
"ehhh lepaskan tanganku, sekali lagi kamu bilang aku adalah istrimu, awas saja kamu ya, enak saja memangnya sejak kapan kamu menikahiku" ucap wulandari dengan kesal
"Iya iya aku minta maaf tadi itu aku sengaja berbohong biar mereka tidak curiga sama kita, eh keliatannya kamu kok tak perduli dengan acara yang dibilang para pendekar tadi"
"Aku sudah tahu"
"Hah sudah tahu? Kenapa kamu gak bilang sama aku"
"Lah kamu saja nggak tanya!"
"Oh iya ya... Coba kamu sekarang jelaskan perihal pertemuan itu"
Sambil terus berjalan menjauh dari perkotaan wulandari menceritakan hal pertemuan para pendekar itu.
Sesampainya disebuah pasar, wulandari terlihat sangat gembira dia mulai melihat lihat berbagai macam barang yang ditawarkan mulai dari perona bibir, kain,tusuk konde, bahkan dia membeli jajanan pasar yang ada dipinggir jalan, sementara itu joko abang terlihat sangat menikmati suasana keramaian dan keramahan penduduk sekitar, maklum selama ini joko abang jarang sekali berada dikeramaian.
"Eh joko sini kamu coba makan kue ini, ini adalah kue kesukaanku" joko segera mengambil kue yang ditawarkan wulandari dan terlihat sangat menikmatinya,
"Emmh ini adalah makanan terenak yang pernah aku makan" ucap joko sambil terus mengunyahnya
"Sini sini minta lagi"
"Enak aja aku cuma nyuruh nyicipin bukan ngabisin ,nggak boleh"
"Sini kasih aku lagi" joko sambil berusaha merebut kue tersebut,
"Nggak boleh" ucap wulandari sambil berlari lari manja menghindari joko yang terus berusaha merebut, entah mengapa mereka terlihat semakin akrab antar satu dengan yang lainnya, semakin banyak mereka mengobrol mereka terasa semakin dekat, dan tanpa kesepakatan apapun mereka seolah berjalan dengan tujuan yang sama.
'gdebuk...gdebuk...gdebuk...' terdengar suara beberapa derap kuda yang berbaris rapi berderet dua kesamping dan memanjang sebanyak enam ekor kebelakang, dibelakang barisan kuda, terdapat dua ekor kuda yang menarik sebuah kereta yang terlihat sangat bagus, dan para penunggangnya adalah para prajurit kadipaten.
"Hop.. hop.. hop" perintah dari prajurit terdepan, sembari mengangkat tangan kanannya, dia lantas turun dari kudanya, seraya beberapa orang prajurit yang menunggang kuda di belakangnya bergegas membawa sebuah papan yang mirip dengan meja, lantas meletakkannya ditanah , kemudian prjurit tersebut naik ke atas papan lantas membuka sebuah surat pengumuman dan segera membacakannya.
"Woro woro utawa pengumuman" ucap prajurit tersebut dengan lantang, Semua orang yang berada di sekitar pasarpun berkerumun dan memperhatikan dengan seksama, menunggu pengumuman apa yang akan disampaikan prajurit tersebut.
"Disampaikan kepada seluruh rakyat kadipaten kebondalem, bahwa mulai besok seluruh pajak, baik itu perdagangan maupun pertanian akan dinaikkan 10% dari pajak semula, bagi siapa saja yang tidak menerima perihal kenaikan pajak tersebut, maka akan dianggap melawan kerajaan 'sabawana' sekian penguman tertanda bupati kebondalem radenmas warto".
Begitu mendengar apa yang disampaikan oleh prajurit tersebut, wajah wulandari memerah, dan diapun tak sanggup untuk menahan emosinya yang meledak ledak,
__ADS_1
"Woi kalian itu ya jangan seenak perut..em em em" teriak wulandari yang buru buru ditutup mulutnya oleh joko abang.
"Maaf maaf tuan tuan ini adik saya memang agak sedikit kurang waras jadi harap maklum" saut joko abang menenangkan para prajurit yang terlihat ganas dan seolah olah siap menerkam wulandari.
"Enak saja kau bicara em..em..em.." joko abang kembali menutup mulut wulandari.
"Sst sstt.. sudah sudah gak ada gunanya melawan mereka nanti kalau kita ribut disini kasihan para pedagang dan rakyat desa sini yang menanggung akibatnya".
"Hei anak muda sebaiknya kau jaga mulut adik kamu itu dengan baik jangan sampai pedangku ini merobek mulutnya yang lancang itu"
"Baik... Baik tuan sekali lagi saya minta maaf"
Joko abang bergegas menarik wulandari menjauh dari barisan prajurit itu, "sudah sebaiknya kita makan saja terlebih dahulu, itu ada rumah makan kelihatannya masakannya enak enak, "ayookkk" ucap joko abang seraya terus menarik lengan wulandari.
Sesampainya dirumah makan, joko abang dan wulandari mengambil tempat duduk dan memesan makanan, dan didalam rumah makan tersebut sudah ada beberapa pendekar, yang kali ini terdiri dari dua puluhan wanita cantik. Mereka mengenakan warna pakaian yang sama, selain pakaian penampilan mereka pun hampir serupa, hanya wajah saja yang membedakan diantaranya, hanya satu diantara mereka yang mengenakan pakaian dengan warna yang berbeda.
"Arundaya segera kamu pesankan makanan untuk kita" ucap seorang dari mereka yang mengenakan warna baju berbeda dan nampak berwajah lebih tua dari yang lain,
"Baik guru" jawab seorang murid bernama arundaya, dia bergegas memanggil pelayan dan memesankan makanan.
"Bawita besok guru akan mempercayakan kepadamu untuk turun tanding melawan jagoan dari perguruan lain, dan seandainya kamu menang maka guru tidak usah turun tangan untuk memperebutkan tahta naga, tapi seandainya kamu kalah maka terpaksa guru harus turun tangan"
"Hmmm jangan terlalu jumawa, berhati hatilah karena musuh pendekar sesungguhnya adalah dirinya sendiri" sang guru memberikan nasehat ya.
"Baik guru bawita mohon maaf"
" Ayo kita makan setelah itu kita sekalian menginap saja disini karena padepokan 'macan kumbang' tidak jauh dari sini.
Terdengar riuh suara para pendekar perempuan itu yang terlihat begitu lahap memakan hidangan yang disajikan,
Mereka menyantap sambil sekali kali bergurau diantaranya.
'gubrak' terdengar suara pintu rumah makan dibuka dengan sangat keras, seketika mengagetkan seluruh pengunjung dan pelayan dirumah makan tersebut.
"Pelayan sini cepat kau ambilkan makanan dan arak yang paling enak, huahahahaha" terlihat empat pria bertubuh kekar yang masing masing bernama Sentot, slamet,Sugito dan basreng.
"Wah wah wah nampaknya hari ini kita sangat beruntung kakang selain mendapatkan tempat makan yang enak kita juga akan ditemani gadis gadis cantik ini" ucap basreng sambil berlagak sangat genit.
__ADS_1
"Huahahahah benar juga ya" ucap sentot seraya ngeloyor menuju meja makan para gadis itu.
'Sring...Sring...Sring...' secara bersamaan para gadis itu mencabut pedang mereka dan bersiap untuk menyerang
"Waladalah... Kok galak galak banget yak " sentot terkaget dan reflek melompat kebelakang "hahahah" sembari tertawa dengan meledek
"Hemmm empat pendekar nangijab barat, ternyata reputasi kalian memang tidak bisa diragukan, Arogan, Bedebah sejati, dan cabul. semestinya aku sudah membunuh kalian dari dulu"
"Walah walah ternyata gadis gadis cantik ini murid murid dari nyai Dasimah to walah... walah..." Ucap slamet yang memang terlihat paling kalem diantara empat orang tersebut.
"Sudah sudah kang sentot sama kang basreng duduk saja sini jangan ganggu gadis gadis itu, besok saja kita berurusan dengan mereka"
Lantas sentot dan basreng pun duduk tepat disebelah sugito.
"Nyai dasimah saya mohon maaf buat kakang kakangku ini ya jangan mudah marah nanti keriputnya bertambah lho" slamet melanjutkan bicaranya dengan sedikit mengejek mereka.
"Kurang ajar" sring bawita menghunuskan pedangnya segera mau menyerang slamet, namun sebelum bawita melangkah tangannya sudah dihalangi oleh nyai Dasimah
"Sudah tidak usah kau hiraukan ucapan mereka, kalian duduklah kembali, habiskan makan kalian dan segera kita menuju paviliun"
"Baik guru" para murid menjawab dengan serempak.
Sementara itu joko abang dan wulandari hanya mengamati seraya sesekali saling berbisik,
"Eh wulan itu mereka dari perguruan apa sebenarnya?" tanya joko abang sambil berbisik
"Itu yang perempuan perempuan dari Perguruan 'sekar putih', kalau yang empat orang itu kakak beradik terkenal dengan sebutan 'nangijab utara"
"Oh ya ya ya" kalua begitu malam ini kita menginap disini saja besok kita ikuti mereka ke tempat acara"
"Aku sudah tahu tempat acaranya, tapi nggak papa kita menginap disini soalnya ini juga satu satunya penginapan di desa ini"
"Okelah mari kita pesan dua kamar untuk kita"
Joko dan wulan segera memanggil pelayan dan menanyakan perihal kamar tidur,
"Pelayan kami pesan dua kamar tidur ya "
__ADS_1
"Maaf tuan muda kamar tersisa satu saja habis dipesan sama nyai dan empat orang tadi"
"Waduh gimana ini" joko dan wulan saling memandang dengan wajah yang memerah....