SUSUK BERKARAT

SUSUK BERKARAT
PART 3


__ADS_3

Batang korek api yang masih menyala itu, belum menyentuh lantai. Namun penguapan bahan bakar sudah menyebar ke seluruh ruang. Sehingga.


Blarr...!


Api seketika menyala di lantai bawah.


Ledakan ledakan kecil mulai terdengar saling bersahutan.


" Tolong..Tolong.. !" Teriak pak kades dan istrinya. Mereka berusaha mendobrak pintu, dengan menghantam dengan kursi. Namun sia sia. Pintu tetap rertutup rapat.


Perhatian mereka kini tertuju pada lantai atas.


Mereka langsung mencoba menaiki tangga.


Namun, baru menginjak dua anak tangga.


Tiba tiba api telah menyambar pakaian mereka. Dan mulai menjilati kulit mereka.


" Tolong...!" Teriak ibu kades menjerit setinggi langit.


Kakinya sudah tak mampu ia gerakan lagi karena api kini sudah menyelimuti dirinya.


Begitupun dengan pak kades. Dia kembali terjatuh dengan seluruh tubuhnya terpanggang di bawah anak tangga.


Sementara itu.


Caraka masih tertawa tawa gembira, melihat kedua orang tuanya sekarat berguling guling di lautan api.


" Mampus lah kalian...! Bawalah harta kalian ke surga...! Hahaha... Hahaha..!"


Mendengar suara ribut ribut. Siti, merasa terganggu karena tengah menyusui bayinya.


Ia melihat suaminya tengah tertawa tawa sendiri.


Matanya melihat kilatan cahaya api dari lantai bawah.


Dan ketika dia melongok kebawah.


Dia terkejut.


Siti, cepat berfikir kalau ini pasti perbuatan suaminya.


Dan tanpa pikir panjang. Dia mendekati Caraka, yang tengah melongokan kepalanya kebawah.


Dengan sekuat tenaga. Dia mendorong tubuh suaminya hingga keluar dari kayu pembatas dan segera terlempar jatuh kelantai bawah.


Tubuhnya langsung disambar api. Dan menggulungnya, sehingga dengan cepat menghanguskan seluruh kulitnya.


" Toloooonnnggg,,,!!!"


Hanya itu teriakan pertama dan terahir yang keluar dari mulutnya, sebelum ahirnya meregang nyawa.


Api mulai menjalar ke lantai atas. Membakar apa saja yang ada.


Siti, mulai panik. Untuk turun itu tidak mungkin.


Dia berfikir sejenak. Mengamati keadaan di luar dari jendela kamarnya.


Di bawah jendela. Dia hanya melihat hamparan atap genting sebuah rumah milik ibu bidan.


Dia membuka jendela.


Sementara itu, api sudah mulai menjilati pintu kamar. Dan mulai menyambar tempat tidur.


Dia berusaha untuk kesana.

__ADS_1


Kini api mulai menjilati tubuhnya, hingga terasa panas.


Tak ada pilihan lain.


Siti, segera menggendong bayinya.


Kemudian naik ke jendela. Dan...


Ibu muda itu melayang di udara dengan pakaian yang terbakar. sebelum ahirnya jatuh menimpa atap rumah tetangganya.


Atap genting itu pun hancur. Kayu kayu penyangga genting ikut patah karena tekanan berat dari tubuh Siti dan bayinya.


Mereka terus meluncur dan terjatuh tepat di atas tempat tidur kamar ibu, bidan.


Bidan Ida, yang kebetulan sedang memerikasa kandungan seorang pasien, terkejut mendengar suara benda jatuh dari atas atap.


Bidan Ida, segera masuk ke kamarnya.


" Astaghfirlah,,,! " Teriak nya, ketika melihat seorang wanita bersama seoranf bayi, yang terkapar di tempat tidur miliknya.


Tanpa menghiraukan pasien yang tengah menunggunya untuk diperiksa.


Bidan Ida, keluar rumah dan berteriak sekeras kerasnya untuk minta tolong.


Sementara itu di luar rumah pak kades.


Hampir semua warga, berjibaku untuk memadamkan api.


Beruntung rumah itu berdinding terbuat dari pasangan batu bata. Sehingga api hanya menghabiskan bahan yang mudah tetbakar saja.


Meskipun begitu, mereka tetap khawatir melihat asap yang sudah menerobos keluar dengan warna hitam pekat.


Secara bergotong royong. Warga memecah kaca jendela hingga bisa masuk ke dalam rumah.


Mereka menggunakan air yang menggenang di halaman depan sisa bekas hujan kemarin.


Ramli, kemudian naik ke lantai atas, di bantu yang lainnya memadamkan api.


Namun dia tak melihat keberadaan Siti dan bayinya.


Dan saat dia melihat dari jendela.atapnya sebagian telah hancur.


Ramli, cepat berpikir kalau kakak iparnya, telah melompat kesana bersama bayinya.


Di rumah ibu bidan Ida.


Siti, mengerang kesakitan. Akibat luka bakar di sekujur tubuhnya.


Seluruh tubuhnya nampak gosong, seperti arang.


Namun hebatnya. Siti, masih tersadar tentang apa yang baru saja ia alami.


" Mana bayiku,,,,?" Tanyanya sambil merintih menahan perih dan panas.


" Tenangkan dirimu,,,Kuat dan tabahlah menerima semua ini..Anakmu sudah tiada..." Kata ibu bidan. Sambil mengobati luka di sekujur tubuhnya.


Perempuan itu cukup tangguh. Dia tak menangis mendengar itu.


Sebab bagianya kematian mungkin lebih baik. Daripada hidup dengan sekujur tubuh penuh luka dan akan membekas seumur hidupnya.


Ramli, merkipun dia seorang pemuda brengsek. Pemabuk dan pembuat onar, namun ia tetap menghormati Siti, sebagai kakak iparnya.


Dia menghampiri Siti, dengan wajah penuh haru.


Bahkan mulutnya terbungkam. Lidahnya kelu dan tak mampu berkata apapa.

__ADS_1


Dia hanya memandangi luka bakar di sekujur tubuh kakak iparnya itu.


Seluruh kulit Siti, menggelembung seperti berisi cairan.


Ramli, mendekati dan duduk di lantai. Dari sudut matanya terlihat berkaca kaca.


Ramli, juga manusia yang punya hati dan perasaan.


" Maafkan aku kakak,,,Karena akulah semua ini terjadi,,," " Ucapnya pelan.


Siti, terdiam membisu. Hanya matanya saja yang mampu ia gerakan, sebagai isyarat membalas kata kata Lamri.


" Aku tak tahu bagaimana nasib kakak, setelah ini..Aku tal bisa menolong kakak. Sebab aku sendiri cuma seorang pengangguran. Tapi mungkin kejadian ini akan dapat merubah sifatku yang selama ini hanya merugikan banyak orang.


Aku ingin berusaha menjadi orang baik. Aku akan mencari kerja. Dan aku akan membawa kakak, untuk tinggal bersamaku,,,"


Mata Siti, berkaca kaca mendengar ucapannya adik iparnya, yang kini sebatang kara sama seperti dirinya.


Dalam hatinya ia berucap. Aku tahu sesungguhnya kamu orang baik Ramli,, semoga apa yang kamu katakan datanh dari relung hatimu yang paling dalam,,,


Perjalanan Siti.Sundari.


Sebulan lebih setelah menjalani perawatan. Kini kondisi Siti, mulai membaik.


Bidan Ida, merawat dengan penuh kasih. Dia tahu kalau sebenarmya Siti, sang menantu pak kades, adalah wanita yang lembut dengan kepribadian sederhana. Namun ia telah salah memilih suami.


Kenapa dia harus menikah dengan Caraka, pemuda yang selalu memamerkan kedudukan orang tuanya.


Padahal Siti. Sundari, saat itu menjadi bunga desa, yang banyak di puja dan didambakan


Namun takdir telah berkata lain. Dia telah melabuhkan cintanya pada Caraka.


Dan kini semua hanya akan menjadi sebuah cerita pendek. Atau mungkin masih ada episode berikutnya dalam perjalanan hidupnya yang akan segera menyongsongnya seperti matahari menyambut pagi.


Mampukah Siti, melangkah. Atau tetap sampai disitu.?


Malam itu hujan mulai deras membasahi bumi. Sesekali guntur menggelegar. Membuat desa kecil itu terlihat seperti desa tanpa penghuni


Gelap menyelimuti kampung itu karena warga menutup pintunya rapat rapat. Sehingga tak ada cahaya lentera atau lampu minyak tanah, yang membiaskan cahayanya keluar melalui pintu yang terbuka.


Siti, sesekali melongkan kepalanya melihat keluar.


Ia tampak gelisah. Kepalanya terasa berdenyut denyut.


Lelah karena terlalu banyak berfikir.


Apa yang harus ia lakukan sekarang.?


Bertahan atau menyerah pada keadaan.


Bertahan tinggal dirumah ini. Di rumah ibu bidan yang begitu baik dan berjasa. Yang telah merawatnya hingga dia lolos lepas dari penderitaan luka bakar, hingga sembuh.


Tidak. Dia tidak mau terus menerus menyusahkan ibu yang baik itu.


Mungkin Ibu ida, bisa menganggap luka di sekujur tubuhnya adalah hal yang biasa. Karena memang dia sudah terbiasa melihat banyak pasien di rumah sakit mengalami luka seperti itu.


Tapi,,,


Siti, beranjak dari tempat tidurnya. Menyeret langkah kakinya yang terasa kaku.


Dia mendekati sebuah cermin yang tergantung di dinding kamar.


Betapa terkejutnya. Saat dia melihat wajah dalam cermin itu.


Wajah yang hampir terkelupas seluruhnya.. Yang tertinggal hanya kulit yang mengelinting menggantung pada pipi kiri kanan. Pada dahi dan hidung.

__ADS_1


Siti, seperti tidak melihat dirinya, melainkan melihat mahluk yang hanya ada pada cerita cerita horor yang yang sangat menyeramkan.


__ADS_2