berlantai dua.
Kemudian sosok serba hitam itu, berbelok ke belakang rumah.
Dia mengeluarkan seperangkat alat kecil. Kelihatannya seperti obeng dan beberapa kunci.
Sementara diregen ia sembunyikan di sebuah kandang yang sudah tak terpakai.
Butuh waktu agak lama, ia mengutak atik kunci pintu dengan pelan hampir tak terdengar.
Sampai ahirnya terdengar suara klik. Tanda kinci sudah terbuka.
Dia mengangkat kakinya berjinjit sampai ke depan pintu depan.
Setelah dirasakan aman, karena semua penghuni sudah tertidur. Dia kembali mengambil jerigen tadi.
Kemudian dia mengunci pintu belakang yang tadi ia buka.
Selanjutnya. Dia membuka jerigen di tangannya, dan menumpahkan isinya.
Cairan dari jerigen berukuran besar tumpah ruah membanjiri lantai rumah mewah itu.
Seketika itu juga. Bau bahan bakar terasa sangat menyengat.
__ADS_1
Sosok serba hitam tadi menaiki tangga yang menuju ke lantai atas.
Sesampainya disana. Dia membuka penutup wajahnya.
Caraka, memperhatikan cairan bahan bakar yang sudah menyebar rata di lantai bawah.
" Bau bensin pak. Bau bensin..!" Teriak istri pak kades.
Perempuan tua itu memperhatikan lantai yang sudah dibanjiri bahan bakar.
Dan ketika dia melihat keatas.
Betapa terkejutnya perempuan tua itu, demi melihat Caraka, menyelipkan sebatang rokok di bibirnya.
Caraka, mulai mengeluarkan korek api.
Cres.!
Batang korek api yang terbuat dari kayu itupun menyala.
Dia menyulut rokoknya lalu menghisapnya.
" Caraka..! Tolong jangan merokok nak. Lantai ini banjir bensin, nanti kita semua terbakar..Jangan merokok nak..!" Teriakan perempuan tua itu terdengar pula oleh suaminya.
" Apa ini..?! " Seru pak kades.
" Bensin pak. Lihat si Caraka, dia merokok di atas. Ibu takut kalau rumah ini terbakar pak...!"
" Caraka. Matikan rokokmu. Kamu akan mencelakai kita semua..!" Seru pak kades kepada anaknya.
" Ayah,,,Biarkan aku menikmati rokok terahirku..Rokok terahir yang akan membuat aku tenang melihat tubuhku di lalap api nanti...!" Sahut Caraka. Begitu tenang...
Kemudian ia menjatuhkan sisa rokok yang masih menyala ke lantai. Tentu saja kedua orang tuanya panik.
Kuntung rokok itu mati saat menyentuh lantai.
" Tuh gak apa apa kan? Gak nyalahkan..? " Caraka seperti sengaja tengah menyiksa perasaan kedua orang tuanya.
" Ternyata orang seumuran kalian masih juga takut menghadapi kematian. Coba kalian lihat. Aku yang masih muda saja tidak takut menghadapi maut...!"
" Jangan anakku,,,! Ayah mohon jangan bakar rumah ini...Ayah akan turuti kemauan kamu untuk membeli motor berapapun harganya...! " Teriak pak kades.
Ia menuntun istrinya untuk mendekati pintu untuk keluar.
Namun. Mereka tak melihat anak kunci yang biasanya tertanam dilubang kunci.
Berkali kali pak kades memutar mutar handel pintu. Namun tetap tak tetbuka.
" Hahahaha,,,,Ayah mencaei ini,,,?" Caraka, berseru sambil menunjukan anak kunci pintu utama.
" Nanti aku berikan kunci ini setelah aku menghisap rokok terahir,,,"
Caraka, menyelipkan sebatang rokok di bibirnya. Kemudian mengeluarkan sebatang korek api yanf terbuat dari kayu.
Lalu.
Cress,,,!
Korek pun menyala. Caraka, tidak menyulut rokoknya, melainkan menjatuhkan korek api yang menyala itu kelantai bawah.
Bersambung.
__ADS_1