SUSUK BERKARAT

SUSUK BERKARAT
PART 4


__ADS_3

Sepertinya tak ada tanda tanda hujan akan cepat berhenti.


Di langit sebelah barat cahaya petir berkilauan saling susul menyusul.


Siti, semakin gelisah.


Sebenarnya ia ingin berpamitan pada ibu bidan, untuk pergi dari rumah ini. Tapi ia ragu mau pergi kemana?


Tak ada lagi tempat untuk berlndung baginya.


Untuk pulang kerumah orang tuanya pun sudah tidak mungkin. Sebab setelah kedua orang tuanya meninggal. Rumah iti kni di tempati kakak laki laki Siti, yang mempunyai irtri dan tiga orang anaknya.


Lagi pula sikap kakaknya, itu kurang menyenangkan. Kasar dan sombong.


Ahirnya setelah lelah berpikir, Siti pun tertidur lelap, hingga bermimpi.


Dalam mimpinya dia melihat suaminya tengah berjalan di atas baru.


Hampir sepanjang jalan yang dilaluinya hanya ada hamparan batu batu kecil, yang masih mengepulkan asap.


Tangan Caraka, menggapai gapai, seolah meminta tolong.


Dan di sudut lain. Dia melihat seorang bayi tengah merangkak.


Bayi itu menangis setiap kali tangan dan kakinya tersentuh bara dari batu batu kecil.


" Anakku,,,Kenapa kamu harus mengalami semua ini...Kenapa kamu pergi meninggalkan ibu, nak...Ibu pun merasa tak sanggup untuk menjalani hidup sendirian...


Ibu ingin pergi dan tinggal bersamamu anakku,,,,"


Siti, menangis. Meratap. Sampai sampai ibu bidan, mengguncang guncang tubuhnya.


" Siti, bangun nak,,, sudah subuh. Sebaiknya kamu sholat dulu..." Ucap bidan Idan, memutus mimpi yang begitu tragis menimpa anak nya yang masih bayi.


Siti, terduduk di tepi tempat tidur. Berkali kali mulutnya mengucap istighfar.


Di hapusnya air matanya. Kemudian kebelakang untuk mengambil air wudlu.


Setelah selesai sholat subuh. Siti, membersihkan halaman rumah ibu bidan.


Dan ketika matahari mulai bersinar. Dia mengambil kursi kecil untuk duduk berjemur.


Seorang wanita muda tetangga sebelah rumah ibu bidan, melihat Siti, yang tengah duduk.


Dia melihat wajah Siti, yang masih mengeluarkan cairan nanah.


Wanita tadi membuang ludah karena jijik. Apalagi lalat lalat mulai berdatangan. Satu dua ekor mulai menghinggapi wajah Siti, hingga tangannya sibuk mengusir serangga kecil yang mulai menggerogoti. Bukan hanya wajah, tapi juga tangannya yang terbuka.


Begitu pun, saat wanita lain yang kebetulan lewat. Wanita itu juga membuang ludah sambil berkata.


" Cuih. Jijik aku melihat kamu. Pagi pagi sudah nongkrong diluar. Bikin perut orang mual melihat muka kamu yang penuh lalat..! " Umpat wanita tadi.


Namun Siti, hanya tersenyum mendengar cacian wanita tadi.


" Gak usah senyum senyum segala. Muka kamu kayak setan tau...!"


Siti, tidak menanggapi. Sampai wanita tadi berlalu dari hadapannya.


Setelah merasa cukup untuk.berjemur.


Siti, berniat untuk mencuci piring. Namun sabun cuci telah habis.


Kemudian dia meminta uang kepada ibu bida.


Ibu itu mengerti dengan bahasa isyarat dari Siti. Karena bibir Siti, terlihat besar dan sepertinya masih berair, sehingga dia belum bisa untuk bicara.


" Siti,,,kamu tidaj perlu repot repot untuk membantu ibu. Biar nanti mak Onah, yang mencucinya...Kamu diam dan beristirahat saja. Agar semua luka lukamu cepat mengering..." Ucapan ibu bidan begitu menyentuh hati Siti.

__ADS_1


Namun ia bersikeras untuk menbeli sabun cuci.


Dan mau tak mau ibu bidanpun mengalah.


Belum jauh Siti, melangkah untuk pergi ke warung.


Seorang ibu mengolok oloknya.


" Wah,,,Ada ustadzah baru nih,,,! Tumben luh pake kudung segala. Dulu kemana ajaaa...! Oh iya. Kudung itu kan cuman buat nutupin kepala luh yang gundul kan..? Iya kan...?! "


Ejek ibu tadi. Dan Siti, tetap tersenyum. Walau senyumnya tidak semanis kembang gula. Melainkan senyuman yang mirip sebuah seringgai...


" Udah gak usah pakenyengir segala. Bikin orang takut tauk..!'


Dan di warung pun demikian.


Siti, bersabar penjual itu melayani pembeli yang lebih dulu sampai.


Dua orang ibu ibu malahan minggir minggir sembari menutupi hidungnya.


" Cis.! Ada bangkai hidup...Mintan ampun baunya...!" Kata salah seorang ibu.


" Iya nih. Udah tahu luh tuh bukan manusia. Ngapain luh kewarung segala .! " Timpal ibu satunya.


Dan kali ini Siti, tak tinggal diam. Dia


menatap tajam kepada kedua ibu tadi.


Tangannya ia angkat tinggi tingi. Kemudian dia meraih leher baju seorang ibu. Lalu mendorongnya sekuat tenaganya, sehingga ibu itu terjengkang.


Melihat hal itu. Ibu yang seorang lagi. Pelan pelan mundur dan bersembunyi di balik pemilik warung.


Siti, sudah kehabisan rasa sabar yang sejak tadi pagi di tahannya.


" Ma' af Siti,,,Tolong jangan buat keributan disini. Dan ma'afkan ibu ini karena telah menghina kamu...?" Kata pemilik warung memohon.


Siti, menaruh uang kertas lalu meminta sabun cuci.


Diam diam Ramli, merasa senang mendengar sepak terjang Siti. Ramli, tahu kalau tindakan yang dilakukan Siti, memanh cukup beralasan.


Kakak iparnya itu tak boleh berdiam diri bila menerima hinaan dari siapa pun.


Bahkan dia telah berjanji, untuk selalu melindunginya.


Karena Siti, memang pantas untuk dilindungi.


Dan janji Ramli, benar benar telah terbukti. Ketika Siti, didatangi seorang wanita muda yang seusia Siti.


Wanita itu menghardik dengan keras, lantaran ibunya kini jatuh sakit karena di dorong Siti, di warung kemarin.


" Dasar perempuan sial. Kamu telah membuat Caraka, mati...Pasti gara gara kamu membujuknya untuk meminta motor. Biar kamu bisa gaya gayaan berboncengan berdua dengan Caraka..


Coba kalau Caraka, menikahi aku,,,Dia sudah di belikan motor sama bapak aku, walaupun harus menjual kebon dan sawah sekali pun...Tapi sayang,,,Kenapa Caraka, harus memilih kamu perempuan yang membawa sial.. ! "


" Heh.. Jaga mulut luh. Caraka, mati karena ulahnya sendiri. Bukan karena Siti. Ingat. Kalo luh masih terus menghina Kakak ipar gua. Luh akan gua buat menyesal...Dan kalo luh mau bilang sama suami luh, cepat bilang. Gua nungguin disini...Paham.! "


Kata kata Ramli, begitu jelas dan menusuk hati wanita muda tadi. Dia pun tanpa berkata lagi, segera meninggalkan Ramli dan Siti.


" Jangan takut kakak ku,,,Aku akan selalu ada untukmu,,," Ucap Ramli, lalu mengandeng tangan siti.


Tamu di tengah malam.


Sejak sore tadi bidan Ida, pergi ke rumah seorang pasien.


Seorang ibu yang akan melahirkan. Ibu itu merasa perutnya mendadak mulas. Saking sakitnya ia tak bisa pergi ke rumah ibu bidan.


Dan suami ibu itu, meminta agar bidan Ida, mau menolongnya untuk datang ke rumahnya.

__ADS_1


Sampai pukul 12 Ibu bidan belum juga kembali ke rumah.


Siti, merasa begitu cemas menanti ke datangan ibu Ida.


Dia menunggu di ruang tamu, yang hanya diterangi lampu templok.


Tiba tiba dia mendengar pintu ada yang mengetuknya.


Pikirnya mungkin ibu bidan sudah kembali pulang.


Dia segera nembuka pintu.


Namun tak ada seorang pun disana.


Siti, merasa penasaran. Maka ia keluar untuk melihat siapa yang sudah mempermainkan nya.


Baru saja ia berniat untuk mencari.


Secara tiba tiba dirinya disergap dari belakang.


Setelah itu dia merasa ada sesuatu yang di kurungkan ke kepalanya.


Seperti sebuah karung.


Siti, meronta sekuat tenaga. Namun ada orang lain lagi yang membuat Siti, terpaksa tertidur di lantai.


Setelah itu. Tubuh Siti, dipaksakan masuk ke dalam karung secara keseluruhan.


Kini tubuh nya terasa di tekuk agar bisa masuk .


Setelah itu karung pun diikat erat.


Siti, merasa sulit untuk bergerak. Dan napasnya pun mulai sesak.


Rasa perih dari luka luka yang belum kering sekuruhnya membuatnya semakin tersiksa.


Siti, merasa tubuhnya di angkat ke atas bahu. Dan dia dibawa beberapa meter jaraknya.


Kemudian dia di lempar ke sebuah bak, yang menurutnya sebuah mobil bak terbuka.


Mobil melaju menembus gelapnya malam.


Terasa menanjak. Terasa berkelok kelok.


Kemana mereka akan membawaku...?Dia membatin.


Inikah ahir hidupku...?


Dan Siti, pun menangis.


Kembali terbayang dalam ingatannya. Saat Caraka, meminangnya untuk menjadi istrinya.


Dia begitu gembira karena memiliki seorang suami anak orang terpandang.


Namun apa yang ia bayangkan, tak seindah kenyataannya.


Dia harus menerima nasibnya sebagai pembantu dalam keluarga pak kades yang terhormat.


Mobil pun berhenti.


Seseorang menarik karung yang membungkus dirinya. Sekali lagi dia merasa tubunnya di angkat di atas bahu seseorang.


Kemudian Siti, merasa tubuhnya melayang di udara.


Sejenak kemudian.


Bruss.

__ADS_1


Tubuhnya merasa jatuh dan menggelundung. Kemudian terhenti pada sebatang pohon.


Bersambung.


__ADS_2