
Arian, Anggie dan Darren tersenyum mendengar ucapan Sagara. Akhirnya, apa yang mereka rencanakan berhasil. Sementara Andra, diam saja. Tak ada menunjukkan sikap apapun.
Darren menatap istrinya yang murung. Ia tau, istrinya itu sangat khawatir dan takut. Tetapi itu yang terbaik untuk kehidupan Sagara dan Nadira. Nadira yang memiliki kekurangan dan Sagara yang mesum.
Berharap, lewat pernikahan ini, Sagara berubah. Tidak lagi gonta-ganti perempuan, tidak lagi jelalatan, tidak lagi mesum. Itulah harapan semua orang tua itu kepada Sagara. Semoga, Nadira bisa mengubah Sagara menjadi lebih baik.
Setelah masuknya Sagara dan Nadira ke dalam kamar kakek Damar, semua orang tua itu berkerumun. Ingin mendengar, ingin mengetahui apa yang terjadi. Lebih tepatnya ingin memastikan apakah rencana mereka berhasil.
Dan sekarang, senyum yang bisa mereka ukir. Semua rencana mereka berjalan lancar. Ya, aksi akting pura-pura sekarat itu adalah ide dari kakek Damar. Bukan mau bermain-main dengan kondisi tubuhnya, tapi kakek ingin segera menyaksikan kedua cucunya itu menikah.
Sebelum kakek Damar meninggalkan dunia ini, ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri, Sagara dan Nadira menikah. Nanti, saat ia bertemu dengan kakek Rilla di surga sana, ia bisa bercerita tanpa beban . Janji yang pernah mereka sepakati pada akhirnya terwujud juga.
"Sayang, sudahlah. Kamu nggak liat betapa bahagianya mereka? Dira dan Saga juga udah setuju. Mereka berdua bahkan yang memulai duluan," tutur Darren lembut kepada sang istri. Ia menggenggam tangan istrinya itu.
Leoni memperhatikan wajah mereka yang ada di sana satu persatu. Benar, mereka semua bahagia. lebih tepatnya para orang tua itu. Terukir jelas senyum dari bibir mereka.
"Ya udalah, pa. Mama mau bilang apa.Toh Dira juga udah setuju. Semoga aja nanti Saga berubah. Awas kalau sampai dia nyakitin putriku. Aku yang maju duluan," jawab Leoni dengan ketus.
Anggie, yang juga sahabat bagi Leoni menghampiri wanita itu.
__ADS_1
"Akhirnya, kita jadi besan," ucapnya penuh bahagia. Ia memeluk sang sahabat begitu erat.
"Permintaan ku hanya satu," ucap Leoni. Memecah seisi kamar itu.
"Putri ku masih sekolah. Jangan dulu punya anak. Biarkan dia melanjutkan cita-citanya," ucap Leoni melanjutkan dan memberi ketegasan.
Ya, meski ia menyetujui pernikahan ini tapi ia tak ingin buru-buru menimang cucu. Mengingat Nadira masih muda. Masih panjang perjalanan hidupnya. Kedepannya, jika memang dia sudah siap, mama Leoni pun tak bisa mengelak.
Tak ada yang menyahut ucapan mama Leoni. Semuanya diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Dira permisi semuanya," ucap Nadira tiba-tiba. Belum ada sahutan dari siapa pun, ia sudah berlalu, meninggalkan kamar kakek Damar.
Disusul oleh Sagara, dimana Sagara menuju kamarnya sedang Nadira menuju rumahnya. Hal yang akan ia lakukan sekarang adalah mengurung diri. Belum siap ia untuk diperhadapkan dengan yang namanya biduk rumah tangga, bersama pria yang tidak ia cintai.
...\=oooOOOooo\=...
"Kenapa lo? Kok kusut gitu mukanya? Kayak lagi halangan," ucap Indah.
Indah adalah satu-satunya teman yang Nadira punya. Baginya, berteman tak perlu harus banyak. Sedikit saja yang penting berkualitas. Tidak hanya ada disaat butuh.
__ADS_1
Indah ini adalah teman sejak ia SMP. Bukan pula mereka sepakat untuk sekolah di tempat yang sama pada masa SMA sekarang ini. Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Mungkin pilihan hati mereka berdua jatuh pada sekolah tersebut. Sesuai dengan keinginan mereka.
"Ra! Lo kenapa sih? Diam aja gue tanya?" ucap Indah lagi. Ia menyeruput jus martabe yang ada di hadapannya.
"Gue mau nikah, In."
Ucapan Nadira barusan membuat Indah terkejut. Jus martabe yang sudah masuk ke mulut tadi menyembur keluar. Bahkan ada yang menyangkut di tenggorokan. Perlahan Indah menarik napas. Membiarkan jus yang sudah sampai di tenggorokan tadi tertelan hingga ke dalam. Jangan sampai tersedak.
"Lo mau nikah? Bentar bentar. Ini nggak prank kan? Atau lo lagi mimpi, Ra?"
"Nikah sama siapa, lo? Kok bisa?"
Indah memberondong Nadira dengan banyak pertanyaan.
"Lo kenal dengan orangnya?" tanya Indah lagi.
"Satu satu dong, In nanyanya. Gue jadi tambah pusing nih," ucap Nadira kesal. Berharap setelah bertemu dengan sahabatnya itu Nadira merasa terhibur. Senggaknya meringankan sumpek di dalam kepalanya.
"Iya, iya. Sorry. Habis gue kepo dan juga kaget. Soalnya kan kita masih sekolah. Belum tamat lagi. Masa mau aja sih lo dinikahkan?"
__ADS_1
"Itu dia yang buat gue stres, In. Ah, ga tau deh. Bingung gue."
Nadira, menundukkan kepala diatas meja.