Takdir Cinta Si Tuan Playboy

Takdir Cinta Si Tuan Playboy
Tas Branded


__ADS_3

Gadis itu menghentakkan kakinya. Sambil cemberut ia membawa langkahnya keluar dari kamar itu. Lalu ia berlari sekencang-kencangnya entah mau kemana. Kesal ia, tapi tak tau ia harus melampiaskan kepada siapa.


Sementara Sagara, ia juga tidak terima atas apa yang baru saja diucapkan oleh kakek Damar. Ia tidak mau menikah terlalu muda. Masih panjang perjalanannya. Selain karena ia tak ada rasa cinta kepada Nadira, ia juga tidak akan bisa lagi berkencan dengan gadis-gadis nanti setelah menikah.


Sebagai playboy sejati, tentu itu bukan hal yang mudah bagi Sagara. Tidak bisa ia melepaskan gadis-gadis cantik dengan begitu saja. Sukar. Tetapi sekarang, kakek Damar meminta ia harus menikah. Tak bisa ia menjawab sekarang.


Maka, sama seperti Nadira, Sagara pun meninggalkan kamar kakek Damar.


Mereka yang sedang berada di luar kamar itu tercengang dengan sikap Nadira dan Sagara. Mengapa mereka keluar dari kamar kakek Damar dengan ekspresi yang membingungkan? Kenapa Nadira menangis? Dan kenapa pula Sagara bingung?


"Mereka berdua kenapa?" tanya mama Leoni berbisik.


Sementara mama Anggie tampak tersenyum tipis. Ia sudah tau apa yang terjadi di dalam kamar itu. Ia sudah bisa menebak. Karena memang perjodohan ini sudah mereka ketahui dari kakek Damar. Tapi, mama Leoni tak mengingat perjanjian perjodohan itu sekarang.


"Sebaiknya kita masuk dan mencari tau," ucap papa Darren memberi usul. Diangguki oleh papa Arian dan mama Anggie. Pun sama dengan mama Leoni.


Mereka berempat segera memasuki kamar kakek Damar. Membawa pertanyaan yang sudah mereka susun di dalam hati.


Berbanding terbalik dengan Sagara dan Nadira. Kakek Damar justru tersenyum tipis saat ini. Tentu mereka berempat bingung. Terlebih mama Leoni dan suaminya - papa Darren.


"Ayah kenapa tersenyum?" tanya papa Arian akhirnya. Mewakili semuanya untuk bertanya. "Apa kata dokter? Ayah sakit apa? Lalu, Dira dan Saga kenapa?"


Belom memberikan jawaban atas pertanyaan satu, papa Arian sudah memborong banyak pertanyaan kepada kakek yang usianya sudah senja itu.


"Akhirnya, aku menyampaikan juga apa yang kuinginkan selama ini. Haha." Kakek Damar tertawa bahagia.


"Maksud ayah?" tanya mama Anggie, pura-pura tak tau. Diangguki oleh mama Leoni. Karena ia sama sekali tidak tau pembahasan ini mengarah kemana.

__ADS_1


"Sagara dan Nadira harus segera menikah."


Bagai disambar petir mama Leoni mendengar pernyataan kakek Damar barusan. Ia tak menduga hal ini akan tiba dengan cepat. Nadira masih muda dan Sagara juga masih muda. Belum bisa ia diharapkan untuk menjaga Nadira kelak.


Akibat Sagara yang suka berganti-ganti pasangan, membuat mama Leoni ragu. Tak mau ia secepat ini mereka dijodohkan. Bagaimana sekolah Nadira nanti bila mereka menikah? Nadira masih duduk di bangku SMA. Perjalanannya masih panjang.


Bukan mama Leoni tidak setuju dengan perjodohan ini, tapi terlalu dini mereka diminta untuk menikah sekarang.


"Tidak. Saya tidak setuju," ucap mama Leoni dengan tegas.


"Dira masih kecil. Bahkan tamat sekolah menengah atas juga belum. Belum pantas ia menyandang status sebagai seorang istri. Sagara pun begitu. Dia adalah laki-laki playboy. Belum ada prinsip dan komitmen yang ia punya. Masih ingin bebas dengan pergaulannya." Mama Leoni menuturkan dengan panjang lebar.


Terlihat jelas ia menolak keras tentang perjodohan ini. Baginya, perjodohan bukanlah hal yang tepat untuk menikahkan putrinya. Ia ingin putrinya berkencan dan menikah dengan pria yang ia sukai. Yang ia sukai.


Ini bukanlah zaman Siti Nurbaya. Dimana seorang anak perempuan dijodohkan dengan lelaki pilihan orang tuanya. Ya, mama Leoni adalah wanita yang tidak menyanggupi akan hal itu.


"Sayang, kita bicara di luar. Papa mau bicara sesuatu sama mama," ucapnya lembut pada istrinya itu. Ia bahkan merangkul lengan istri tercintanya itu.


"Kalau papa ingin membujuk mama tentang perjodohan ini, maaf. Mama tetap pendirian."


Belum lagi papa Darren memulai bujukan, mama Leoni sudah menolak mentah-mentah. Belum tentu juga itu yang akan dibahas oleh papa Darren. Tapi apa, sebagai wanita yang sudah menemani papa Darren sejauh ini, tentu ia sudah paham. Ia sudah bisa menebak apa yang akan disampaikan suaminya itu padanya.


"Papa bukan mau ngomong itu, sayang."


"Terus? Apa?"


Masih cemberut wajah ibu dua anak itu.

__ADS_1


"Kita ke rumah saja, yok. Ada yang mau papa tunjukin ke mama," tutur papa Darren lembut. Kembali ia meraih pergelangan tangan istri. Lalu membawa istrinya itu pulang ke rumah mereka yang jaraknya sangat dekat dengan kediaman kakek Damar.


"Darren, jangan coba membujuk dan merayuku dengan cara apapun. Bahkan dengan tas branded yang kau belikan pun aku tak akan merubah keputusanku. Putriku masih kecil. Belum saatnya ia untuk dinikahkan. Kalau memang ia mau dinikahkan, senggaknya tunggu sampai ia dewasa," ucap mama Leoni mengomel sepanjang jalan kenangan menuju rumah mereka.


"Kalau alasannya materi, putriku masih bisa kok meraih cita-citanya tanpa bantuan mereka. Walau mereka lebih kaya," ucapnya lagi.


"Tapi sayang, papa benaran mau menunjukkan sesuatu ke mama."


"Apa itu?" tanya mama Leoni juga. Penasarannya tak bisa ia sembunyikan.


"Udah nggak sabar ya," goda papa Darren. Tangannya masih menggandeng tangan sang istri. Seolah mereka sedang menyeberang jalan. Entahlah. Atau karena mereka merasa dunia milik berdua, sementara yang lain ngontrak?


"Minggu lalu kan teman papa baru pulang dari Maldiv, jadi papa menitipkan oleh-oleh khusus untuk mama. Pasti mama suka." Papa Darren tersenyum. Ia sangat yakin jurusnya akan bereaksi.


"Sudah kuduga. Kau pasti ingin menyogok ku, Darren. Tapi maaf, aku tidak akan tergoda."


"Lihat dulu. Nanti kalau nggak suka, baru tolak," ucap papa Darren yakin. Ia melepaskan genggaman tangannya, lalu berjalan menuju lemari tempat dimana ia simpan oleh-oleh itu.


Melihat suaminya mengeluarkan benda pusaka dari lemari, mama Leoni terperangah. Dari kotaknya saja ia sudah tau kalau barang itu adalah sesuatu yang berharga. Ia bisa menebak apa isinya. Dari merek yang tertera di kotak itu.


"LV? Da-dari mana papa dapat ini?" tanya mama Leoni terbata-bata. Bukan karena ia takut atau bagaimana. Hanya saja ia terlalu terkejut.


"Ini untukku?" Lagi lagi, mama Leoni bertanya lebih tepatnya memastikan apakah benda itu untuknya.


"Tentu saja, sayang. Ini untukmu. Semoga kamu senang," ucap papa Darren tersenyum. Ia bahagia melihat sang istri bahagia.


Melihat Leoni yang sedang mengelus-elus kotak itu, Darren sudah bisa menebak. Leoni tergoda, tergiur. Seolah tak mau barang itu jatuh ke tangan orang lain.

__ADS_1


__ADS_2