
"Nay, Nayya" teriak Faiz sambil menepuk-nepuk pelan pipi istrinya. Meskipun dirinya sedang diselimuti amarah yang besar, namun saat melihat keadaan istrinya yang tak sadarkan diri seperti ini, dirinya merasa iba.
"Halah, pengkhianat, paling cuma pura-pura pingsan biar di perhatiin" timpal Alifa setelah keluar dari kamar Azizah sembari menutup pintu kamar itu. Dirinya baru saja menuntun Azizah ke kamar karena sang ibu tiba-tiba saja merasa pusing.
"Enggak deh mbak, kayaknya Nayya beneran sakit, badannya aja agak demam gini" tutur Faiz seraya menempelkan punggung tangannya ke dahi Nayya, suhu tubuh Nayya lebih tinggi dari biasanya. Alifa pun hanya melenggang pergi menemui putrinya yang masih di luar.
Tak ada pilihan lain, Faiz merogoh sakunya mengambil handphone dan memesan taksi online untuk membawa Nayya ke rumah sakit, karena takut jika nanti terjadi apa-apa dengan istrinya.
"Mbak, titip ibu sebentar ya, Faiz mau bawa Nayya ke rumah sakit dulu" ujarnya saat taksi online yang dipesannya sudah datang.
"Kamu itu ya Iz, dibilangin batu banget, emang pantas pengkhianat kaya dia di tolongin?" jelasnya membuat Faiz terdiam dan memilih melanjutkan langkahnya sembari membopong Nayya masuk ke dalam mobil.
'Saya bingung harus mencintai kamu atau membenci kamu' batinnya seraya mengusap pucuk kepala Nayya yang terbalut dengan jilbab armynya. Kemudian dirinya beralih menatap ke depan melihat jalanan yang masih tampak ramai padahal sudah jam sepuluh malam.
Setelah mobil mengendara selama kurang lebih sepuluh menit, sampailah di rumah sakit terdekat. Mobil berhenti tepat di depan IGD. Pintu mobil terbuka dan langsung disambut beberapa perawat sembari membawa brankar.
Alhasil Nayya di tidurkan di salah satu brankar itu, kemudian para petugas mulai mendorong brankar itu masuk ke dalam IGD. Sedangkan Faiz hanya menunggu di luar, membiarkan petugas medis melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya.
Satu jam kemudian, Nayya sudah dipindahkan ke ruang rawat dan sudah dilakukan beberapa pemeriksaan, untuk memastikan jika tidak ada luka yang serius.
Sembari menunggu Nayya bangun dari tidurnya, Faiz pun mencoba menghubungi keluarga Nayya.
"Assalamualaikum" salam Faiz saat handphonenya sudah terhubung dengan milik Arya.
"Wa'alaikumsalam Iz ada apa? Tumben malam-malam gini nelpon" tanyanya pada Faiz. Karena tak biasanya Faiz menelpon dirinya malam-malam begini, apalagi tak ada kepentingan yang mendesak.
__ADS_1
"Mas ke rumah sakit xxx sekarang ya, Nayya lagi di rawat di sini" jelasnya pada Arya.
"Nayya kenapa Iz kok sampai di rawat di rumah sakit?" terdengar Arya yang nampak terkejut di seberang teleponnya.
"Mas kesini aja di kamar Seruni nomer 5" jelasnya kemudian menutup teleponnya secara sepihak tanpa ada penutupan sama sekali, membuat Arya yang berada di seberang telepon pun sedikit heran juga dihantui rasa was-was.
***
Tok... Tok... Tok...
"Diba" panggil Arya dari luar kamar sembari memakai jaketnya.
"Iya bang ada apa?" tanya Adiba sembari mengucek matanya karena mengantuk.
"Ayo ikut abang ke rumah sakit, lihat kondisi Nayya" jelasnya membuat Adiba membelalakkan matanya, dan kantuk pun sudah mulai tak terasa.
"Nggak tau, abang juga baru aja di kasih tau sama Faiz suruh ke rumah sakit sekarang" jelasnya membuat Adiba mengangguk dan segera menyambar helm juga tasnya yang berisi handphone dompet dll.
"Yaudah ayo ke rumah sakit sekarang aja bang" Arya pun segera berjalan keluar dan menaiki motornya. Begitu juga dengan Adiba yang turut duduk di belakangnya.
Setelah mengendara selama sepuluh menit, motor pun mulai memasuki area rumah sakit dan Arya pun segera memarkirkan motornya di sana. Setelahnya mereka masuk dan mencari kamar di mana Nayya dirawat.
Dan akhirnya Arya menemukan Faiz yang tengah duduk di kursi tunggu, tepat di luar kamar dimana Nayya di rawat 'Seruni Nomor 5'
"Faiz" panggil Arya dari kejauhan. Adiba pun turut menolehkan pandangannya ke arah lelaki yang barusan Arya panggil.
__ADS_1
"Gimana keadaan Nayya?" tanya Arya setelah sampai di depan ruang rawat milik Nayya.
"Masih belum sadar mas, oh iya, ada yang perlu saya bicara in sama mas" jelasnya yang diangguki oleh Arya. Dan Adiba pun memilih untuk masuk, membiarkan dua lelaki itu agar bisa leluasa berbicara.
"Ada apa Iz, kayaknya serius banget?" tanya Arya yang mendapati raut wajah Faiz tak seperti biasanya, teduh, ramah, tenang, namun kini raut itu hilang dalam diri Faiz.
Faiz yang ditanya pun hanya diam seraya merogoh sakunya mengambil benda pipih. Kemudian ia buka dan menekan room chat orang yang tak di kenal. Kemudian Faiz menyodorkan handphone itu pada Arya.
"Astaghfirullahaladzim" Arya sangat terkejut saat melihat foto itu. Bagaimana tidak, di dalam foto itu ada adiknya yang tengah di tiduri oleh seorang pria bertopeng.
"Itu yang mau saya bicarakan sama mas, Nayya mengkhianati saya, dan saya mau menceraikan Nayya mas" ujarnya membuat Arya tambah terkejut.
"Iz, kamu jangan ambil keputusan waktu marah kaya gini, bukan saya bela Nayya. Tapi Iz saya takut kamu menyesal nantinya, lagipun permasalahan ini juga belum di usut kebenarannya kan? Bisa jadi ini cuma akal-akalannya orang yang ngebenci Nayya atau kamu supaya kalian itu pisah, coba lihat lagi fotonya, ini seperti disengaja" mendengar itu, Faiz tampak termenung. Dan dirinya juga membenarkan perkataan Arya.
Tapi siapa orang yang benci dengan dirinya atau Nayya 'istrinya' begitulah yang Faiz pikirkan.
"Iya juga mas, tapi siapa yang benci saya atau Nayya?" gumamnya seraya bertanya pada Arya, sedangkan Arya hanya mengangkat bahunya tak tau.
"Saya mau cari tahu siapa pengirimnya juga di chat cuma centang satu" kesalnya sembari mengusap rambutnya kasar.
"Yang sabar Iz mungkin ini salah satu ujian pernikahan kalian, saya itu tau persis Nayya sifatnya kaya gimana jadi saya kurang yakin dan percaya sama foto yang ada di gambar itu. Dan saya yakin Nayya juga pasti tak mau di tiduri lelaki lain selain suaminya, apalagi dia udah cinta banget sama kamu Iz. Percayalah kebenaran pasti akan terungkap" nasihatnya pada Faiz, lelaki itu pun menundukkan kepalanya pasrah. Faiz merasa bingung harus membenci atau mencintai Nayya.
Di balik pintu Adiba mendengarkan dengan jelas percakapan dua lelaki itu, dari awal sampai akhir, dirinya mendengarkan semuanya. Hatinya juga sakit jika kembarannya sendiri di fitnah seperti ini.
Adiba memang tak tau kebenarannya tapi Adiba tau persis bagaimana sifat kembarannya. Dan tak mungkin melakukan hal tak senonoh seperti itu.
__ADS_1
Adiba pun mengalihkan pandangannya pada tangan Nayya yang sedikit bergerak juga mata Nayya yang pelan-pelan terbuka. Adiba pun buru-buru membuka pintu memanggil dua lelaki yang masih di luar.
"Bang Arya, mas Faiz, Nayya sadar" panggil Adiba dari ambang pintu. Dua lelaki itu pun segera masuk menemui Nayya yang kini sudah membuka matanya.