
Sebuah kolam ikan buatan yang dangkal dan berukuran sangat lebar di rumah tak berpenghuni, ditanami teratai entah oleh siapa. Teratai itu tumbuh tak terkendali, hampir setinggi manusia dewasa dan membuat kolam itu menyerupai rawa-rawa. Rimbunan teratai itu berayun-ayun ringan di cuaca panas berangin. Suara burung camar laut sayup-sayup terdengar. Teratai itu bergerak semakin cepat, lalu di tengah barisannya terbelah oleh kemunculan seorang remaja laki-laki berambut auburn dari dalam rimbunan, sambil membawa setangkai teratai dengan mahkota bunga sebesar wajan. Dia berjalan dengan gaya seelegan mungkin di kolam itu walaupun akar teratai menjalar ke sana-sini.
Laki-laki itu berhenti di depan kolam. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia meraba mahkota teratai di tangannya, lalu menghirup aromanya.
“Cut, cut, cut!” suara seseorang membuyarkan ekspresinya.
“Apaan sih, Ri? Ini udah lumayan kali!” gerutu Baris kesal. Padahal dari tadi dia sudah berusaha menahan tawa dengan aktingnya itu.
“Apa-apaan sih akting lo?! Cringy banget!”
“Lah bukannya emang itu yang kita cari?”
Gerimis menitik di tangan Ruri.
“Sial! Gerimis, Ris.”
Baris menengadahkan tangan untuk memastikan kevalidan ucapan Ruri.
“Ah, masih kecil banget kok gerimisnya, lanjutin bentar, nanggung. Pakai ekspresi kayak tadi aja napa sih?”
Tapi gerimis melebat dengan cepat.
“Blyaaaat!” teriak mereka bersamaan.
__ADS_1
Seorang warga yang baru saja selesai memetik beberapa biji teratai dan lewat di depan mereka, hanya geleng-geleng kepala mendengar umpatan mereka. Dia santai saja berjalan di tengah hujan lebat.
Ruri cepat-cepat menyelamatkan kameranya ke dalam kaos yang dia pakai. Baris meraih tripod dan memetik dua daun teratai besar dengan serampangan. Mereka lari tunggang-langgang sambil bernaung di bawah payung kesia-siaan itu, tetap basah. Dan Jalan Dolaybagi yang saat itu sedang diperbaiki membuat mereka semakin terlihat menyedihkan.
Untung saja rumah Ruri tepat di pertigaan Dolaybagi. Rumah itu tepat di pinggir Jalan Korfez sehingga mereka bisa melihat selat Bosphorus dengan jelas dari lantai atas. Rumah itu berlantai empat. Fasad depannya didominasi tembok dari botol kaca bekas yang menutupi sebagian sisi depan lantai satu dan dua. Tembok botol itu, ketika mendapat cahanya matahari, sinarnya bisa menembus ke dalam dan membuat bayangan-bayangan yang bagus untuk menjadi background foto siluet. Di antara tembok botol dan pintu garasi, terdapat pintu gerbang gebyok ala Jawa. Lantai pertama untuk garasi dan studio audio visual, serta void yang digunakan sebagai ruang sirkulasi di antara pintu gerbang, tembok botol, garasi, beberapa tangga, dan studio audio visual. Selain tangga, dibangun juga tanjakan ramp mengelilingi void yang menghubungkan lantai satu dan lantai tiga. Di lantai dua, terdapat guest house bertembok kaca agar bisa mendapat pemandangan Bosphorus, dan sebuah green house kecil di belakangnya untuk kebun modifikasi. Dua lantai paling atas merupakan rumah utama.
Secara keseluruhan, bangunan rumah itu tampak besar, namun rumah utama mereka hanya berukuran sedang. Di lantai tiga dibuat halaman berumput, kolam renang kecil, dan kebun yang cukup luas, serta sebuah joglo kecil yang biasa digunakan untuk home office dan tempat nongkrong.
Konon, pembangunan rumah itu sama dengan harga rumah dua lantai di Ankara. Mama Ruri, Kana-hanim, adalah seorang arsitek. Beliau berhasil merancang rumah yang materialnya banyak menggunakan bahan ramah lingkungan dan daur ulang, hingga berhasil menekan banyak biaya. Hanya saja pajak rumah itu tetap terbilang mahal karena berada di sekitaran Bosphorus.
Ruby, adik perempuan Ruri baru akan menutup pintu garasi saat dia melihat dua laki-laki menyedihkan itu berlarian kehujanan. Ruby langsung menutup pintu garasi tanpa basa-basi.
“Tungguuuu!”
Sampai di depan pintu gerbang yang untung saja ada atapnya, Ruri merogoh sakunya untuk mengambil kunci. Saat itu Deniz-abi, security rumah Ruri, sedang tidak ada shift. Pintu gerbang rumah itu terkunci otomatis, dan hanya bisa dibuka tanpa kunci dari dalam.
Mereka tergopoh-gopoh masuk dan langsung berlari menuju pintu studio.
“Sial! Dikunci juga!”
Artinya, mereka harus melewati tangga di void dan halaman lantai tiga agar bisa memasuki rumah utama.
__ADS_1
Mama Ruri yang sedang bekerja di pendopo joglo, melihat mereka berlari di halaman.
“Teratainya mana, sayang?” tanya mamanya.
Ruri yang telah sampai di pintu rumah utama tiba-tiba teringat sesuatu, teratai dan biji titipan mamanya lupa belum dipetik.
“Lupa ma,” jawabnya santai sambil meringis, mamanya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Rumah utama Ruri tidak terlalu besar. Arsitektur bangunannya terinspirasi dari rumah Jepang yang dibuat modern. Semua pintu dan jendela yang menghadap luar, dibuat besar-besar dan bermaterial kaca. Semua ruang-ruang utama ditata sedemikian rupa agar bisa mendapat pemandangan Bosphorus di depan rumah, dan bukit di belakang rumah. Memasuki rumah, ada beberapa anak tangga dan rak sepatu, mantel, dan payung. Tangga pendek itu menuju ruang keluarga yang ditutupi dua pintu shoji ala Jepang yang semi transparan. Ruang keluarganya kental nuansa Jepang dengan tatami, dua sofa panjang, TV, dan meja penghangat di tengahnya. Di belakang ruang keluarga terdapat dapur modern berukuran sedang dengan island di tengahnya. Semuanya menyatu dalam satu ruangan tanpa sekat. Dinding-dinding dan pintu terluar ruang itu juga bermaterial kaca. Sehingga bisa terlihat kolam renang di samping rumah, dan kebun serta pemandangan bukit di belakang rumah.
Ruby yang sedang menonton TV cekikikan melihat dua laki-laki itu kebasahan. Ruri dan Baris tak mengacuhkannya dan langsung memasuki ruang tamu yang berada di samping ruang keluarga dan dapur. Dua ruang utama itu dibatasi dengan tembok. Ruang tamunya lebih luas dari ruang keluarga. Masih berkonsep open plan, ruang tamu menyatu dengan area piano di pojok depan, dan meja makan di tengah-tengah ruangan dengan langit-langit void. Kamar mandi kecil dan ruang cuci berjejer di sisi samping. Tangga berada di sisi belakang, menempel dengan jendela kaca setinggi dua lantai yang menampilkan bukit dengan sangat jelas. Tangga ke arah atas menuju area kamar tidur, dan ke arah bawah langsung menuju area studio.
Kamar Ruri hanya berukuran sedang untuk rumah sebesar itu. Pintu balkon dan jendela kamarnya bermaterial kaca, hampir berukuran satu dinding penuh dan menjadi bingkai lukisan nyata di depan rumahnya. Pohon Sakura menjadi objek paling depan, di belakangnya terlihat Bosphorus dan Benteng Rumeli di seberang, di samping kanan terlihat jembatan Fatih Sultan Mehmet (FSM) yang menjulang tinggi.
Kamar Ruri cukup rapi untuk remaja laki-laki. Tempat tidurnya hanya berupa kasur yang diletakkan di atas level yang didaur ulang dari peti kemas, sebuah lemari pakaian hitam putih dua pintu, sebuah meja belajar yang menghadap ke jendela, dan sebuah rak yang berisi buku, beberapa figure, dan barang-barang lain. Salah satu sisi dinding didedikasikan untuk menempelkan poster-poster yang sebagian besar adalah band Red Hot Chili Peppers, dengan poster terbesar menampilkan Flea yang sedang bermain bass. Sebuah gitar akustik tergeletak di atas kasur.
“Nggak asik banget cuacanya, padahal tinggal dikit banget tadi,” gerutu Baris yang sedang memperhatikan hujan yang lumayan lebat.
Ruri tak mendengarnya, dia sibuk memastikan kamera dan data-datanya baik-baik saja. Tanpa sadar, dia mengecek data dari tanggal paling lama. Dia melihat fotonya bersama seorang perempuan yang baru saja diputusinya, Alex. Perasaan muak langsung muncul di benak Ruri. Dia meletakkan kamera dan berjalan ke pintu balkon. Dia duduk di tengah pintu, dan baru menyadari kalau Baris sedang bermain gitar.
Baris sedang memainkan lagu Diamond yang dinyanyikan oleh Rihanna. Ruri teringat ucapan banyak orang yang menjuluki rumahnya itu sebagai ‘Rumah Berlian’. Selain karena nama Ruri dan Ruby diambil dari nama batu-batu permata, juga karena rumah itu dipenuhi dengan sarana dan suasana yang mendukung untuk berkreasi dan menenangkan diri. Trauma masa kecilnya berhasil disembuhkan di rumah itu. Dan rumah itu hampir tak pernah sepi oleh orang yang berkunjung, entah untuk bekerja di studio, main atau urusan lain, ataupun sekedar numpang menenangkan diri.
Putusnya Ruri dan Alex beberapa waktu lalu tak terlalu menyakitkan, setidaknya untuk Ruri. Selain karena suasana rumah itu yang menyenangkan, juga karena jauh di lubuh hatinya, ada seseorang yang lain yang sebenarnya dia cintai sejak kecil, namun tak pernah terungkap. Sayangnya orang itu tak mungkin diraihnya, itu yang ada di benak Ruri.
__ADS_1
- Yayashi -