System Kemurkaan

System Kemurkaan
1. Kemurkaan


__ADS_3

Di dalam kegelapan yang jauh dari alam semesta. Mahluk raksasa berwujud manusia, duduk bersila dengan jutaan mata melotot mengelilinginya.


Wanita yang sangat cantik, berdiri tegak dihadapannya. Pedang yang sangat panjang digenggam wanita itu, dan diarahkan pada mahluk raksasa.


"Mulai saat ini, tempat yang kau duduki adalah milikku."


Satu tebasan dilancarkan pada mahluk raksasa. Menghancurkan jutaan mata yang melotot. Dia menebaskan pedangnya lagi, dan giliran mahluk hitam itu yang hancur menuju kehampaan.


Suara yang sangat dalam menggetarkan alam semesta, suaranya bagaikan raungan yang mengintimidasi. "Suatu saat nanti, kau akan menemukan kehancuranmu!"


***


Tepat jam 7 pagi, Lein terbangun dari tidurnya. "Sial! Aku terlambat!" Lein berlari menuju pintu kamarnya, dia mencuci mata dan langsung pergi tanpa sarapan.


Lein adalah siswa SMA yang sudah terbiasa hidup sendiri. Ayah dan ibunya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sudah tiga tahun orang tua Lein tidak pulang, mereka hanya mengirim uang bulanan, tanpa peduli dengan keadaan anaknya.


Kali ini, Lein tidak bisa mengelak dari keterlambatan. Pintu gerbang sekolahnya telah tertutup rapat, dan satpam berwajah garang menatapnya dengan tajam.


"Heheh, pak, boleh masuk gak?"


Pak satpam masih menatapnya dengan tajam, dia menjawab pertanyaan Lein dengan gelengan.


"Sial ...." Lein terpaksa harus menunggu selama 10 menit, itu adalah peraturan yang ada di sekolahnya.


"Hei, kau terlambat juga?" Gadis pirang cantik menghampiri Lein dengan senyumannya.


Jantung Lein berdetak kencang saat melihat gadis itu. "Claire ... apa kau terlambat juga?"


Gadis bernama Claire itu tertawa kecil, "Hehe, ayahku bangun terlalu siang, jadi aku terlambat."


Tawa kecil gadis itu membuat Lein tidak bisa fokus dengan apa yang diucapkan Claire. "A-Ah iya ...."


Lein dan Claire adalah teman masa kecil. Namun, saat dia lulus sd, Claire pindah rumah, dan mereka berpisah selama 3 tahun. Sebelum Lein dengan tidak sengaja memasuki SMA yang juga dimasuki oleh Claire.


"Hei Lein, akhir-akhir ini aku merasa ada orang yang mengikutiku. Aku takut."

__ADS_1


"Apa? Siapa dia?!"


Reaksi Lein yang sangat terkejut membuat Claire merasa senang, dia tertawa dan menjawab Lein dengan gelengan. "Aku tidak tahu, tapi semoga saja tidak ada apa-apa."


Lein dan Claire terus mengobrol sampai 10 menit berlalu. Mereka akhirnya diperbolehkan masuk ke dalam sekolah.


***


Lein menghela nafas, dia sangat lelah mengerjakan tugas selama 5 jam lebih. Sampai Lein berpikir untuk keluar sekolah, dan berfoya-foya dengan uang bulanan.


Saat Lein hendak keluar dari gerbang, dia melihat Claire yang sedang berdiri menunggu jemputan. Sebagai teman yang baik, Lein menyapa Claire dan pamit untuk pulang.


Wajah Claire terlihat kusut, dia menatap hp-nya dengan sebal. "Lein, ayahku tidak bisa menjemput, terpaksa aku harus menggunakan ojek online."


Lein merasa bersalah, dia menggunakan sepeda, jadi dia tidak bisa mengantar Claire pulang. "Aku akan menemanimu."


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya supir ojek datang. "Dah Lein, sampai ketemu besok." Claire tersenyum sembari melambaikan tangannya.


Lein tersenyum dan membalas lambaian tangan itu. "Dah ...."


"Claire? Dia sudah dijemput kok."


"Hah? Dijemput siapa? Saya baru saja datang."


Jantung Lein terasa berhenti selama satu detik, dia mengeluarkan keringat dingin, dan dengan cepat mengayuh sepedanya. Menyusul Claire yang sudah menjauh.


Lein terus mengayuh sepedanya dengan cepat, berharap semuanya belum terlambat, dan syukurlah Lein bisa melihat teman mas kecilnya dari kejauhan.


Tapi, teman masa kecilnya itu berbelok ke arah yang berbeda dengan rumahnya. Claire juga terlihat panik dan menepuk-nepuk pundak supirnya.


Lein menambah laju sepedanya, tapi gagal menyusul motor Claire. Hingga akhirnya Claire dan supirnya berhenti di depan sebuah gudang terbengkalai.


Claire yang menyadari itu, segera kabur dari sana. Namun, supir palsu yang telah membawanya, lebih cepat dan berhasil menangkap Claire.


Dia membawa Claire masuk ke dalam gudang, dan mengikatnya dengan kencang. Lein yang baru sampai, tanpa pikir panjang langsung memasuki gudang terbengkalai.

__ADS_1


Lein melihat Claire yang sedang hendak dirudapaksa oleh supir. Dengan amarah yang memuncak, Lein menendang supir dengan dengan kencang, membuat sang supir tersungkur ke tanah dengan keras.


"Bajingan!" Lein menyerang supir itu secara membabi buta. Namun serangannya bisa ditangkis oleh sang supir menggunakan helm.


Sang supir memukul kepala Lein dengan helm-nya, dan terus-menerus memukul Lein secara brutal. Lein yang tidak bisa membalas, terus bergerak mundur dan akhirnya berhasil lepas dari serangan sang supir.


"Sial."


Lein menyusuri seluruh ruangan tempat dia berada, dan menemukan sebalok kayu yang tergeletak tepat di sebelah kakinya.


Melihat Lein menggunakan balok kayu, sang supir menggunakan helm-nya untuk melindungi kepala, dia juga merogoh saku jaketnya secara cepat.


"Mati kau bajingan!" Dengan cepat Lein menerjang sang supir, dia hendak memukul kaki lawannya agar kehilangan keseimbangan.


Tapi, sebuah goresan terbentuk di pipi Lein, sang supir dengan pisaunya yang melakukan itu. Tak sampai disana, sang supir menghujani tubuh Lein dengan tusukan.


Lein yang kehilangan banyak darah, ambruk dan hampir tak sadarkan diri. Namun, kesadarannya kembali lagi saat sang supir memotong tangannya dengan pisau yang tumpul itu.


Rasanya begitu menyakitkan, Lein mengeluarkan air mata darah saat sang supir memotong tangan dan kakinya. Sampai akhirnya sang supir berhenti, dan menatap Claire yang juga sedang menangis.


Lein berteriak kepada sang supir, "Berhenti! Jangan menyakiti-" Kata-kata Lein terhenti saat dia tersedak oleh darahnya sendiri.


Perlahan-lahan sang supir melepas pakaian Claire, dia melakukan itu dihadapan Lein, seolah sedang mengejeknya.


Satu-persatu, kain yang menutupi tubuh Claire terbuka. Claire tak bisa melakukan apa-apa, ingin bunuh diri pun tidak bisa, mulutnya tertutup rapat.


Lein berusaha untuk bergerak walaupun kaki dan tangannya sudah terputus. Dia berteriak dengan kencang walaupun darah selalu membuatnya tersedak.


"Berhenti, lepaskan dia! Tolonglah." Kesadaran Lein perlahan memudar, dia telah kehilangan banyak darah. Dengan tenaga terakhirnya, dia menatap wajah Claire yang sedang kesakitan.


Dia mengutuk dirinya sendiri karena terlalu lemah, dia juga mengutuk orang yang sudah menghancurkan hidupnya, membunuhnya, dan memperkosa teman masa kecilnya.


"Sial ... sial ...."


Akhirnya Lein menghembuskan nafas terakhirnya, meninggalkan Claire yang sedang menghadapi mimpi buruk.

__ADS_1


***


__ADS_2