
Angin malam menghembus pelan. Masha bergidik dan memeluk lengannya, kedinginan. Namun badan Ruri terasa panas, entah kenapa. Perutnya masih terasa bergejolak.
“Putus?” tanya Ruri pelan.
Masha tidak menjawab dan hanya menghela nafas panjang.
“Kenapa? Kok kayak tiba-tiba banget gitu? Kalian keliatan mesra banget tiap hari…”
“Cukup tau aja kalo gue udah putus sama dia. Kalo tentang alasannya, lo nggak perlu tau…” jawab Masha dengan tenang.
Ada kelegaan di hati Ruri, sesuatu yang selama bertahun-tahun seperti mencekiknya sekarang sudah terlepas. Tapi masih ada sesuatu yang mengganjal, yang saat ini masih belum tepat untuk diutarakan.
“Balik tidur sana gih…” suruh Masha.
“Lo nggak tidur?”
“Nanggung udah jam segini. Gue udah cukup tidur kok tadi…”
Ruri masih tetap ingin menemani Masha, namun dia sudah tidak punya alasan lagi untuk tetap berada di sana. Ruri melangkahkan kaki ke rumah, walaupun terasa berat. Lalu berhenti sejenak.
“Nanti bangunin jam 7 ya…”
“Kenapa?”
“Disuruh mama bersihin botol…” ucap Ruri sambil meringis.
Masha tersenyum sangat manis, Ruri hampir tumbang melihatnya.
“Iya… oyasumi…”
“Oyasumi…”
--
“Aniki… Mama…” ucap Ruby sambil menyodorkan handphonenya ke Ruri.
__ADS_1
“Moshi-moshi… Lagi bersihin botol ini… Ehmm… masih sekitar 60%... Ya paling jam 1an sih… Polonezkoy? Loh mama nginep lagi di kantor? Ooh… Oke… Ya udah deh, sama siapa? Baris nanti ada acara sama temen-temennya… Masha? Masha… ehmm… ya nanti aku tanyain dulu, dia lagi pulang sebentar… Oke… Love you too… Oh iya ma, beli bunga enggak? Oh… oke oke… tamam…” Ruri menutup telefon, lalu mengembalikannya ke Ruby.
“Jadinya sama Masha?” tanya Ruby.
“Iya, tolong tanyain bisa enggak ya,” perintah Ruri.
“Oke,” Ruby masuk ke rumah lagi.
Ruri dan Baris sedang membersihkan tembok botol dengan lift portable. Sudah dua jam mereka membersihkan botol-botol laknat itu tapi baru dapat sekitar 40%. Untung saja cuacanya bersahabat. Hujan kemarin membuat debu-debu dari proyek perbaikan jalan di sekitar pertigaan Jalan Korfez-Dolaybagi melekat kuat di setiap botol, sangat susah membersihkannya. Biasanya mereka hanya cukup menyemprot tembok itu dengan air debit sedang.
“Kenapa, Ri?” tanya Baris, penasaran kenapa tadi namanya disebut.
“Mama nyuruh gue ke Polonezkoy ke pembukaan kafe baru gitu.”
“Ooh… Ruby masih ada latihan ensemble?”
“Iya, kan tinggal 2 bulanan lagi…”
“Ajak aja tuh si Masha, itung-itung buat nyenengin dia. Emang cyka tuh si Ozan!” ucap Baris dengan nada sedikit marah.
“Udah, dia tadi cerita pas lo masih tidur. Berani-beraninya, ternyata selama ini Ozan sering main tangan! Kalo aja dia satu sekolah, udah gue hajar dia!”
Ruri kaget mendengarnya. Masha tidak menceritakan detil masalahnya ke Ruri. Dia ikut memanas mendengar cerita Baris. Kalau saja dia tau kalau selama ini Ozan memperlakukan Masha seperti itu, dia akan langsung merebutnya.
“Masha juga bego banget udah tau kelakuannya begitu masih dipertahanin. Sayang udah bertahun-tahun katanya, eman. Belum juga dapet Kimlik Karti (KTP Turki) udah bilang eman-eman aja… bego!” terlihat sekali Baris emosi dengan Ozan dan Masha.
Ruri teringat sekitar satu tahun lalu, ketika pensi perpisahan di SMP mereka, Ruri pernah melihat Masha menangis tapi tidak mau bercerita apa pun. Saat itu Ruri sudah curiga kalau Ozan menamparnya karena pipi Masha memerah, tapi Ruri tidak berani bertanya. Lalu Masha dan Ozan lulus. Masha masuk ke sekolah yang sama dengan Baris, Besiktas International Academy, sementara Ozan di Uskudar. Sejak saat itu Ruri tidak terlalu memperhatikan hubungan Masha dan Ozan.
“Masha bisa katanya…” teriak Ruby secara tiba-tiba, dia berdiri di ramp di atas tembok botol.
“Oke… suruh ke sini jam setengah 2, harus udah siap jalan.”
“Oke…”
Jantung Ruri kembali berdegup kencang, entah untuk ke berapa kalinya dalam 24 jam ini. Dia mulai berandai-andai tentang hubungannya dengan Masha. Apakah ini pertanda baik? Bisa sangat kebetulan mereka putus dari pacar masing-masing di waktu yang hampir bersamaan. Tapi dia masih ragu apakah Masha menyukai laki-laki yang lebih muda darinya. Bagaimana kalau Masha hanya menganggapnya sebagai adik? Bagaimana kalau Baris tidak merestuinya? Bagaimana kalau ini semua malah membuat hubungan mereka merenggang? Itu akan menjadi mimpi buruk yang akan Ruri selali selamanya.
__ADS_1
“Gue minta tolong ya, Ri…” ucap Baris dengan muka serius, masih sambil membersihkan botol.
“Minta tolong apa?”
“Tolong hibur Masha… Bantuin gue…”
“Tenang aja… nggak usah lo suruh juga gue bakal hibur dia kok…” jawab Ruri dengan suara yang dibuat senatural mungkin, jangan sampai dia terlihat terlalu excited. Dia tidak mau Baris mencurigai perasaannya.
“Ay blyaaat…” Baris mengumpat pelan sambil membersihkan debu yang membandel, tapi terdengar ada alasan yang lebih dari itu, kekecewaan.
Mereka selesai membersihkan tembok botol pukul setengah 12 siang, lebih cepat dari perkiraan. Cuaca saat itu lumayan panas, botol-botol memantulkan cahaya dan agak menyilaukan kalau dilihat dari dekat. Baris langsung pulang ke rumah, sementara Ruri mulai bersiap-siap untuk ke Polonezkoy bersama Masha. Dia terlalu bersemangat sampai lupa dengan rasa capeknya.
Dia bersantai di kamar sebentar setelah mandi. Dipandanginya Bosphorus yang menurut Ruri belum pernah terlihat seindah itu selama hampir 15 tahun dia tinggal di sana. Atau mungkin itu hanya sugestinya saja. Dia merasa terbang tinggi, semesta seperti mendukungnya. Masha yang putus dengan orang yang sudah bertahun-tahun dipacarinya, mamanya yang menyuruh dia pergi dengan Masha, dan Baris yang menyuruhnya menghibur Masha, hari itu merupakan hari yang paling indah untuk Ruri.
Ruri teringat sesuatu. Dia berjalan menuju lemari pakaiannya, lalu mengambil sebuah kotak kayu yang tersembunyi di balik tumpukan baju dingin. Kotak itu bergaya klasik, seperti kotak harta karun kecil. Dibukanya kotak itu, berisi kelereng koleksinya sejak kecil. Lalu dia menarik salah satu metal dekorasi di sisi kotak. Ditutupnya kembali kotak itu, lalu dibalik. Dia menekan sisi bawah kotak, lalu terbuka dengan sendirinya. Ada beberapa barang di dalamnya. Beberapa lembar foto, sebuah surat pendek, sebuah mahkota bunga sakura yang sudah diawetkan, dan puntung bekas kembang api yang sudah dinyalakan.
Ruri mengambil foto-foto itu, semuanya adalah foto Masha, baik sendirian maupun berdua bersama Ruri. Lalu dia mengambil surat pendek yang ditulis di selembar kertas notebook bergambar Toph Beifong, lalu membacanya.
Ruri, askim, makasih ya sushinya. Enak banget…
Kapan-kapan jangan pakai beras basmati ya, nyebar kemana-mana.
Ingatannya kembali ke momen pertama kalinya dia membuat sushi untuk Masha. Saat itu dia membuatnya diam-diam, hanya ada nasi dari beras basmati yang memang biasa dimasak mamanya. Masha meninggalkan surat itu di laci meja Ruri ketika dia ada jam olah raga.
Ruri meletakkan lagi surat itu. Lalu mengambil mahkota sakura. Di awal musim semi 3 tahun lalu, mereka menikmati mekarnya bunga sakura di depan rumah Ruri, hal yang rutin mereka lakukan setiap tahun. Mahkota bunga itu jatuh tepat di kepala Masha, lalu Ruri mengambilnya. Saat ia perhatikan, bentuk mahkota itu seperti hati. Lalu Ruri mengawetkan dan melaminatingnya.
Puntung bekas kembang api itu adalah saat pertama Ruri menyadari kalau dia menaruh perasaan lebih ke Masha. Yaitu saat Masha menyembuhkan traumanya terhadap kembang api. Dulu ketika balita, Ruri bermain petak umpet dengan sepupu-sepupunya saat pulang ke Jepang. Saat bersembunyi, dia tak sengaja menemukan tumpukan kembang api di gudang. Hal itu menarik perhatian Ruri, lalu setelah selesai bermain, dia kembali ke gudang dengan membawa sebuah korek untuk menyalakan kembang api. Setelah menyalakan salah satunya, dia membuang puntung korek yang masih menyala dan jatuh tepat ke tumpukan kembang api. Hampir semua kembang api itu meletus di dalam gudang dan memantul ke segala arah, membuat benda-benda di ruang itu berjatuhan. Kejadian itu menimbulkan trauma selama bertahun-tahun. Sebenarnya setelah pulang ke ‘Rumah Berlian’, trauma Ruri sedikit terobati. Dia berani bermain kembang api ukuran kecil. Namun ternyata belum sembuh total. Traumanya bertambah parah karena area Bosphorus sering menjadi venue pesta kembang api. Setiap pesta itu diadakan, Ruri selalu mengurung diri di studio yang memang cukup kedap suara, sambil mendengarkan musik keras-keras.
Suatu hari ketika tahun baru, lima sekawan itu berkumpul di rumah Ruri. Di tengah pesta kembang api, Masha masuk ke studio lalu memakaikan headphone ke telinga Ruri. Dia menariknya ke void di belakang tembok botol. Masha menyalakan sebuah kembang api lalu menyerahkannya dengan paksa ke tangan Ruri. Ruri mulai merengek dan berteriak, tapi masha menutup mulutnya dan memeluknya erat-erat, masih sambil menahan kembang api di tangan Ruri agar tidak dilempar. Lalu Masha membuka headphone Ruri pelan-pelan. Masha tetap memeluk Ruri selama kembang api di tangan mereka masih menyala dan pesta di Bosphorus masih berlangsung. Sejak saat itu, Ruri tidak takut lagi dengan kembang api.
Ruri meletakkan seluruh benda bersejarah itu ke kotaknya. Kompartemen itu selalu menjadi rahasia kecilnya, yang mungkin saja sebentar lagi akan dia bagi seseorang.
- Yayashi -
__ADS_1