
Siti, benar benar menderita. Tubuhnya sudah terasa kaku, karena harus menekuk di dalam karung.
Dia sama sekali tak dapat bergerak.
Untuk meminta tolong pun dia belum bisa karena bibirnya masih tebal dan berat.
Tak ada yang dapat ia lakukan. Selain pasrah menerima takdir yang akan segera ia temui.
Dia hanya berdo'a agar ada keajaiban yang datang.
Malam hampir pagi.
Siti, masih bisa mendengar suara mesin dari mobil entah diman.
Suara yang kadang datang kadang menghilang itu, sepertinya dari atas sana.
Dia juga berfikir. Mungkin saat ini dirinya berada di dalam jurang, setelah orang yang mengangkat nya melempar tubuhnya.
Seekor kucing berbulu hitam datang menghampiri onggokan karung.
Berkali kali binatang itu mengendus endus bau busuk dari tetesan nanah di tubuh Siti.
Kucing itu sepertinya tau, cara melihat isi karung tersebut.
Dia menggunakan gigi giginya yang tajam untuk menarik tali yang mengikat karing tersebut.
Tak berapa lama ikatan itu berhasil di lepasnya.
Meong...Meong... Suara kucing itu terdengar seperti sebuah perintah, bukan ancaman.
Terbukti saat kaki Siti, keluar. Kucing itu hanya memperhatikan nya saja.
Siti, dengan susuah payah terus bergerak agar bisa keluar dari dalam karung.
Usahanya pun berhasil.
Kini dia dapat bernapas lega. Matanya memandangi sekelingnya yang hanya terdapat pohon pohon besar, yang membuat tempat itu sangat gelap gulita.
Tapi biarlah ia ada dimana. Yang penting sekarang sudah terbebas dari siksaan terbelenggu di dalam karung.
Kini dia tahu suara suara mesin yang ia dengat sejak semalam.
Siti, memandang lampu lampu mobil yang terlihat di atas jalan sana.
Kucing berbulu hitam masih berada di dekatnya.
Siti, mengelus binatang yang telah menolong membebaskannya.
Kedua bola mata kucing itu berwarna merah, seperti menyala dalam gelap.
Siti, mencium mahluk lucu tapi menyramkan itu.
Kucing itu seketika meronta lepas dari pangkuan Siti.
Dan berjalan perlahan beberapa langkah. Kemudian berhenti tepat pada sebuah pohon besar.
Siti, berpikir tak ada salahnya dia berteman dengan binatang lucu itu.
Maka diapun segera mengikutinya dan duduk pada akar sebuah besar.
Kucing hitam itu tiba tiba lenyap dari pandangan Siti.
__ADS_1
Aneh,,, pikirnya...Dan diapun berusaha mencarinya.
Namun. Siti, tak menemukan kucing tadi yang seolah raib di telan bumi.
Angin bertiup cukup kencang.pohon pohon besarpun bergoyang goyang. Sesekali terdengar derak ranting kering, yang seperti terinjak kaki seseorang.
Siti, mulai menduga duga. Apakah yang akan menghampirinya binatang atau manusia...?
Dan suara langkah itu terasa semakin dekat.
Meski dalam gelap mata Siti, masih bisa menangkap bayangan hitam dan tinggi seukuran manusia.
Dan ketika semakin dekat. Siti, dapat melihat dengan jelas, kalau bayangan tadi adalah sosok seorang wanita.
" Eh ternyata ada orang rupanya.. Kamu siapa anak maniss,,,? " wanita tadi bertanya pada Siti, yang masih keheranan. Sebab ternyata di dalam hutan ini juga ada orang lain selain dirinya.
Wanita itu duduk pada sebuah akar pohon, sambil memperhatikan wajah Siti, yang kulitnya telah mengelupas.
" Apa yang sudah terjadi sama kamu, anak manis,,,? " Tanya wanita itu lagi.
" Namaku Siti...Aku terkena musibah. Dan aku merasa ada orang yang telah membuangku...!" Jawab Siti, hanya di dalam hati.
" Pasti mereka jijik melihat wajahmu,,,!"
" Iya nyi. Bahkan mereka menghina dan mencaciku...Mereka juga mengusirku...!"
Wanita itu seperti mendengar suara hati Siti.
" Iya iya iya,,,,Aku mengerti...Sebab aku juga telah mengalami hal seperti diri kamu,,, Tapi kamu jangan berkecil hati. Masih ada kesempatan untukmu menbalaskan rasa sakir hatimu,, !"
Sampai disitu. Wanita paruh baya tadi mententuh lengan Siti, mengajaknya berdiri.
Setelah itu. Dia mengajak Siti, ke sebuah gubuk kecil yang berada di tengah hutan itu.
Setelah itu dia mengambil air untuk minum dan sepiring nasi.
" Sepertinya kamu belum makan sejak
semalam kamu tidak makan dan minum. Nah makanlah,,,hanya ini yang aku punya.."
Siti, mengangguk. Lalu dia mulai meneguk air. Kemudian makan sedikii karena mulutnya masih terassa sakit.
Setelah mata hari sudah meninggi. Barulah dia melihat, kalau tempat ini tidak seserm yang ia bayangkan.
Udara yang sejuk dan jauh dari kebisingan. Mungkin ini tempat yang sangat cocok bagi dirinya, untuk menghindari cemoohan caci maki dan hujatan orang.
Siti, tertegun demi melihat wajah wanita paruh baya yang telah menolongnya.
Wajahnya begitu cantik dan sungguh mempesona.
Dia merasa heran. Kenapa wanita, yang memperkenalkan dirinya sebagai nyai Yunda, berada di tempat terpencil seperti ini.
Tempat yang mungkin masih terdapat binatang buas.
Nyi Ayunda, dengan penuh kasih sayang dan telaten, dia merawat luka luka Siti.
Hingga dalam waktu dua minggu, Siti, sudah merasa baik.
Bahkan kni dia bisa berbicara dengan lancar. Sehingga Nyi Ayunda, merasa senang.
" Ada sesuatu yang akan aku ceritakan. Ini terjadi sekitar lima belas tahun yang lalu..." Kemudian Nyi Yunda pun menceritakan sebuah kisah tentang dirinya, sampai dia berada di tempat ini.
__ADS_1
Ayunda, memang seorang gadi yang berparas cantik dan menawan. Hingga dalam usianya yang masih sangat belia, dia sudah menjadi banyak rebutan kaum adam.
Kebetulan juga keluarga Ayunda, termasuk keluarga yang berkecukupan.
Maka yang melamar dia pun kebanyakan dari golonganningrat.
Ada seorang pemuda anak seorang saudagar yang kaya raya dan sangat terkenal di wilayah desa maupun kota.
Pemuda itu Brata. Dia bertubuh kurua kerempeng. Sungguh bertolak belakang dengan sang ayah yang bertubuh tambun.
Barata, tergila gila melhat kecantikan Yunda.
Dia meminta sang ayah untuk meminangYunda. Yang kala itu sudah menjaln hibungan dengan Ilyas.
Ayah dari Barata, mengirimkan utusan kepada keluarga Yunda. Yang isinya bahwa Barata, ingin melamar Yunda. Yunda tentu saja menolak, karena bageimanapun juga dia sudah mencintai Ilyas.
Untuk menghindari sifat , yang manja dan semena mena. Maka Yunda, segera di nikahkan dengan Ilyas.
Tapi Barata bukan berhenti berharap.
Malah dia bertindak diluar dugaan.
Ilyas, hampir meregang nyawanya. Ketika sore itu baru hendak pulang dari ladang. Mereka. Barata dan dua anak buahnya mengeriyok dan menganiaya Ilyas.
Bahka yang lebih parah lagi. Barata menculik Yunda. Dia dibawa ke sebuah rumah kosong milik keluarga Barata.
Barata, berusaha untuk menggagahi Yunda.
Namun dengan beraninya Yunda, menendang Barata, hingga terjengkang ke belakang dan kepalanya membentur tembok.
Barata menyuruh dua orang anak buahnya untuk mengikat Yunda, pada sebatang pohon.
Kemudian mereka mengumpulkan kayu bakar.
Setelah itu mereka mulai menyusun kayu kayu didekat Yunda, yang kini mulai panik.
Barata, sebenarnya hanya berniat untuk nenakut nakuti Yunda, saja.
Tapi salah seorang anak buahnya sudah kepalang tanggung. Dia menyiramkan minyak tanah ke tubuh Yunda.
Maka ketika Barata, membakar kayu itu.
Api segera menyambar pakaian Yunda, hingga membakar tubuhnya pula.
Barata, terkejut dia memerintahkan anak buahnya untuk segera memadamkan api.
Namun terlambat. Karena untuk mengambil air dari dalam rumah butuh waktu.
Maka ketika api berhasil dipadamkan, kondisi sudah lemah.
Sementara itu. Barata, dan kedua anak buahnya pun panik
Mereka bingung melihat kondisi Yunda, yang sudah nampak gosong.
Mereka pikir. Sebentar lagi perempuan itu akan mati.
Maka mereka pun segera menggali tanah. Dan mengubur hidup hidup tubuh Yunda.
Namun kematian belum saatnya tiba.
Yunda, merasa ada tangan kokoh yang menariknya dari luar. Dan tubuh Yunda, berhasl keluar dari liang lahat.
__ADS_1
Bersambung.