
Langkah pria itu berjalan dengan pasti memasuki rumah besar itu. Tas ransel yang ada di dalam gendongannya yang terlihat enteng, ia turunkan dan ia letakkan di sofa yang ada di ruangan itu. Terlihat sepi, tidak ada orang disana.
"Kemana semua orang?" batin Sagara.
"Ma! Mama!" Sagara berseru memanggil mamanya. Tapi tak ada yang menyahut.
"Kalau nggak ada itu dicariin. Jangan diam di sini aja. Bergerak itu kaki," omel seorang gadis yang masih berusia belasan tahun.
Gadis itu tumbuh bersama dengan Sagara dari kecil. Mereka tetanggaan. Kakek Damar dan almarhum kakek Rilla - kakek gadis itu, gadis yang bernama Nadira itu adalah sahabatan.
Dulu kala, mereka sama-sama ditugaskan di suatu pelosok. Demi mempertahankan keamanan negara, mereka rela harus berpisah dengan keluarga, mengutamakan tugas dan tanggung jawab yang diberikan negara kepada mereka.
Nadira, sudah seperti putri di keluarga mama Anggie dan papa Arian. Begitu pun dengan kakek Damar, sudah menganggap Nadira bak cucunya sendiri.
"Nggak berubah kamu ya. Tetap aja nggak sopan sama orang yang lebih tua," balas Sagara dengan mengomel juga.
Tumbuh bersama dari kecil, membuat Nadira sesuka hati bicara dengan Sagara. Meski usia mereka terpaut empat tahun. Walau kadang, Nadira menyebut Sagara sebagai kakak.
Flashback on
"Dira, jemput gih kak Saga ke bandara!" titah mama Leoni, mama Nadira dan Joan, adik laki-laki Nadira.
"Kenapa harus Dira sih, ma? Nggak ada yang lain apa?" gerutu Nadira. Entah kenapa ia malas sekali kemanapun hari ini. Badmood saat tau kondisi kakek Damar.
"Sayang, kamu tau kan gimana kondisi kakek Damar?"
Nadira mengangguk lemah.
"Mama tau, tante Anggie pasti nggak kepikiran untuk menyuruh sopir untuk menjemput Sagara ke bandara. Oleh karena itu, mama berinisiatif untuk meminta kamu menjemput Sagara. Kamu mau kan?"
Nadira masih diam. Sebenarnya ia ingin ke rumah kakek Damar sekarang. Ingin tau bagaimana kondisi kakek Damar.
"Saat ini, semua pasti khawatir. Jadi mama minta tolong sama kamu, jemput kak Sagara ke bandara ya. Pasti kakek Damar senang nanti saat ia tau cucu kesayangannya pulang," bujuk mama Leoni pada putri sulungnya itu.
__ADS_1
"Ngapain di jemput sih, ma? Kan udah besar. Bisa kan naik taksi online atau apa kek," ucap Nadira, belum mengabulkan permohonan sang mama.
"Kamu nggak rindu apa sama kakak kamu itu? Tiga tahun lebih lho kalian tidak bertemu, masa kamu nggak rindu sih? Nggak penasaran gitu se-ganteng apa dia sekarang," goda mama Leoni.
"Ganteng dari mana? Dari Hongkong? Palingan juga masih gendut," tutur Nadira. Ada saja hal yang selalu ia perdebatkan. Apalagi kalau menyangkut Sagara. Entah kenapa, sensitif sekali rasanya bila anggota keluarganya membahas lelaki yang satu itu.
"Sudahlah, nak. Jemput lah! Kasihan dia," tutur papa Darren mendukung usul mama Leoni - istrinya, papanya Nadira dan Joan.
"Hitung-hitung biar semakin dekat kamu dengan Sagara," imbuh papa Darren.
"Bukannya udah dekat dari dulu, pa?" tanya Nadira.
"Iya memang. Tapi kala itu kalian berdua masih kecil. Kalau sekarang kan kalian sudah besar," terang papa Darren.
"Ya udah deh. Dari pada mama mengoceh sepanjang jalan kenangan, iya, Dira pergi. Mana kunci mobil?" tanya Nadira dengan enteng. Tak sadar ia dengan pertanyaan itu. Padahal ia masih baru saja belajar menyetir. Terlalu semangat kali sehingga ia tanpa sadar seperti orang yang sudah profesional meminta kunci mobil yang akan ia bawa. Seolah ia sudah mahir sekali menyetir. Apakah ia sudah tak sabar untuk menyetir?
Mama Leoni menepuk jidatnya sendiri.
"Astaga, pa! Kenapa lah mama punya anak gadis se-error ini. Udah tau belum bisa bawa mobil sok sok minta kunci. Dasar," omel mama Leoni.
Ya, karena persahabatan kakek Damar dan kakek Rilla, kedua keluarga itu sudah sangat dekat. Sehingga memperlakukan Nadira bak putri di keluarga itu.
Dengan terpaksa, Nadira meminta bantuan kepada pak Deno untuk mengantarnya ke bandara, menjemput si tuan playboy yang kurang lebih tiga tahun tidak pulang ke rumah. Karena sibuk menyelesaikan pendidikannya.
Flashback off.
Jadilah sekarang, Sagara sudah sampai di rumah berkat Nadira.
Keduanya pun bergegas menuju ke kamar kakek Damar. Dan benar saja, dapat mereka lihat mama Anggie, papa Arian juga paman kecil Andra sedang duduk menunggu di depan kamar kakek Damar.
"Papa, gimana kakek?" tanya Sagara langsung.
"Tuh kan, apa papa bilang. Sagara pulang kan. Mama sih terlalu khawatir," ucap papa Arian. Senyum yang mahalnya ia kembangkan.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari sang suami, mama Anggie langsung tersenyum. Apalagi melihat gadis yang ada di sebelah Sagara. Ia merasa hadirnya Sagara di sini, tak lepas dari Nadira. Sangat yakin ia akan hal itu.
"Dira!" seru mama Anggie. Ia bukannya menyapa Sagara. Malah lebih fokus pada gadis cantik dengan rambut yang ia Cepol ke atas.
Bergegas mama Anggie menghampiri Nadira. Nyaris jatuh karena tak memperhatikan langkahnya.
"Trimakasih ya, sayang karena kamu sudah membawa putra tante pulang. Kamu memang selalu tau kalau tante ingin dia ada di sini. Saat Tante minta ia datang, eh malah abai. Tapi saat kamu yang minta dia malah cepat geraknya," ucap mama Anggie melebih-lebihkan.
Sagara mencibir. Ia tertawa getir. Segitu mahirnya mama Anggie memainkan perannya sebagai ratu drama. Bukannya menanyakan kabarnya atau memeluknya, mama Anggie malah lebih peduli pada Nadira.
Ini yang jadi anak sesungguhnya siapa sih? Kenapa rasanya Sagara yang jadi anak sambung.
"Mama kenapa sih? Bukannya nanyain kabar Saga, malah lebih peduli sama anak orang lain. Pilih kasih," protes Sagara akhirnya.
"Kan kamu baik-baik saja. Terbukti dengan cara kamu mengomel, mencibir dan mengeluh. Karena kalau kamu tidak baik-baik saja maka kamu nggak akan sanggup omelin mama. Lagian siapa bilang Nadira anak orang lain? Dia sudah mama anggap seperti putri mama," sahut mama Anggie panjang lebar.
Tak terima ia bila Nadira diperlakukan dengan tidak baik oleh anak tunggalnya itu.
Papa Arian dan paman kecil Andra, diam saja menyaksikan perdebatan ibu dan anak itu.
"Tante, sebenarnya Dira nggak -"
"Duduk sayang!" ajak mama Anggie. Ia sudah menyela Nadira yang belum selesai dengan kalimatnya.
Dengan antusias, mama Anggie menarik pergelangan tangan Nadira, membawanya menuju kursi yang ada di sana. Tatapan tajamnya ia tujukan pada papa Arian dan paman kecil Andra agar memberi ruang untuk Nadira jalan. Padahal sama sekali tak menghalangi jalan.
Sementara Nadira, tak tau harus berbuat apa. Tak bisa ia menolak ajakan dari mama Anggie. Ia akui, mama Anggie memperlakukan ia dengan baik seingat ia mulai ia lahir mungkin. Karena seingatnya, dari kecil mama Anggie memperlakukan dirinya layaknya bagian dari keluarga mereka.
Di dalam kamar kakek Damar, dokter sudah selesai memeriksa kondisi kakek. Ia ditemani oleh seorang perawat yang sengaja ia minta dari rumah sakit tempat ia praktek.
"Sagara," ucap kakek Damar dengan bergumam. Nyaris saja suaranya tak terdengar di telinga perawat yang sedang memperbaiki selimut kakek Damar.
"Sagara," ucap kakek itu lagi. Suaranya sudah lebih jelas dibanding yang tadi.
__ADS_1
"Suster, kakek bilang apa?" tanya sang dokter.
Mata kakek Damar memang terpejam, tapi mulutnya komat-kamit memanggil-manggil nama Sagara, cucu satu-satunya.