Takdir Cinta Si Tuan Playboy

Takdir Cinta Si Tuan Playboy
Strategi


__ADS_3

"Ma, biarlah Sagara menikah dengan Dira. Mama tau kan putri kita itu mempunyai kekurangan? Gimana kalau kelak tak ada yang mau menerima dia karena tempang pinggulnya? Mama tega di dihina dan disakiti?" tanya papa Darren. Pelan-pelan ia berkata pada sang istri. Agar istrinya mempertimbangkannya kembali.


Tepat sekali. Jurus papa Darren sepertinya berhasil.


"Dimana kita bisa bertemu dengan besan sebaik mereka coba? Apalagi saat mereka tau kekurangan Dira, mereka tetap menyayanginya. Menganggapnya sebagai putri di keluarga mereka. Apa ada orang sebaik mereka? Nggak rugi kita melepaskan besan sebaik mereka?"


Mama Leoni masih terdiam Kotak LV tadi ia abaikan. Hanya teronggok diatas meja.


"Lagian, apa mama tidak menghargai pengorbanan papa? Karena dialah yang meminta perjodohan ini. Kalau diatas sana papa bersedih gimana, ma?"


Terkoyak rasanya hati mama Leoni mendengar penuturan suaminya itu. Memang, apa yang dikatakan Darren itu nyata. Sekarang Leoni malah tidak berdaya. Tak tau lagi harus bagaimana mengehentikan perjodohan ini.


Tak mau Leoni pengorbanan ayah mertuanya sia-sia. Benar, Nadira memiliki kekurangan. Pinggulnya tempang. Dan semua keluarga Sagara sudah tau itu. Sagara juga. Lelaki mana yang mau menikahinya kelak jika tau kekurangannya?


Luluh juga akhirnya hati mama Leoni.


"Papa nggak usah menyogok ku dengan LV. Perkataan papa tadi membuat aku tak bisa lagi menyangkal. Semua itu nyata. Aku nggak mau putriku kelak terluka oleh lelaki yang menghinanya," tutur mama Leoni sendu.


Sebagai ibu, tiada pernah rela jika darah dagingnya disakiti oleh siapa pun. Pun sama dengan Leoni, mamanya Nadira dan Ahlen tersebut - adik Nadira laki-laki.


Ya, Leoni tak berdaya jika menyangkut kekurangan putrinya itu. Sedih ia bila mengingat akan hal itu.


Sementara di tempat lain, Nadira. Kini ia sedang berada di sebuah taman. Duduk di ayunan, tempat ia masa kecil bermain dengan Sagara. Sagara dulunya sering mengejek Nadira, apalagi tentang pinggulnya yang tempang. Tetapi Sagara tidak akan diam jika Nadira dihina atau disakiti oleh laki-laki lain.


"Menikah muda? Nggak? Aku nggak mau. Aku menyukai dia. Pokoknya aku nggak mau menikah dengan kak Sagara. Dia playboy. Mata keranjang. Sukanya lihat pa*tat bohay. Body seksi. Mana mungkin dia level dengan aku yang banyak kekurangan," tutur Nadira.


"Lagian aku kan masih sekolah. Nanti kalau aku menikah, sekolah ku gimana? Nggak. Pokoknya aku nggak mau menikah."


Gadis itu bersungut-sungut, sendirian di taman itu. Sampai akhirnya, senja datang di ujung langit. Jingga yahh cemerlang telah hadir. Saatnya ia untuk kembali ke rumah dan mengutarakan isi hatinya. Penolakannya akan perjodohan ini.


Kalau Nadira menghabiskan hari dengan sendiri, lain hal dengan Sagara. Ia menelpon dua krucuknya untuk datang ke sebuah club.


"Hay, bro. Sudah pulang kau? Wah, makin tampan aja kau ini," tutur Ringgo.


Sagara sudah meneguk minuman hampir habis segelas.


"Gimana di luar negeri, bro? Sukses? Terus ada pacar?" tanya Natan.


Mereka bertiga adalah trio krucuk. Sahabatan mulai dari mereka SMA hingga sekarang. Hanya Sagara yang meninggalkan mereka karena melanjutkan studi di luar negeri. Tetapi persahabatan mereka tidaklah putus hingga saat ini.


Ketiga krucuk ini sekarang sedang kuliah sesuai jurusan yang mereka minati. Dan hanya Sagara yang memilih jurusan pendidikan.

__ADS_1


"Aku lagi stres," ucap Sagara lagi sambil meneguk minuman di dalam gelasnya sampai habis.


"Aku diminta untuk menikahi bocah ingusan," tambah Sagara lagi. Nampak ia tidak suka.


"Menikah? Kayaknya enak tuh," celetuk Ringgo.


"Bocah? Siapa? Kenal kau sama bocah itu?" tanya Natan penasaran.


"Dia masih SMA kelas tiga. Teman kecilku," sahut Sagara. Ia mengisi lagi gelas kosongnya hingga penuh.


Tinggal di luar negeri, membuat ia terbiasa minum minuman keras itu. Bahkan sudah empat gelas ia minum, tapi tak mabuk juga. Sementara kedua krucuk itu, belum habis dua gelas sudah teler.


"Aku harus gimana?" tanya Sagara kepada kedua krucuk yang sudah mabuk itu.


"Elah, terima aja. Nggak usah pusing. Enaklah nikah, bro. Kamu bebas melakukan apa saja sama dia. Kan udah sah," tutur Natan. Matanya menatap sayu ke arah gerombolan cewek-cewek yang sedang menari mengikuti alunan musik DJ di club itu.


"Ada cewek, bro. Ke sana yok!" ajak Ringgo. Ia menarik tangan Natan yang juga melihat ke arah perempuan-perempuan dengan baju kurang bahan itu menari sesuai irama musik DJ.


"Saga, kau nggak ikutan?" tanya Natan.


Sagara tak peduli. Ia tetap diam di kursinya dan menghabiskan minumannya sampai tandas.


Kedua temannya sudah sempoyongan sementara Sagara masih biasa saja. Bingung ia sekarang, akan kah ia menerima perjodohan ini?


"Sudah waktunya sekarang. Pernikahan ini harus terjadi," gumam kakek Damar. Ia meminta tolong kepada perawat yang ada di sana untuk mengambil ponselnya. Lalu ia menghubungi anak kandungnya, papa Arian. Juga dokter keluarga mereka.


Tak berapa lama, Arian sudah masuk ke dalam kamar sang papa.


"Ada apa, pa? Papa baik-baik saja kan?" tanya Arian panik.


"Aku baik-baik saja. Aku mau minta tolong sama kamu Arian. Kita harus mengatur strategi supaya pernikahan ini terjadi. Kamu mau kan membantu papa?" tanya kakek Damar kepada anaknya.


"Mau lah, pa. Tapi papa harus janji, papa akan baik-baik saja," jawab Arian.


Mereka berdua terlibat obrolan serius. Hingga sampai dokter keluarga tiba. Lalu, Arian membisikkan sesuatu kepada dokter tersebut.


Malam pun tiba.


Sagara dan Nadira sudah sampai di depan rumahnya. Entah mengapa mereka bisa tiba bersamaan. Terdengar suara orang menjerit dan meraung dari kediaman kakek Damar.


Keduanya terkejut. Belum sempat mereka untuk saling berbasa-basi, keduanya reflek mengambil langkah seribu. Ingin tau apa yang terjadi di sana. Pikiran keduanya tertuju kepada kakek Damar.

__ADS_1


"Kakek!" seru keduanya bersamaan.


Papa Arian, mama Anggie, paman kecil Andra, papa Darren dan mama Leoni sudah berdiri di dalam kamar kakek Damar. Berbaris dengan wajah sedih, bahkan ada yang meneteskan air mata.


Membuat Sagara dan Nadira semakin panik.


"Kakek? Kakek kenapa, ma?" tanya Sagara kepada mama Anggie.


"Kakek.... kakek kamu...."


Belum selesai mama Anggie menyelesaikan kalimatnya, sudah terdengar bunyi di monitor.


"Sebelum kalian datang, kakek ingin sekali kalian menikah. Katanya itu permintaan terakhirnya. Jadi...."


Papa Arian menckba mendramatisir keadaan.


"Kakek, bangun, kek! Dira mohon. Dira nggak mau kehilangan kakek," ucap Nadira. Air matanya sudah berlinang.


Mama Leoni merasa bersalah atas hal ini. Ingin rasanya ia membocorkan semuanya. Akting kakek Damar sungguh patut diacungi jempol. Tetapi ia tak berdaya.


"Kakek, bangun. Aku akan mengabulkan permintaan kakek. Aku akan menikah dengan kak Saga. Tapi kakek harus bangun! Bangun, kek!" ucap Nadira lantang.


"Iya, kek. Bangun! Aku juga akan menikah dengan Dira. Tapi kakek harus bangun!" tutur Sagara.


Papa Arian, mama Anggie dan papa Darren tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya, jawaban yang mereka tunggu-tunggu terkabul sudah. Keduanya dengan sendirinya berjanji akan menikah. Wah, ini harus dirayakan!


Pun sama, kakek Damar pun senang. Tersenyum bahagia ia di hati. Tetapi matanya masih ia pejam. Tak mau ia sandiwara ini terbongkar jika semuanya belum jelas.


Setelah Nadira dan sagara berjanji akan menikah, terdengar suara batuk-batuk, yang berasal dari kakek Damar. Sontak, Sagara dan Nadira segera menoleh.


"Kakek! Kakek baik-baik saja?" tanya Nadira. Senang ia karena kakek Damar sudah menunjukkan reaksi.


"Iya, kek. Ada yang sakit, kek? Mana yang sakit, kek?" tanya Sagara. Ia juga senang, akhirnya sang kakek sudah bisa merespon.


"Tadi, kalian bilang apa?" tanya kakek Damar, pura-pura tak ia dengar apa yang Sagara dan Nadira sampaikan.


"Ta-tadi Dira bilang kalau Dira bersedia menikah dengan kak Saga," ucap Nadira lesu.


Apa yang baru saja ia ucapkan tak bisa dipungkiri, tak bisa dielakkan. Tak bisa dibalikkan. Semuanya sudah terlanjur terucap. Ia sudah berjanji dan janji harus ditepati.


"Benarkah itu? Lalu kamu Saga?" tanya kakek Damar kepada Sagara yang tertunduk.

__ADS_1


"Iya, kek. Kita akan menikah demi kakek."


__ADS_2