Takdir Cinta Nayyara

Takdir Cinta Nayyara
Mulai Perhatian?


__ADS_3

Usai diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, Faiz pun segera memberesi barang-barang yang ada di nakas kemudian mengajak sang istri untuk segera pulang ke rumah.


"Assalamualaikum" salam Nayya juga Faiz yang hampir bersamaan saat mereka sudah sampai di rumah.


"Wa'alaikumsalam" Azizah menletakkan sapunya sebentar dan beralih menyalami putranya.


"Udah pulang Iz, sana makan dulu, belum sarapan kan" ujarnya kemudian memegang sapu dan menghiraukan uluran tangan dari Nayya.


"Yaudah Faiz masuk dulu ya bu" ujarnya kemudian masuk diikuti oleh Nayya yang ada di belakangnya.


Hati Nayya sakit saat mertuanya tak mau menerima uluran tangannya, bahkan sekedar berbicara pun sepertinya Azizah tak mau.


Nayya pun segera masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang. Ternyata menikah tak seindah apa yang di pikirkan dirinya, Nayya tak menyangka jika semua akan jadi seperti ini.


"Allahuakbar Allahuakbar" suara adzan Dzuhur telah terdengar, Nayya segera mengambil wudhu dan memakai mukenanya. Kemudian ia menggelar dua sajadah untuk dirinya juga suaminya.


Nayya sempatkan membaca Qur'an di waktu antara adzan dan Iqamah, dirinya juga menunggu suaminya selesai wudhu.


Namun saat suaminya masuk, Faiz malah mengambil sajadah yang sudah di gelar untuk suaminya itu dan disampirkan di pundaknya.


"Mas mau kemana?" tanya Nayya bingung, tak biasanya Faiz shalat Dzuhur di masjid kecuali shalat Jum'at juga Maghrib dan isya', itu pun hanya saat ada kajian, biasanya Faiz, dirinya akan menjadi imam sholat Nayya, tapi sepertinya tidak untuk saat ini, dan mungkin seterusnya.


Tanpa membalas ucapan sang istri dirinya memakai peci dan segera berjalan keluar.


Nayya mengelus dadanya, sakit jika diabaikan dengan suami sendiri. Apakah Nayya memang harus angkat kaki dari rumah ini? Pikirnya kemudian segera menunaikan shalat Dzuhur saat Iqamah sudah berkumandang.


Usai shalat dirinya berdzikir juga berdo'a 'Yaa Allah, jadikanlah aku perempuan yang kuat, perempuan yang mampu menahan marah dengan istighfar, perempuan yang mampu menghapus dendam dengan memaafkan, perempuan yang pandai bersyukur atas segala nikmat-Mu' do'anya dalam hati.


Setelahnya dirinya segera melepas mukenanya dan berjalan keluar kamar, melakukan aktivitas seperti biasa layaknya seorang istri.


Melihat cucian menumpuk di wastafel dirinya segera mencucinya dan meletakkan kembali peralatan dapur itu ke tempatnya. Setelahnya dirinya membersihkan ruang tamu.


Usai pekerjaan rumah selesai dirinya mengistirahatkan tubuhnya di sofa sembari mengibaskan jilbabnya untuk sekedar mengusir keringatnya.


Karena kantuk yang tak tertahan, Nayya tertidur di sofa hingga tak terasa sudah pukul setengah empat sore, maknanya sang suami sudah berangkat kerja.


***


18:10 WIB

__ADS_1


"Assalamualaikum Iz, Nayya ada di rumah kamu? Soalnya di rumah sakit nggak ada" tanya Arya dari seberang telepon.


"Wa'alaikumsalam iya mas, Nayya saya bawa pulang" jelas Faiz sembari melipat sajadahnya.


"Kenapa? Emang Nayya udah boleh pulang?" tanyanya lagi.


"Sebenarnya belum mas, saya terpaksa bawa Nayya pulang karena nggak sengaja saya mergoki pria bertopeng itu kembali mengganggu Nayya. Jadi saya rasa di rumah sakit sudah tak aman, jadi saya bawa pulang aja"


"Pria bertopeng lagi? Kira-kira siapa ya? Kenapa terus-terusan mengganggu Nayya"


"Saya juga nggak tau mas, saya mau marah sama Nayya tapi sepertinya bukan salahnya Nayya, tapi coba kalau mas ada di posisi saya, ngeliat istrinya bermesraan sama lelaki lain. Pasti sakit mas"


"Iya saya tau, gini aja, gimana kalau kita cari tau siapa pria bertopeng itu. Pasti nggak jauh dari sekitar Nayya kan. Karena sudah pasti pria itu akan mencari celah untuk terus mengganggu Nayya"


"Ya sudah mas kalau gitu saya mau balik kerja dulu soalnya jam istirahatnya udah habis, assalamualaikum" pamitnya kemudian mematikan teleponnya dan kembali bekerja.


A few hours later


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, Faiz segera mengendarai motornya pulang menuju rumahnya.


Sesampainya di rumah dirinya segera masuk, tak ada suara yang menjawab salamnya, sepertinya sudah pada tidur.


"Kenapa mas" sembari mengucek matanya, Nayya bangun dari tidurnya kemudian duduk di tepi ranjang.


"Kenapa obatnya nggak di minum?" tanya Faiz dengan wajah datarnya dan terdengar ketus di telinga Nayya.


"Oh iya Nayya lupa mas"


"Lupa apa sengaja?!" terdengar nada bicara Faiz yang mulai meninggi.


"Enggak, Nayya nggak sengaja, Nayya beneran lupa"


"Yaudah habis ini makan terus minum obat" pintanya kemudian pergi meninggalkan Nayya dan menuju ruang tamu. 'Mas Faiz udah mulai perhatian?' tanyanya dalam hati.


Faiz merebahkan tubuhnya di sofa panjang dan beralih mengambil handphonenya yang ada dalam tas selempangnya.


Ting...


Notifikasi pesan mengalihkan atensi Faiz yang tengah mengikuti live streaming kajian.

__ADS_1


Mas Arya : Iz, kamu tau ciri-ciri pria bertopeng itu?


Faiz : Pokoknya mas pakaiannya serba hitam, dan cuma kelihatan mata sama mulutnya aja, hampir sama seperti perampok gitu.


Mas Arya : Hmm susah ya cari taunya. Yaudah makasih Iz.


Faiz : Iya mas sama-sama.


Karena merasa lapar, Faiz pun menuju dapur mengambil makanan, melihat ada istrinya di ruang makan ia urungkan makan di sana dan kembali lagi ke ruang tamu sembari membawa makanannya.


Usai menuntaskan makannya dirinya segera menunaikan shalat isya' kemudian mengambil selimut dan juga bantal untuk ia bawa tidur di ruang tamu.


Sedangkan Nayya, dirinya tengah menunaikan shalat isya' saat sang suami masuk mengambil selimut juga bantal itu. Setelah shalat dirinya segera keluar mencari suaminya yang ternyata sudah tidur di ruang tamu.


"Mas, bangun mas" panggil Nayya sembari menepuk pelan lengan Faiz.


"Kenapa sih ganggu orang tidur aja" kesalnya kemudian menaikkan selimutnya hingga menutupi kepalanya.


"Mas kenapa tidur di sini?" tanyanya.


"Saya lagi mau tidur sendiri!" bentaknya seraya menurunkan kembali selimutnya dan menatap tajam ke arah istrinya.


"Tapi kenapa mas?"


"Kamu tanya kenapa?! Seharusnya kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan!"


"Iya tapi Nayya minta maaf mas" tuturnya mulai berkaca-kaca sembari mengusap-usap punggung tangan suaminya. Sebenarnya Faiz tak tega jika Nayya sudah seperti ini. Rasanya Faiz ingin memeluk erat istrinya tapi hati kecil Faiz masih belum mampu menerima apa yang terjadi.


Kemudian di tepisnya tangan sang istri dan dirinya kembali tidur membelakanginya.


Azizah yang melihat dari ambang pintu pun turut mendekat.


"Kurang baik apa anak saya sama kamu, tapi kamu malah bisa-bisanya mengkhianati anak saya" ujarnya sembari melipat kedua tangannya.


"Tapi itu bukan salah Nayya bu" Azizah pun mengangkat pundaknya dan kembali masuk ke dalam kamar.


Satu titik air mata berhasil keluar Nayya segera pergi ke kamar mandi saat dirinya merasa kembali mual.


Merasa tak mual lagi dirinya kembali ke kamar dan menidurkan dirinya di ranjang. 'Nayya kira mas Faiz udah mulai perhatian sama Nayya ternyata enggak, sama aja' batinnya kemudian pelan-pelan mata itu terpejam, hingga Nayya terhanyut dalam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2