
"K-kok Nayya ada di sini" ujarnya saat dirinya telah membuka matanya dan mendapati dirinya yang tertidur di atas ranjang rumah sakit lengkap dengan infus yang menancap di punggung tangan kanannya.
"Udah bangun Nay? Gimana ada yang sakit?" bukan, bukan Faiz yang menanyakan itu, tapi abangnya. Abangnya sangat khawatir pada adik bungsunya ini. Sedangkan Faiz, dirinya masa bodoh dengan keadaan Nayya, mengingat kejadian beberapa jam yang lalu membuat dirinya membenci Nayya.
"Pusing dikit sama—" ucapannya tertahan saat Nayya merasa dirinya mual.
Arya yang melihat itu pun langsung menekan tombol pemanggil perawat.
"Nggak usah panggil perawat juga nggak papa bang, udah biasa. Dari dulu waktu Nay SMA juga kadang mual kalau masuk angin" jelasnya membuat Arya dan Adiba mengangguk. Sedangkan Faiz, dirinya menghindarkan pandangannya dari Nayya. Dan memilih berjalan di dekat jendela, menikmati semilir angin malam yang menerpanya.
Tak selang lama, pintu kamar Nayya terbuka, menampilkan dua perawat juga satu dokter yang masuk.
"Gimana sudah baikan?" tanya dokter itu kemudian, sedangkan perawat yang lain tengah mengecek tekanan darah, juga memastikan cairan infus tetap berjalan.
Nayya yang ditanya pun mengangguk, dan kemudian dirinya kembali mual.
"Dok, ini adik saya kenapa ya?" tanya Arya kemudian.
"Kabar baik mas, adik mas sekarang sedang hamil dan usia kandungannya berjalan tiga Minggu" Adiba juga Arya tampak sangat senang mendengarnya, begitu juga dengan Nayya.
Semoga dengan kehamilannya dirinya bisa mempertahankan pernikahannya yang sudah berada di ujung tanduk.
Faiz yang mendengar kabar kehamilan Nayya tampak sedikit murka. Bagaimana jika seandainya anak yang dikandung istrinya ini bukanlah anak biologisnya, melainkan dari lelaki yang sudah meniduri istrinya saat dia bekerja.
Kedua perawat juga dokter itu pun segera keluar usai memeriksa keadaan Nayya. Arya pun mendekat ke arah Faiz.
"Faiz, Nayya hamil, apa kamu nggak bahagia?" tanyanya pada Faiz yang memasang muka datar-datar saja.
"Saya tak tau siapa anak yang dia kandung, anak saya atau anak hasil hubungan gelapnya dengan lelaki lain" mendengar itu Nayya langsung menitikan air mata. Sakit sekali rasanya difitnah dengan suami sendiri.
"Faiz, jaga bicara kamu" sentak Arya kemudian. Faiz ingin membantah namun Nayya sudah duluan angkat bicara.
__ADS_1
"Kita tes DNA aja biar semuanya jelas" putus Nayya yang langsung diangguki oleh dua lelaki itu.
***
Esok hari tiba, pukul tujuh tepat sebelum sarapan dokter pun mengunjungi pasien-pasien sekaligus mengecek kondisi pasiennya.
"Dok, saya mau tanya, kalau tes DNA waktu hamil bisa?" tanya Nayya saat dokter tengah memeriksanya.
"Bisa mbak, tapi saat usia kandungan 10-12 Minggu ya" Nayya pun mengangguk mendengar penuturan sang dokter.
Usai dokter itu keluar tinggallah dirinya sendiri di dalam kamar, karena semalam Arya juga Faiz pulang ke rumah, tinggallah Adiba yang menemaninya semalam, namun karena Adiba harus masuk pagi, dirinya meninggalkan Nayya sendirian di rumah sakit.
Nayya mengelus-elus perutnya yang sudah mulai berisi. Dirinya kembali menitikan air mata. 'Sabar ya nak, ibu akan berusaha keras untuk cari tau siapa sebenarnya ayah kandung kamu' batinnya kemudian.
Dirinya kembali mual, dan merasa ada yang hendak keluar dari mulutnya, alhasil Nayya bangun dari tidurnya dan beranjak ke kamar mandi.
Sesaat setelah dirinya berdiri dan hendak melangkahkan kakinya ke kamar mandi, dirinya merasakan pusing di kepalanya dan tak bisa menahannya hingga dirinya hampir saja terjatuh ke lantai jika Faiz tak datang menolongnya.
"Mas Faiz" Nayya mengukir sedikit senyum di bibirnya saat pandangannya menyatu dengan Faiz.
"Berarti mas Faiz percaya kan kalau ini anak kita? Buktinya aja mas Faiz bela-belain nebus vitamin buat kandungannya Nayya"
"Siapa yang percaya, ini juga karena di suruh sama dokter" jelasnya kemudian mendudukkan Nayya di atas ranjang dan melepas tangan Nayya dari pundaknya.
"Saya mau pulang, masih ada kerjaan, kalau ada apa-apa pencet belnya aja" ujarnya kemudian melenggang pergi meninggalkan Nayya yang masih termenung di atas ranjang.
"Sebenci itukah mas Faiz sama aku?" gumamnya kemudian kembali menidurkan dirinya di ranjang pesakitan itu.
Ia urungkan niatnya ke kamar mandi karena merasa sudah enakan saat melihat kedatangan suaminya.
Tak selang lama, mata Nayya mulai terpejam. Dan pintu kamar terbuka, menampakkan seorang lelaki dengan pakaian serba hitam, juga bertopeng.
__ADS_1
Ya, pria bertopeng itu kembali mengusik Nayya. Sungguh saat pertama kali bertemu Nayya, dirinya sudah menginginkan tubuh itu untuk menjadi pelampiasan hawa nafsunya.
"Kita ketemu lagi cantik" tuturnya sembari mengelus-elus pipi Nayya. Kedua tangannya mulai memegang tangan Nayya, tak peduli dengan infus yang masih menancap di tangan kanannya.
Lelaki itu dengan gairah nafsunya, mulai mencium bibir Nayya, sangat nikmat, itulah yang lelaki itu rasakan.
Sedangkan Nayya mulai membuka matanya karena merasa kehabisan oksigen juga tangan kanannya yang di pasang jarum itu terasa sakit.
Namun, begitu terkejutnya saat mata gadis itu terbuka dan melihat lelaki bertopeng itu sudah mengungkungnya di atas ranjang dengan memeganginya kedua tangan Nayya, membuat Nayya tak bisa berbuat apa-apa.
"Tolong..." teriaknya namun dengan segera lelaki itu kembali mencium bibir Nayya, membuat Nayya tak bisa berbicara lagi.
Air mata mulai keluar dengan sendirinya. Apa dosanya hingga dirinya mendapatkan perlakuan yang hina seperti ini.
'Ibu, Adiba, Bang Arya, mas Faiz, tolongin Nayya' batinnya dan disusul dengan air mata yang terus keluar.
Pintu kembali terbuka, menampakkan Faiz yang berdiri mematung di sana, niat Faiz kembali adalah untuk mengambil handphonenya yang tertinggal.
Namun dirinya dikejutkan dengan pria bertopeng yang mengungkung istrinya dan terus mencium istrinya ini. Marah? Sudah pasti, Faiz segera masuk dan menarik kerah belakang baju pria itu untuk turun.
Satu bogeman mentah mendarat di pipi pria bertopeng itu, hingga jatuh tersungkur. Karena penasaran Faiz segera menarik kain yang menutupi wajah pria itu namun dicekalnya tangan Faiz dan adegan saling pukul pun terjadi di dalam kamar itu. Nayya yang tak bisa apa-apa dirinya segera menekan bel.
Karena merasa sudah tak aman, pria bertopeng itu langsung melarikan diri sebelum para perawat datang.
"Ada yang bisa di bantu?" tanya seorang perawat yang masuk, kemudian mengecek botol infus yang masih setengah itu dan netranya menangkap pada darah yang sudah mulai masuk ke selang infus.
"Waduh, tangannya bengkak ya mbak, darahnya juga ikutan keluar, infusnya saya pindah tangan kiri aja ya, kalau nggak di ganti nanti sakit" tuturnya ramah pada Nayya "sebentar saya ambil alatnya dulu" lanjutnya, kemudian perawat itu berjalan keluar.
Namun langkahnya terhenti saat Faiz memanggil perawat itu.
"Gimana mas?"
__ADS_1
"Dilepas aja sus infusnya, saya mau membawa pulang istri saya" jelasnya membuat Nayya bingung. 'Kenapa tiba-tiba mas Faiz pengen bawa aku pulang?' tanyanya dalam hati.
"Baik kalau gitu, sekarang mas langsung ke receptionis aja untuk mengurus kepulangan pasien" jelasnya kemudian Faiz segera pergi ke ruang receptionis untuk mengurus kepulangan Nayya. Faiz merasa jika Nayya terus di rumah sakit, hal serupa akan terjadi lagi, alhasil dirinya memilih membawa pulang istrinya.