
Terdengar bunyi pintu yang dibuka dari dalam. Membuat atensi orang-orang yang sedang menunggu di sana terarah pada pintu ruangan kakek Damar.
"Dokter!" sapa Sagara kepada dokter yang baru saja memeriksa kakek Damar.
"Bagaimana kakek saya? Apakah beliau baik-baik saja?" tanya Sagara kemudian. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sang kakek. Ingin tau ia segera bagaimana kabar kakek Damar.
"Beliau masih belum sadar. Tetapi mulutnya selalu memanggil-manggil nama anda, tuan muda," jawab sang dokter. Ia adalah dokter keluarga kakek Damar. Sehingga ia sudah mengenal semua yang ada di dalam rumah itu, juga Nadira dan keluarga.
"Boleh saya masuk dokter?"
"Silakan, tuan muda. Mungkin anda yang beliau tunggu-tunggu," sahut sang dokter. Ia bergeser beberapa langkah untuk memberi ruang kepada Sagara agar bisa masuk ke dalam kamar kakek Damar.
Bersamaan dengan itu, papa Darren dan mama Leoni, baru sana tiba di dalam ruangan itu. Mereka segera bergabung dengan mereka yang sedang menunggui kakek Damar.
Dengan langkah cepat, Sagara langsung membuka kamar kakek Damar. Seorang perawat juga beriringan keluar dari kamar kakek Damar. Lalu tersenyum mempersilakan Sagara untuk berjumpa dengan kakek Damar.
"Kakek!"
Sagara menghampiri ranjang king size milik sang kakek. Dilihatnya kakek yang sedang menutup mata ditutupi oleh selimut sampai ke dada. Kerutan di wajah sang kakek sudah semakin kentara. Usia senja yang nyaris saja menginjak kepala delapan, tapi tak melunturkan ketampanan dari pria mantan pembela negara tersebut.
Rambutnya yang sudah putih kini tak terlihat lagi. Sudah digilas dengan warna hitam yang mengkilap. Tak mau ia jika sampai rambut putihnya muncul. Alasannya selalu tak mau dipanggil kakek tua.
"Kakek, Saga di sini. Apakah kakek tidak merindukan Saga?" Sagara memeluk tubuh renta yang sedang terbaring itu Kemudian, ia menggenggam erat tangan sang kakek.
"Sagara akan menemani kakek melewati semua ini, tapi Saga mohon, kakek bangun ya."
Sementara kakek Damar seperti bermimpi. Bermimpi bertemu dengan Sagara, cucu satu-satunya, cucu kesayangannya.
"Saga.... Kau kah ini?"
Dalam mimpinya sang kakek berusaha meraih wajah Sagara, tapi tak mampu. Lengan kokohnya sudah berubah jadi lemah. Bahkan tangannya tak mampu meraih jemari tangan cucunya itu. Terasa berat dan tak kuasa ia meraihnya.
__ADS_1
Sementara Sagara, ia merasa sesuatu yang bergerak di jari tangannya. Ya, jemari kakek Damar bergerak.
"Kakek!" Sagara berseru. Memanggil sang kakek. Berharap kakek Damar segera terbangun. Dan melihatnya di sini sedang bersamanya.
"Sa-sa-sagara." Terbata-bata sang kakek menyebut nama cucunya itu. Cucu yang tiga tahun lebih kurang ia rindukan karena tak pernah pulang. Selalu menolak pulang dengan alasan sibuk kuliah.
"Sagara, kamu kah ini nak? Kakek tidak bermimpi kan?" Kakek Damar memastikan apakah ia bermimpi atau tidak. Matanya yang terpejam kini sudah terbuka sempurna. Sagara bisa melihatnya itu dengan jelas. Ya, kakek Damar sudah sadarkan diri.
"Kakek! Syukurlah kakek sudah sadar."
Sagara memeluk kembali sang kakek. Mengungkapkan betapa ia merasa bahagia.
"Saga, Dira mana?"
"Dira di luar, kek."
"Kakek mau bicara dengan kalian berdua. Segera panggil ia kemari," pinta kakek Damar.
Dan tak berselang lama, Sagara kembali bersama dengan Nadira yang berjalan di belakangnya. Nadira mengukir senyumnya kepada kakek Damar yang sudah terlihat jauh lebih baik.
"Kakek, apa yang kakek rasakan sekarang?" tanya Nadira lembut. Senyum di wajahnya telah hilang. Yang ada sekarang dia merasa khawatir dengan sahabat kakeknya itu.
"Kakek baik-baik saja, nak. Uhuk uhuk." Si kakek Damar batuk-batuk.
"Duduklah!" pintanya, ekor matanya menunjuk kursi yang ada di sebelah ranjangnya. Hanya ada satu.
Sagara mengisyaratkan Nadira untuk duduk melalui pandangan matanya, sambil mengangguk ia. Lalu dirinya memilih berdiri di samping Nadira. Tak ada niat untuk mengambil kursi yang agak jauh dari mereka.
"Satu hal yang ingin kakek sampaikan pada kalian." Kakek Damar mulai ceritanya. Ia sangat serius. Begitupun Nadira dan Sagara, seksama mereka mendengar cerita sang kakek. Menyiapkan telinga, hati dan pikiran akan apa yang akan disampaikan kakek Damar kelak.
"Dulu sekali, saat kakek kamu dan kakek sedang berada di Medan peperangan. Waktu itu saya hampir saja terbunuh. Tetapi dengan tanpa rasa takut, kakek kamu menolong saya. Membantu saya agar tak tertembak oleh senjata musuh. Dengan tanpa pamrih ia korbankan dirinya untuk saya. Waktu itu....."
__ADS_1
Kakek Damar mulai bercerita. Cerita yang begitu sendu dan menyayat hati.
Demi keselamatannya, sang sahabat rela mengorbankan dirinya untuknya. Bahkan, kakeknya Nadira kala itu hampir saja tiada. Hingga akhirnya ia menghembuskan napas terakhir saat kakek Nadira divonis dokter mengidap penyakit kanker otak.
Bukan karena kalah dalam pertempuran atau karena memang salah dalam menggunakan jurus atau senjata. Tapi karena tidak mau mengkhianati negaranya demi mendapatkan keuntungan sendiri.
Ya, saat peperangan itu terjadi, musuh memanfaatkan persahabatan mereka. Dimana kakek Damar dijadikan sebagai tumbal asal kakek Nadira mau bekerja sama dengan musuh.
Kakek Nadira lebih memilih negaranya, persahabatannya sehingga rela mengorbankan nyawanya.
"Sebelum ia menghembuskan napas terakhir, beliau meminta satu hal kepada saya," tutur kakek Damar dengan nada sendu. Setitik bulir bening jatuh membasahi ujung matanya.
"Beliau meminta agar anak kami kelak kamu menjodohkan anak kamu saat mereka dewasa dan pada waktu itu istri kami sedang mengandung. Yaitu mama Sagara dan mama Nadira."
Kakek Damar menarik napasnya panjang. Kejadian itu tak bisa ia lupakan. Sangat menyayat di dalam hatinya.
"Karena istri kakek dan istri kakek kamu melahirkan anak laki-laki, maka kakek akan meneruskan perjodohan ini kepada kalian berdua. Kamu dan Nadira kakek minta untuk meneruskan perjodohan ini."
Kedua manusia itu terperanjat dengan kalimat panjang yang baru saja disampaikan kakek Damar.
"Apa? Perjodohan?"
Begitu keduanya, serempak berujar. Bahkan langsung tersenyum nyengir saling berlawanan. Mereka tidak terima dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Jadi, maksud kakek aku akan menikah dengan gadis kecil ini?" tanya Sagara, mencoba memastikan.
"Iya. Hanya ini satu-satunya cara agar kakek bisa mewujudkan impian kami dulu. Karena anak kami terlahir laki-laki maka kakek menurunkannya kepada kalian. Kakek harap kalian mau mengabulkan permintaan kakek disisa umur kakek yang tinggal beberapa kalender lagi."
"Nggak. Dira nggak mau menikah dengan laki-laki playboy seperti dia, kek. Kakek tau kan dia itu banyak ceweknya. Dia suka sekali mempermainkan perempuan." Nadira menolak langsung.
Mengingat keduanya tumbuh bersama sedari kecil, adu mulut adalah hal biasa bagi mereka. Bahkan sering Sagara menjitak kepala Nadira.
__ADS_1
"Laki-laki mesum," cibir Nadira.