
“Scene yang ini ganti aja, Ri. Jelek banget ekspresi gue…” kata Baris sambil menunjuk ke layar laptop.
“Gue bilang juga apa!”
Ruri dan Baris mengedit video yang tadi siang mereka rekam di kolam teratai. Mereka sedang membuat video musik yang mereka buat sendiri. Mereka merupakan duo Youtuber yang sering membuat konten humor, masak, dan musik. Jumlah subscriber mereka yang sudah mencapai dua juta, memperlihatkan betapa populernya mereka. Angka yang sangat fantastis untuk Youtuber Turki.
Hujan yang sejak siang tadi mengguyur Istanbul masih awet sampai sore. Awal musim semi ini masih saja sering diguyur hujan. Kuncup-kuncup sakura di depan rumah Ruri mulai bermunculan. Sesekali, Ruri, Baris, dan Ruby mengelus kuncup-kuncup itu dari balkon kamar.
“Aniki*!*” teriak Ruby dari bawah. Ruri hanya diam saja.
“ANIKIIIII*!!!!*” teriakan Ruby semakin keras.
“Apaaa?”
“Disuruh masak sama mama, mama lagi ke kantor.”
“Pesen antar aja!”
“Nggak boleh sama mama!”
“Masak dulu sana lho, Ri…” Baris mengambil alih laptop Ruri.
Ruri beranjak dari kursi dan melangkah kesal keluar kamar. “Domestik banget hidup gue!” teriak Ruri kesal. Baris meringis tipis mendengar gerutuan Ruri yang sangat sering dia dengar sehari-hari.
“Aku tuh udah ngepel dari tadi!” gerutuan Ruby dapat Baris dengar dari kamar Ruri.
Ruri dan Ruby memang dibiasakan untuk melakukan pekerjaan rumah oleh orang tuanya. Walaupun keluarga mereka kaya, namun mereka memilih untuk tidak mempekerjakan asisten rumah tangga. Hanya seorang security yang bekerja ketika weekdays, dan tambahan bantuan pekerja ketika ada acara-acara besar di rumah yang tidak bisa ditangani keluarga itu sendiri.
Kana-hanim merupakan campuran Indonesia-Jepang. Suaminya, Aden-bey, berdarah campuran Turki-Inggris. Beliau merupakan mantan komedian Youtube, kini sedang memulai bisnis channel televisi kabel. Mereka merupakan keluarga pekerja keras dengan selera humor yang tinggi. Sama-sama memulai karir dari titik nol, membuat pasangan suami-istri itu tak terpengaruh dengan kehidupan glamor. Sesungguhnya, pembangunan ‘Rumah Berlian’ itu adalah hal terglamor yang pernah mereka lakukan bersama. Rasa tidak enak dan kikuk tinggal di rumah besar itu masih terasa di diri mereka. Mereka menutupi perasaan itu dengan bergaul dengan orang-orang dari berbagai kalangan, didominasi oleh kalangan bawah. Tak heran banyak orang menyukai keluarga itu, tapi banyak juga yang mencoba dekat untuk memanfaatkan mereka.
Keluarga Ruri dan Baris kenal dekat sejak anak-anak mereka masih balita. Banyak yang menyangka Ruri dan Baris saudara sepupu, padahal tidak ada hubungan darah sama sekali. Baris lebih tua tiga tahun dari Ruri. Dia berdarah campuran Turki-Russia, dan mempunyai seorang adik perempuan yang berusia setahun di atas Ruri, Masha. Perkenalan mereka berawal karena seringnya kunjungan Ulya-teyze dan anaknya, Nilufer, yang berusia sama dengan Ruri. Ulya-teyze merupakan sahabat karib Kana-hanim sejak masih single.
Saat balita, Ulya-teyze dan Nilufer datang bersama Baris dan Masha, tetangga baru mereka yang baru pindah dari Besiktas ke Uskudar. Sejak saat itulah mereka berlima sering main bersama. Sampai sekarang, mereka paling suka berkumpul dan menginap di rumah Ruri karena berhalaman luas walaupun berada di lantai tiga. Bahkan anak-anak itu sudah dianggap seperti anak sendiri oleh orang tua Ruri. Dan orang tua Ruri pun sudah dianggap sebagai ortu kedua bagi mereka, menjadi tempat curhat, dan juga tempat meminta kritik dan saran.
“Belum valid kalau belum diapprove Mr. & Mrs. Benli.” ujar Baris suatu hari, meninggikan orang tua Ruri.
Mereka bersekolah di tempat yang sama, dan sering membuat iri anak-anak sebaya di sekitar mereka ketika mereka jalan bareng, saking populernya.
__ADS_1
--
Ruri mulai menyiapkan bahan-bahan untuk makan malam. Baris datang membawa kamera.
“Di-shoot lah, kuy!” ajak Baris sambil mempraktekan bahasa slang Indonesia yang baru saja diajarkan Ruri.
“Gue cuma masak nasi goreng doang. Lagi males masak yang ribet.”
Baris berpikir sejenak sambil memperhatikan Ruri menyiapkan bahan.
“Gimana kalau bikin nasi goreng gila? Kan belum ada di video kita…” saran Baris.
“Hmm… di kulkas nggak ada bahan-bahan ‘gila’,” kata Ruri.
“Di kebun ada apa aja?”
Ruri menengok ke arah kebun yang mulai disinari cahaya oranye. Hujan sudah berhenti rupaya.
“Liat lah kuy!” ajak Ruri sambil meletakkan pisaunya.
Mereka berjalan ke arah kebun. Ruby yang sedang membaca buku di ruang keluarga, mengintip mereka karena mulai khawatir apa yang akan mereka buat. Mamanya sudah memperingatkan Ruby untuk menegur duo trouble maker itu kalau mulai berbuat hal-hal yang berpotensi menimbulkan kekacauan.
“BARIS BLYAAAAAATTT*!!!*” umpat Ruby.
Terdengar langkah kaki Baris yang sedikit berlari sambil tertawa, kembali ke kebun. Baris mulai merekam Ruri memetik sebuah pare sambil memberikan penjelasan nyeleneh tentang pare. Lalu mereka berjalan ke depan joglo. Terdapat barisan tambulampot asam jawa yang beberapa buahnya mulai matang. Ruri memetik beberapa buah, masih sambil memberikan penjelasan nyeleneh.
“Jadi, ini namanya asam jawa, yeah. Gue inget waktu kecil, gue ngelukis asam jawa gaya realistic gitu, trus dapet point -5. Guruku nyangka kalo itu gambar poop. Well, yeah, buahnya sendiri emang mirip poop gitu sih bentuknya. Iya emang mirip… jadi, ya gue nggak nyalahin beliau sih… Ayo sekarang mulai masak aja!” ucap Ruri dalam Bahasa Inggris dengan logat British yang lumayan kental.
“You foul evil gits!! BUKAIN PINTUNYA!!” teriak Ruby dari balkon. Baris mengarahkan kamera ke arahnya.
Mereka berjalan ke arah dapur dan berhenti sejenak di dekat balkon.
“Buat kalian yang belum tau, mau kasih liat aja, itu nenek sihir dalam dunia nyata kayak gitu bentuknya…” ucap Ruri santai sambil menunjuk Ruby.
“BUKAIN PINTUNYA!!! SEKARANG!!”
Ruri dan Baris hanya tertawa dan berjalan cepat menuju dapur. Ruby masih saja berteriak-teriak. Tapi tak lama kemudian diam juga, mungkin dia sudah mulai terbiasa dengan kekacauan semacam itu.
Baris mulai mengatur kamera dengan tripod agar bisa merekam semua kegiatan di dapur, dan sebuah kamera close up yang akan dia pegang sendiri.
__ADS_1
“Oke, sekarang kita siapkan nasinya. Di sini berasnya kayak beras basmati dari India atau Timur Tengah gitu, jadi ya emang mencar-mencar gitu sih butirannya. Kalau kalian pakai beras yang lengket, dipecah-pecah dulu gumpalannya, trus dinginin sebelum dimasak. Tapi kalau kalian adanya beras ketan, buang aja, atau kasih makan ayam. Trus nanam padi sendiri yang jenis biasa aja, baru deh bikin nasi goreng.”
“Bumbunya gue pake bumbu yang udah gue racik sendiri. Ini enak banget, nggak akan pernah kalian temui rasa kayak gini di restoran mana pun! Link video pembuatannya ada di description box,” ucap Ruri sambil menunjuk ke bawah.
“Sekarang kita siapin printilannya. Gue pake pare dan asam jawa yang tadi metik dari kebon emak, trus ada cabe, harus dan wajib yang rawit kalo nggak mau gue tendang. Trus biar agak fancy-fancy gitu gue pake sosis juga. Oh ya, gue nggak pake bawang-bawangan ya, karena udah ada di bumbu racik tadi. Paling nanti tambahin bawang goreng aja di akhir, kalo stock bawangnya belum diabisin babeh. Babeh gue emang suka lupa diri gitu kalau ada bawang goreng nganggur…”
Ruri mengambil pisau belati.
“Harus yang seukuran ini ya pisaunya, dan harus tajam, kalau enggak nanti nyiksa. Nggak langsung memutus jalan nafas gitu kalau tumpul…” padahal yang dipotong Ruri hanya sayur-sayuran dan sosis.
Ruri mulai memotongnya dengan kasar dan menghasilkan potongan-potongan besar tak beraturan.
“Nah, segini aja cukup. Bisa bikin cekikikan nggak berhenti-berhenti ntar kalau kebanyakan.”
Dia mengambil wajan berukuran besar dan spatula.
“Ini namanya wajan, atau wok bahasa fancynya. Wajib pakai wajan gini ya, jangan pake panci, nanti malah jadi risotto. Sekarang kita taruh minyak dikit aja.”
Dia mulai memasak dengan serampangan dan berusaha mengeluarkan suara seberisik mungkin. Bahan-bahannya dimasukkan dengan cara sedikit dilempar, yang menimbulkan mereka beberapa kali mengumpat karena terkena minyak panas.
“Ini namanya cooking with style. Masak secara jantan. Minyak panas mah lempeng aja mukanya… aduh, blyat! Panas cuy…”
“Lah, omong doang lo, kepanasan juga kan…” ejek Baris.
Setelah beberapa menit memasak dengan penuh gaya belagu, akhirnya nasi goreng Ruri jadi juga.
“Nah, ini jadi juga. Sekarang tinggal tes rasa.”
Ruri menggunakan spatula untuk mengambil nasi goreng di piring, lalu memakannya.
“Hmm… ideal!” ucap Ruri dengan wajah santai dan jari tangan membentuk tanda ‘OK’. Dan mereka mengakhiri syuting.
Tiba-tiba handphone Ruri berdering. Ruri mengambilnya dari sakunya.
“Mama!” Ruri memberi tahu Baris dengan suara agak kaget.
“Pasti Ruby ngadu lagi. Hahahaha…” ucap Baris santai.
__ADS_1
-Yayashi-