
“Besok bersihin botol ya, sampai kinclong. Mama nggak mau tau.”
“Lah kan udah kena ujan ma, belum terlalu kotor kok…”
“Mama nggak mau tau. Pokoknya mama pulang, semua harus udah beres!”
“Mama nginep di kantor?”
“Iya, masih banyak yang belum selesai, tapi harus kekejar sebelum opening.”
“Ooh…”
“Ya udah, mama balik kerja dulu. Jangan nakal!”
“Iya ma…”
Ruri memanyunkan bibir sambil menutup telefon. Kana-hanim menghukum Ruri dan Baris untuk membersihkan tembok botol di depan, harus dibersihkan satu per satu. Sudah beberapa kali mereka mendapat hukuman itu, tapi tetap saja terasa sangat menyebalkan bagi mereka.
Kana-hanim sedang membantu suaminya menyiapkan opening kantor stasiun TV mereka di Levent. Kesuksesan Aden-bey menjadi aktor internet beberapa tahun lalu membuka jalan untuk bisnis impian keluarganya itu. Menjadi entertainer dan storyteller adalah passion mereka.
Baris membuka pintu kamar Ruby, dan langsung mendapat serangan umpatan darinya. Ruri dan Baris memakan nasi goreng gila itu sampai habis karena memang sebenarnya enak walaupun bahannya aneh. Ruby sudah dilarang oleh mamanya untuk makan masakan mereka.
“Ting tong… Ting tong…”
Ruby berlari ke bawah untuk membuka gerbang. Beberapa saat kemudian, dia kembali bersama Masha yang datang membawa seporsi makanan untuk Ruby. Rupanya Kana-hanim sudah menghubungi Masha untuk membawakan makanan.
“Kalian tuh emang keterlaluan ya! Kan udah dibilangin, kalau masak buat orang serumah, jangan macem-macem,” ceramah Masha kepada Ruri dan Baris.
Biasanya, kalau diceramahi Masha, mereka akan langsung punya jawaban pertahanan. Tapi kali ini mereka agak sungkan berdebat dengan Masha, nada suaranya agak berbeda dari biasanya, lebih pelan.
Ruby dan Masha berjalan keluar dapur, ke kamar Ruby. Mereka mengunci pintu, sepertinya supaya tidak ada gangguan dari duo gila itu.
Walaupun penasaran, Ruri mengubur dalam-dalam rasa penasaran itu. Dia dan Baris mulai membersihkan kekacauan di dapur. Potongan bahan-bahan dan cipratan minyak dan asam yang lembek ada di mana-mana.
“Ting tong… Ting tong…”
“Biiy, buka pintunya!” teriak Ruri.
“Iyaaa,” terdengar suara Ruby dan Masha melangkah di tangga. Mereka berdua berjalan menuju gerbang.
“Girls always go in pairs…” komentar Baris.
“Haha… lo tau nggak sih kita sering dikira gay gara-gara ngapa-ngapain berdua terus? Beberapa followers gue ada yang komen kalau gue putus sama Alex karena gue gay.”
“Lah, emangnya kita bukan pasangan gay kah?” tanya Baris bercanda.
“Yeee… gue mah straight. Tapi nggak tau juga kalo ternyata gue bi tapi cuma belum keliatan. Hahaha…”
“Hahaha… lo juga sih, nggak pernah keliatan mesra gitu sama Alex. Tau sih dia pacar pertama lo, tapi kelewat lempeng aja gaya pacaran kalian. Kayak, lo macarin dia cuma untuk aktualisasi diri doang. Temen-temen lo udah pada punya pacar, brarti lo juga udah waktunya punya, tapi sebenernya lo nggak suka-suka banget. Sering ribut iya.”
Ruri terdiam, namun tetap membersihkan dapur. Suasana menjadi hening, hanya ada suara-suara yang ditimbulkan perabot dapur dan gemercik air dari keran. Dia memang belum menceritakan masalah sebenarnya dengan Alex kepada siapa pun, termasuk Baris yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri. Dia ragu untuk mengatakan akar masalahnya. Ada hal utama yang Ruri tutupi selama bertahun-tahun, hal yang membuatnya sulit menyukai perempuan dengan tulus.
“Nanti gue certain.”
Suasana menjadi hening kembali.
__ADS_1
“Kok cewek-cewek nggak pada balik ke atas ya? Siapa sih yang dateng?” tanya Baris sambil berjalan ke luar, dia sudah selesai membersihkan seluruh countertop.
Ruri menutup pintu dishwasher, mengoperasikannya, lalu meninggalkannya untuk menyusul Baris. Dia juga penasaran siapa yang datang. Ruri melihat lampu di guest house menyala. Baris bersandar di punggung pintu guest house dan ngobrol santai dengan beberapa orang di dalam.
“Ooh… Nilu, kirain siapa. Kenapa nggak pada ke atas aja?” tanya Ruri setelah menengok ke dalam ruang tamu guest house.
“Lagi sesi curhat, Ri. Nggak mau bocorin ke kita,” ucap Baris santai.
“Pergi deh…” suruh Nilu.
“Iya-iya…” ucap Baris sambil mendorong Ruri untuk meninggalkan guest house.
Mereka langsung ke kamar Ruri untuk melanjutkan mengedit video tadi siang.
“Lo tadi mau cerita apa, Ri?”
Ruri berpikir sejenak.
“Iya… gue emang nggak suka-suka banget sama Alex…”
Baris menunggu sejenak, tapi Ruri belum juga melanjutkan kalimatnya. “Trus?”
“Yaaa… gue pacaran sama dia cuma biar nggak sepi aja. Kalian pada punya pacar gitu.”
“Udah gue duga sih… Trus lo bener-bener nggak ada gebetan gitu apa gimana? Belum nemu?”
“Belum…” ucap Ruri pelan.
“Yakin? Lo kayak nutupin sesuatu gitu dari gue.”
“Udah minta maaf?”
“Udah tapi ya nggak proper gitu sih kmarin.”
“Minta maaf baik-baik…”
“Iya…”
Masih terlalu susah untuk Ruri meceritakan yang sejujurnya kepada Baris.
--
Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Baris sudah jauh di alam mimpi, sementara Ruri belum bisa tidur. Ada sesuatu yang mengganjal dalam benaknya, yang selama beberapa minggu ini dia pendam dan berusaha tak ia hiraukan.
Ruri mengambil handphone dan melihat-lihat Instagram. Akun yang selama ini selalu berada pada urutan story terdepan, tak kelihatan. Dia mengetik ‘alexandraergec’ di search box. Tak ada hasil. Lalu Ruri membuka kotak pesan, thread dari Alex yang siang tadi masih terlihat, saat ini sudah tidak ada. Ruri langsung mengunci handphonenya dan menutup mata.
Ruri berusaha keras untuk tidur, tapi rasa bersalah menghantuinya. Dia ingin sekali meminta maaf dengan cara yang pantas kepada Alex. Selama ini Ruri hanya menganggap Alex pelampiasan kesendiriannya karena dia tidak punya nyali untuk jujur kepada orang yang benar-benar dia cintai. Lagipula, orang itu juga sudah punya pacar. Ruri hanya bisa memandangnya dari kejauhan, walaupun jarak mereka sangat dekat.
Ruri kembali membuka mata dan mengambil handphonenya. Aplikasi Instagram masih terbuka. Dia menuliskan nama pujaan hatinya di search box, tak ada foto profil dan akunnya juga kosong.
“Kenapa dia deactivate akunnya?” tanya Ruri dalam hati.
Rasa penasaran memenuhi pikiran Ruri. Dia berpikir sesuatu yang buruk menimpanya, tapi juga sedikit berharap kalau orang yang dia cintai sedang ada masalah dengan pacarnya. Atau malah sudah jadi mantan?
Ruri beranjak dari kasur, lalu keluar ke balkon. Ada seseorang yang sedang berdiri di halaman, memandang Bosphorus dalam kegelapan. Jantung Ruri berdegup kencang, lalu masuk ke dalam dengan langkah kaki yang entah kenapa terasa berat.
__ADS_1
Ruri keluar kamarnya, dan berjalan pelan-pelan ke lantai ke ruang tamu. Sesampainya di sana, diperhatikannya dengan seksama perempuan yang ada di halaman itu. Rasa ragu namun penuh harap membayanginya. Setelah beberapa saat memberanikan diri, dia berjalan ke rak mudroom lalu memakai mantel dan sandal. Ruri membuka pintu sepelan mungkin.
Perempuan itu menoleh ke arah pintu.
“Kamu lagi ngapain, Sha? Nggak tidur?” tanya Ruri dengan suara yang dibuat sesantai mungkin.
Masha diam sebentar, tanpa ekspresi. Lalu tersenyum seikhlas mungkin. tapi Ruri tau bahwa Masha sedang ada masalah. Ruri melangkah mendekatinya.
“Kita udah kenal dari kecil banget, Sha. Kalau ada masalah ngomong aja. Apa harus banget sesama cewek mulu yang kamu ajak curhat?” ucap Ruri, setenang mungkin.
Masha masih diam dan tersenyum tipis.
“Ruby aja sering curhat sama gue… Gue perhatiin juga lo nutupin masalah lo yang sekarang ke Baris ya?”
“Dih, sotoy. Emangnya gue bilang ada masalah kah?”
“Trus kenapa lo deactivate akun Instagram lo?”
Masha terdiam lagi. Kali ini mimik wajahnya lebih jujur.
“Lo aja nggak cerita dengan jelas tentang masalah lo sama Alex…”
“Tadi gue udah ceritain semuanya kok ke Baris.”
“Oke deh… kalo gitu gue juga nggak punya utang buat cerita ke lo, gue udah curhat tadi ke Ruby sama Nilu.”
Ruri ingin sekali bertanya sesuatu tapi dia tahan. Takut menyinggung atau malah membuat suasana menjadi tambah canggung.
“Lo ada masalah sama Ozan?” Ruri tak tahan juga untuk bertanya.
Masha terdiam lagi, lalu tersenyum seperti tak ada masalah apa-apa.
“Gue baru sadar ucapan lo tadi, lo ngepoin gue ya? Ketahuan…” sindir Masha sambil tertawa kecil.
Muka Ruri merona malu, tapi untung saja saat itu gelap. Jantungnya berdegup semakin cepat, perutnya mulai bergejolak. Tapi dia sangat yakin itu bukan akibat dari nasi goreng gila.
“Lo kan udah gue anggep kayak saudara sendiri. Abisnya tadi gue ngerasa nada bicara lo agak beda, trus kalian curhat. Ketahuan banget lo lagi ada masalah. Jadi ya gue kepoin aja Instagram lo…”
“Ooh…”
Suasana hening sejenak, mereka memandang Bosphorus.
“Lo kenapa sih?” tanya Ruri pelan.
Masha menghela nafas panjang.
“Gue putus sama Ozan…”
- Yayashi -
__ADS_1