Takdir Cinta Nayyara

Takdir Cinta Nayyara
Terbongkar


__ADS_3

Ting...


Suara notifikasi handphone milik seorang lelaki terdengar begitu nyaring di musholla tempat lelaki itu bekerja.


Ya, pukul enam petang adalah waktu dimana para karyawan beristirahat, ada yang makan, ada yang shalat, ada juga yang memilih tidur untuk sekedar mengusir lelah.


Usai shalat lelaki itu segera meraih handphonenya yang ia letakkan di samping sajadah dan segera membaca notifikasi itu.


+62857xxxxxxxx


Sent a picture


'Nomernya siapa?' batin lelaki itu bertanya.


Karena penasaran lelaki bernama Faiz itu segera membukanya. Dan seketika deru napasnya mulai tak beraturan, tangan satunya pun mulai terkepal begitu saja. Raut wajahnya juga berubah menjadi raut kemarahan yang luar biasa.


Bagaimana tidak? Istrinya ada di dalam foto itu, bersama lelaki yang sudah jelas bukan dirinya. Lelaki bertopeng, berpakaian serba hitam, meniduri istrinya itu.


Matanya mulai memanas, sesak sekali dadanya. "Dasar perempuan pengkhianat" geramnya sembari mematikan handphone dan mengusap rambutnya frustasi.


Rasanya Faiz ingin cepat-cepat pulang, meluapkan emosi pada istrinya.


***


Saat ini usai shalat isya' Nayya tengah menyeduh minuman chocolate matcha yang biasa menjadi teman menulisnya. Setelah diseduh dengan air panas, ia aduk-aduk sebentar kemudian di bawa ke ruang tamu sembari menenteng laptopnya.


Setelah sampai di ruang tamu, diletakkan laptop itu juga cangkir yang berisi hot matcha miliknya.


Nayya mulai membuka laptop dan menulis cerita di laman microsoft word. Saat dirinya hendak mengetikkan sesuatu di sana, ia urungkan karena dirinya mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu.


Tok... Tok... Tok...


Nayya segera beranjak dari duduknya, kemudian berjalan dan membuka pintu rumah itu.


"Mbak Alifa, silahkan masuk mbak" ujarnya mempersilahkan Alifa juga putrinya 'Alya' untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Nggak usah sok manis. Saya kesini mau bertemu sama Faiz juga ibu saya" ujarnya ketus membuat Nayya mengelus dadanya.


Sakit? Sudah pasti. Rasanya Nayya ingin menangis. Tapi tidak, Nayya akan berusaha tegar, ini kah yang di maksud ujian pernikahan? Pikir Nayya.


"Ibu masih di masjid mbak, ikut kajian, ini kan hari Jum'at" Alifa pun hanya diam dan mengangguk sembari membuka ponselnya.


"Udah ngomongnya?" Nayya pun mengangguk. "Kalau ada tamu itu di buatin minum dulu, baru di ajak ngobrol, terus ini kenapa ada laptop di sini, jangan-jangan ini laptop beli pakai uangnya Faiz ya" tuduhnya asal.


"Astaghfirullah enggak mbak, itu Nayya beli waktu Nayya SMA, mbak boleh nggak suka sama saya tapi jangan memfitnah gini, fitnah lebih kejam dari pembunuhan mbak" nasihatnya pada kakak iparnya itu. Entah apa salahnya dan dimana salah dirinya sehingga membuat Alifa gelap mata padanya.


"Alah udah nggak usah sok ceramahin saya. Mending sekarang kamu ke dapur buatin minum" suruhnya kemudian Nayya segera pergi ke dapur membuatkan dua minuman untuk Alifa juga putrinya.


Satu tetes air mata berhasil jatuh membasahi pipinya. Ingin rasanya Nayya bilang ke suaminya mengenai perilaku kakaknya ini. Namun percuma, jawabannya tetap sama 'SABAR'.


Diusapnya pipi yang tampak basah itu kemudian dirinya berjalan membawa nampan yang berisi dua gelas teh panas itu.


"Silahkan mbak diminum" Nayya mempersilahkan Alifa juga putrinya untuk minum, kemudian dirinya memberesi laptopnya juga cangkir yang berisi hot matcha itu dan membawanya ke kamar.


"Assalamualaikum" salam seorang wanita paruh baya dari ambang pintu.


"Wa'alaikumsalam" ucap Alifa dan putrinya bersamaan.


"Itu Alya kangen sama nenek sama om, terus minta ke sini" jelasnya membuat Azizah tersenyum dan menatap cucunya itu.


"Iya, kata Nayya kamu tadi siang kesini mau jemput ibu, tapi ibu lagi di rumah kakak kamu" jelasnya kemudian beralih pada Alya.


"Alya kangen sama nenek iya?" Alya pun mengangguk dan menggandeng tangan sang nenek untuk keluar rumah.


"Yaudah kamu minum-minum dulu ya Al, ini anak kamu ngajak jalan-jalan" ujar Azizah dari luar.


"Iya bu" sahutnya dari dalam dan kembali fokus dengan handphonenya.


"Nenek, nenek" ujar Alya sembari menarik ujung mukena milik Azizah.


"Hemm?" Azizah hanya berdehem menanggapi cucunya ini.

__ADS_1


"Duduk di situ" tunjuk Alya pada bangku panjang yang berada di tepi lapangan.


Ya, mereka telah sampai di lapangan yang sering digunakan untuk bermain sepak bola. Mereka mulai duduk dan Alya pun mulai menceritakan apa yang dilakukan ibunya tadi.


Alya memang anak kecil, tapi dirinya selalu jujur dan apa adanya. Merasa iba dengan orang tak mampu membelanya akhirnya Alya beri tahu pada orang yang lebih tua, ya seperti neneknya ini.


"Tadi ibu, marah-marah sama bulik nek" ujarnya membuat Azizah membolakan matanya. Lagi lagi Alifa marah sama Nayya. Dan ini udah ke sekian kalinya.


"Yaudah nanti biar nenek bicara sama ibu ya, sekarang kita pulang dulu, katanya kangen sama om. Tuh, om udah pulang kerja" tunjuk Azizah pada motor yang sudah terparkir di depan rumahnya.


Saat hendak masuk ke dalam rumah, Azizah dikejutkan dengan suara Faiz yang sepertinya tengah marah-marah, dan menyebut-nyebut nama istrinya 'Nayya'


'Apa yang terjadi?' batin Azizah bingung. Kemudian dirinya menyuruh supaya Alya duduk di luar terlebih dahulu.


Kemudian Azizah segera masuk dan melerai pertengkaran yang sempat memanas diantara mereka bertiga.


Dilihatnya Nayya yang terduduk sembari memohon-mohon pada sang suami dengan bercucuran air mata.


Kemudian ditatapnya Faiz yang tampaknya sangat marah besar pada Nayya.


"Kenapa, ada apa ini?" tanya Azizah dengan nada suara yang sedikit meninggi.


"Bu, ibu lihat ini" ujar Faiz seraya menyerahkan handphonenya.


Azizah raih handphone itu dan dilihatnya gambar dua orang satu perempuan satu lagi pria namun bertopeng. Dan perempuan itu tak lain adalah Nayya.


Dada Azizah bagai di timpa batu besar, sesak sekali rasanya.


"Saya kira kamu perempuan baik Nayya, ternyata tidak, saya salah, saya salah mengiyakan Faiz saat mau melamarmu" Azizah sudah tersulut emosi.


'Bagus, bentar lagi kamu keluar dari sini' batin Alifa sembari mengusap pundak sang ibu agar meredam emosinya.


"Bu, Nayya nggak tau apa apa soal itu, Nayya nggak tau kapan foto itu di ambil, dan siapa yang merekamnya, dan Nayya nggak merasa ada lelaki lain yang menjamah Nayya selain mas Faiz" jelasnya sembari menangis tersedu-sedu.


Sakit, sakit sekali rasanya. Entah kenapa di saat dirinya berada di titik terendah dalam hidupnya, dirinya selalu ingat sang ayah yang sudah tiada. Apakah Nayya menginginkan mati?

__ADS_1


"Tapi di foto itu sudah jelas kamu ditiduri lelaki lain" timpal Faiz. "Dan saya akan tetap menceraikan kamu, karena kamu sudah berani-beraninya mengkhianati saya" bentaknya sembari melepas kaitan tangan Nayya yang ada di kakinya.


Nayya, si gadis kecil itu masih saja menangis tersedu-sedu di depan mertuanya, suaminya juga kakak iparnya, hingga tak selang lama, matanya mulai buram dan terjatuh hingga gelap mulai merenggutnya.


__ADS_2