
Dengan bangga bawita turun dari arena pertandingan, wajahnya terlihat sumringah, begitupun para murid sekar putih mereka tertawa riang, namun segera diingatkan oleh nyai dasimah bahwa ini baru pertandingan pertama jadi jangan terlalu senang karna masih banyak musuh yang harus dihadapi, Bawita segera menganggukkan kepala diikuti para murid yang lainnya.
Pertandingan demi pertandingan sudah dilalui banyak peserta yang bersimbah darah diarena, tibalah giliran 'empat nangijab dari utara' yang diwakilkan oleh Basreng,
Basreng naik podium dengan gagahnya, dan menunggu sang lawan naik keatas arena, namun joko abang dan wulandari yang berdiri dibarisan paling pojok, merasa keheranan kenapa tidak ada orang yang maju ke depan, semua mata tertuju pada mereka dan seketika wulandari menyadari bahwa lawan basreng adalah mereka, sang juri mempersilahkan sallah satu dari mereka naik keatas arena, wulandari segera mendorong joko abang untuk naik, namun joko abang berusaha untuk menolaknya, wulandaripun berbisik ditelingan joko abang.
"Heh kalau kamu nggak mau naik kita bakalan dikepung oleh mereka, karena kita pasti akan ketahuan masuk tanpa undangan"
Joko pun dengan terpaksa naik dan memperkenalkan diri.
"Hmmm perkenalkan para pendekar sekalian nama saya joko abang" ucap joko sambil terbata dan malu malu
"Saya dari perguruan emm" joko memikirkan nama perguruan yang cocok karena selama ini gurunya hanya punya satu murid yaitu dia seorang dan tak pernah memberi tahu apa nama perguruannya.
"Emmm saya dari perguruan emm 'Macan luwe' ya... Itu "
Seketika para pendekar itu tertawa mendengar nama joko abang dan perguruan macan luwe, joko hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya.
"Woi siapa namamu barusan joko abang? Wkkwowkwkwkkakao dari naama saja sudah tidak meyakinkan, sebaiknya kamu menyerah saja dan turun dari arena ini daripada nanti kamu babak belur kuhajar" ujar basreng menertawakan joko abang.
"Emm ya ya ya boleh boleh tapi setelah kamu mencium pantatku gimana? Haahahaha" ucap joko abang balas menertawakan basreng
Seketika suasana menjadi riuh karena adu mulut antara basreng dan joko abang.
"Ahhhh sudah sudah ayo kita mulai saja biar kusumpal mulut lancang mu itu" teriak basreng seraya menyerang joko abang. Sang pemukul gong pun buru buru memukul gong setelah basreng dengan gegap gempita menyerang joko abang, dan pertempuran yang sengit pun terjadi.
Basreng menyerang menggunakan semua kemampuannya baik dengan kaki, tangan, maupun golok besar yang dia pegang.
Basreng mengayunkan golok mengarah kebatang leher joko, namun joko hanya menghindarinya dengan berputar, joko terus berlari mengitari basreng kakinya begitu lincah seperti kijang berliak liuk kekiri dan kekanan, sesekali dia berputar sambil berbaring bertumpu pada salah satu tangannya, basreng tetap menyerang tanpa henti, walalupun tebasan, pukulan dan tendangannya tak satupun yang mengenai joko abang.
Basreng terengah engah dan mengacungkan tangan sembari berkata.
__ADS_1
"Sebentar sebentar tak ambil nafas sebentar" rupanya karena terlalu semangat menyerang akhirnya basreng kehabisan nafasnya, namun joko abang nampak baik baik saja sambil berkacakpinggang joko menertawakan basreng.
"Ealaaaah itu saja kemampuanmu ki basreng?, gimana gimana apa masih sanggup?, Nafas gimana nafas amankan?" Joko memancing amarah basreng.
"Jancoooook koen!" Teriak basreng seraya menghunuskan goloknya yang besar, joko abang hanya melipat perutnya kedalam sembari melayang kebelakang menghindari tusukan basreng, setelah kakinya menyentuh garis batas arena, joko langsung memutar badannya kearah kiri dan seketika joko sudah berada dibelakang basreng lalu menendang pantat basreng, seketika basreng terjungkal ketanah, dan setelah menendang pantat basreng joko abang melipat kaki kirinya diatas kaki kanannya seolah sambil duduk santai, dengan menahan malu basreng langsung melompat kembali ke arena sembari menendang kearah wajah joko secara bertubi tubi, joko kembali mundur dengan melayang dan tangan yang menangkis kaki basreng yang secara bergantian terus menerus menendang wajah joko, sembari melayang. Namun kali ini joko tidak hanya menghindar dan menangkis, joko menangkap kaki kanan basreng dan menariknya hingga basreng terjatuh dengan keras, belum sempat basreng berdiri joko sudah berada tepat dihadapan basreng.
basreng melingkarkan kakinya keatas berusaha untuk bangun namun dengan keras joko lsg menendang perut basreng.
basreng pun hanya bisa terdiam membisu, wajahnya meringis menahan sakit, kedua tangannya memegang perut, dan dari mulutnya mengucur darah segar. Basreng berusaha untuk bangkit, namun kakinya gemetar tak kuasa menahan sakit pada pergelangan kaki karena keseleo waktu ditarik oleh joko.
Sentot dan sugito bergegas naik kearena dan memapah basreng sementar slamet hanya mengawasi seolah memikirkan sesuatu.
Suara riuh mulai terdengar tepuk tangan dan celaan seolqh silih berganti menyoraki basreng yang turun dari arena dengan dipapah oleh kedua saudaranya.
'Duenggg!!' suara gong kembali terdengar.
"Baiklah para pendekar sekalian kita sudah memiliki 16 pendekar yang berhak maju kebabak kedua, dan selanjutnya bagi perguruan silat yang wakilnya mengalami kekalahan maka akan saling berhadapan dan bagi 8 wakil yang menang akan masuk babak kedua.
Setelah mendapatkan 8 pemenang acara hari itupun ditutup dan akan dilanjutkan pada esok hari untuk pertandingan babak kedua yang berarti akan mempertemukan 24 perguruan, para pendekarpun bergegas mendirikan tenda penginapan disekitar dilapangan sekitar arena.
"Eh wulan kita bagaimana?"
"Emm ya terpaksa kita tidur disini"
"Waduh dingin banget, kita ndak ada tenda"
"Eh itu sepertinya ada api unggun mari kita kesana"
"Baiklah" jawab joko abang yang nampak lelah.
"Maaf nyi dan kakak kakak semua" joko abang menyapa beberapa wanita yang ada disana.
__ADS_1
"Bolehkah kami sekedar numpang menghangatkan badan disini"
"Oww silahkan silahkan jawab nyi dasimah, perkenalkan saya nyai dasimah dan ini murid murid saya"
"Oh iya nyi nama saya joko abang, dan ini adik saya wulandari".
Joko dan wulan segera duduk dekat dengan perapian dan begitu terkena hangat nya api secara tiba tiba perut joko dan wulandari berbunyi secara bergantian karena kelaparan.
Nyai dasimahpun menyuruh murid muridnya untuk memberikan makan pada joko dan wulan.
Joko dan wulan tanpa basa basi langsung menyantap makanan yang dihidangkan oleh arundaya dengan begitu lahap.
Setelah mereka selesai menyantap hidangan nyai dasimah pun memberikan kain pada joko abang.
"Ini ada kain buat nakmas joko, dan untuk wulandari sebaiknya kamu ikut arundaya tidur dikemah saja, ndak pantas jika perempuan tidur diluar"
"Terima kasih nyi" ucap joko
"Baik nyi kami sungguh menghargai budi baik nyai" timpal wulandari
"Tidak usah sungkan, tolong menolong adalah hal yang baik bukan?" Wulandari bergegas mengikuti arundaya ke perkemahan.
Sementar joko menata jerami disebelah perapian dan duduk sambil menutup badannya dengan kain.
Keesokan paginya banyak pendekar sudah bersiap menuju arena dan terlihat joko masih pulas tertidur disamping perapian, dengan lembut arundaya menggoyang goyangkan badan joko berusaha untuk membangunkannya, jokopun terperanjat dan terkaget, jantungnya berdebar kencang melihat sesosok wanita yang sangat cantik dan anggun membangunkannya, arundaya hanya tersenyum lalu berkata,
"Saudara joko silahkan bergabung dengan guru kami untuk makan pagi, setelah itu kita baru kearena"
"Oh iya iya " joko masih terkaget dan terkagum melihat sosok arundaya yang begitu mempesona, joko segera bangun dan melipat kain yang dia pake, dan segera bergegas bergabung bersama nyai dasimah.
Bersambung....
__ADS_1