Takdir Cinta Nayyara

Takdir Cinta Nayyara
Terlihat Baik-baik Saja


__ADS_3

Hujan lebat dan angin kencang mengguyur kota Solo, Nayya merasa cemas dengan dirinya sendiri. Iya dengan dirinya sendiri yang berada di rumah SENDIRIAN. Faiz? Dirinya tengah berada di masjid shalat Jum’at, sedangkan Azizah? dirinya tengah ke rumah cucunya yang pertama.


Nayya semakin takut kala angin bertambah kencang. Nayya takut jika genting-genting rumah akan terbang terbawa angin seperti saat dirinya berada di rumahnya dulu.


Sedangkan di masjid, usai shalat Jum'at, Faiz mencemaskan Nayya yang berada di rumah sendirian. Faiz mau pulang pun tak membawa payung, bahkan dirinya juga tak membawa motor tadi.


Tak selang lama handphone Faiz berdering dan dirinya segera masuk ke dalam masjid saat angin bertambah kencang, bahkan papan reklame kecil pun turut beterbangan. Setelah berada di dalam masjid dirinya segera mengangkat telepon itu.


"Halo dek, gimana?, rumah aman? Apa mas perlu pulang sekarang? Mas tadi nggak bawa payung, soalnya mas liat cuacanya bagus eh nggak taunya malah hujan lebat sama angin juga. Mas juga nggak bawa motor ini" jelasnya di seberang telepon, Nayya yang mendengarnya pun mengurungkan niatnya untuk menyuruh agar Faiz pulang segera.


"Yaudah mas nggak papa, tadi Nayya kira mas bawa payung jadinya bisa pulang, soalnya Nayya takut banget kalau gentingnya terbang kebawa angin kaya dulu di rumah Nayya" suara Nayya terdengar jelas seperti menahan isak tangis.


"Mas pulang aja ya kalau gitu" jelasnya langsung mendapat penolakan dari Nayya.


"Udah mas nggak usah, nanti malah ada apa-apa di jalan" khawatirnya pada sang suami, dan sedetik kemudian Nayya mematikan teleponnya secara sepihak saat mulai terdengar petir dari kejauhan.


Faiz semakin cemas kala petir pun mulai terdengar, alhasil dengan keberaniannya dirinya menerjang hujan lebat dan angin kencang itu menuju rumahnya. Setelah kurang lebih lima menit berlari, sampailah di depan rumahnya. Faiz segera mengetuk pintu rumahnya itu.


Tok... Tok... Tok...


Nayya yang terduduk sembari menyembunyikan wajahnya di lipatan tangan itu pun berdiri dan segera membuka pintu.


"Mas Faiz" kagetnya kemudian segera memeluk suaminya, dan menangis dalam dekapannya. Faiz merasa lega akhirnya bisa sampai rumah dengan selamat dan juga menemui istrinya yang masih baik-baik saja.


"Udah dek, kamu basah nanti" Nayya pun segera melepas pelukannya. Dan mengusap air matanya yang masih keluar.

__ADS_1


"Mas kenapa ngeyel pulang, padahal hujan lebat gini, hiks hiks, Nayya kan takut kalau mas kenapa-kenapa di jalan" ujarnya dengan sesekali terisak.


"Udah jangan nangis" ujar Faiz mengelus pundak Nayya dan memeluknya lagi. "Ni, buktinya mas nggak kenapa-kenapa kan?" Nayya pun mengangguk dan segera melepas kembali pelukannya, dirinya berjalan ke kamar dan mengambil handuk untuk suaminya.


"Ini mas handuknya, Nayya rebusin air dulu buat mandi, biar nggak demam" jelasnya kemudian segera pergi ke dapur dan merebus air untuk mandi suaminya.


Usai mandi, Faiz dan Nayya pun memilih duduk di ruang tamu, agar nanti jika angin semakin kencang, atau genting yang roboh, mereka bisa segera lari keluar.


Namun, tampak dari celah jendela hujan mulai mereda sedikit demi sedikit, pun anginnya juga sudah tak sekencang tadi.


"Alhamdulillah hujannya udah reda" ujar Faiz saat berdiri di ambang pintu. Kemudian dirinya berjalan masuk dan duduk di samping Nayya.


"Dek, buatin teh panas ya, buat anget-anget hehe" ujarnya kemudian diangguki oleh Nayya dan Nayya pun segera beranjak ke dapur.


Usai membuat dua teh panas, satu untuk Faiz dan satu untuk dirinya, Nayya berjalan menuju ruang tamu. Kemudian Faiz segera meraih gelas berisi teh panas itu, meniupnya pelan dan kemudian meminumnya sedikit demi sedikit, begitu juga Nayya.


"Assalamualaikum" salam Alifa sembari melepas jas hujannya.


"Wa'alaikumsalam" jawab keduanya, Alifa pun menyalami Faiz, tapi tidak untuk Nayya. Melihat perlakuan kakaknya, Faiz mengkode Nayya agar sabar menghadapi kakaknya. Dan Nayya pun hanya tersenyum dan menarik kembali uluran tangannya.


"Nay, buatin minum ya buat mbak Alifa" Nayya pun segera mengangguk dan berjalan ke dapur membuatkan minuman untuk Alifa. "Mbak, ayo duduk dulu" ujarnya pada Alifa yang masih berdiri.


"Nggak kerja Iz?" tanya Alifa saat keduanya sudah duduk di ruang tamu.


"Masuk nanti jam setengah tiga mbak, sampe malam" jelasnya yang diangguki oleh Alifa. Setelahnya minuman sudah dibawakan oleh Nayya dan Nayya pun mempersilahkan supaya Alifa meminumnya. Dan Nayya pun kembali duduk bersama suaminya.

__ADS_1


"Mbak kesini mau nyari ibu, mau ajak main ke rumah soalnya Alya kangen sama ibu" jelasnya membuat Nayya dan Faiz mengangguk.


"Ibu nggak di rumah mbak, ibu lagi ke rumah mas Farhan, nengok cucunya juga, paling nanti sore pulang mbak, soalnya malemnya kan ada kajian di masjid" Alifa pun hanya manggut-manggut.


'Nayya, Nayya... Mungkin sekarang kamu masih terlihat baik-baik saja, tapi tidak untuk nanti' batinnya saat melihat Nayya dan Faiz yang bermesraan di depannya.


Usai meneguk minuman itu hingga tandas, Alifa pun segera pamit karena masih harus mengerjakan pekerjaan rumah juga yang belum selesai.


Tinggallah mereka berdua di rumah, tak terasa jam menunjukkan pukul setengah tiga sore Faiz pun pamit untuk berangkat kerja.


"Dek, mas berangkat kerja dulu ya, nanti kalau ibu pulang, biarin istirahat soalnya nanti Maghrib sampe isya mau ikut kajian, ya kaya biasanya" jelasnya membuat Nayya mengangguk dan segera bersalaman dengan suaminya, tak lupa Faiz mengecup kening Nayya.


"Tumben banget" ujar Nayya karena tak biasanya Faiz mengecup keningnya saat hendak berangkat kerja. Biasanya hanya usai shalat Faiz mengecup kening sang istri.


"Nggak papa pengen aja" jelasnya membuat Nayya terkekeh. Dan setelahnya Faiz segera menaiki motornya dan melajukan motor itu ke tempat kerjanya.


Faiz merasakan getaran yang berbeda saat dirinya meninggalkan Nayya yang berdiri di ambang pintu. Hatinya seolah berbicara tak mau kehilangan Nayya dan ingin terus ada di sampingnya.


Entah firasat apa yang sedang menggelayut dalam dirinya. Dirinya takut suatu hal terjadi pada Nayya.


***


"Enaknya kapan ya aku kirim foto ini ke Faiz, sekarang aja lah" gumam seorang wanita yang duduk di ruang tamu itu.


Tanpa pikir panjang dirinya menekan room chat milik Faiz dan mengirimkan foto yang sempat ia ambil beberapa hari lalu.

__ADS_1


Setelah terkirim dirinya mengambil SIM card itu dan dibuangnya ke tempat sampah. Ya, perempuan itu memakai nomor baru agar tak diketahui identitasnya.


"Drama dimulai" ujarnya dengan tatapan sinis kemudian kembali beralih dengan handphonenya.


__ADS_2