
Ruri memakai parfum sedikit lebih banyak kali ini. Dia berkali-kali memastikan tidak ada keanehan di wajah dan penampilannya. Imajinasinya tentang sisa hari ini terus-menerus membuatnya tersenyum. Dia menengok ke jam tangannya, sudah hampir pukul 1 siang.
Ruri berjalan ke lantai dasar, lalu duduk di tangga depan studio. Cahaya matahari yang menembus tembok botol sudah lumayan terang, walaupun akan lebih bagus lagi ketika menjelang sore. Dia mengambil beberapa foto di ruang void itu, foto tembusan cahaya pertama setelah musim dingin usai.
“Ting tong… Ting Tong…” jantung Ruri berdegup kencang lagi mendengar bel rumah berbunyi.
Dibukanya pintu gerbang. Ternyata seorang kurir yang datang membawa ikebana pesanan mamanya yang akan dibawa ke kafe baru. Ruri menerima karangan bunga itu, dan terbersit imajinasi bagaimana sikapnya ketika dia menitipkannya ke Masha nanti.
Ruri merasa grogi tidak karuan, akhirnya dia memutuskan untuk mengambil gitar akustik di studio dan memainkannya di void. Terdengar suara langkah kaki dari tangga, Ruby datang membawa biolanya. Dia senyum-senyum aneh ke arah Ruri, seperti berniat menggodanya.
“Kenapa senyum-senyum gitu?”
“Nggak kenapa-kenapa, gemes aja…” ucap Ruby dengan nada menggoda. Dia meletakkan biolanya di sebelah Ruri.
Ruri mengabaikannya dan melanjutkan main gitar. Ruby cekikikan.
“Seriously, kenapa sih?”
“Nanti yang natural aja kak, jangan salah tingkah ya…” goda Ruby sambil senyum-senyum.
“Wait… do you know something?” Ruri mulai penasaran.
“Oh, I know a lot of things!” ucap Ruby dengan mantap sambil berkacak pinggang.
Ruri mengangkat satu alisnya.
“What kind of things?” tanyanya dengan nada menginterograsi.
“Kompartemen rahasiamu, tingkah-tingkahmu ke Masha, dan lain-lain…” jawab Ruby dengan santai.
Ruri terkejut dan melongo. Dia tidak percaya Ruby bisa mengetahuinya.
“Gimana bisa?? Tau dari mana? Lo sering nguping ya? Sering ngintip ya?”
“Aniki… aku kenal aniki dan Masha-abla sejak lahir. Diem-diem gini aku bisa ngebaca arti tingkahmu…” ucap Ruby sambil duduk di samping Ruri, dia memangku biolanya.
“Aku tau aniki udah suka sama Masha-abla dari kecil… aku bisa lihat bedanya perlakuan aniki ke Masha-abla dan Nilu-abla. Nggak terlalu beda sih kalo diliat sekilas, tapi aku adekmu, aku bisa paham…”
Ruri tersenyum manis ke adiknya, lalu merangkulkan tangannya ke pundak Ruby.
__ADS_1
“Ututututuuu… adek gue kecil-kecil udah paham masalah orang dewasa ya. Kurang-kurangi ya nonton dramanya…” ucap Ruri santai sambil mencubit kedua pipi Ruby.
“Idiiiih!! Aniki tuh juga masih bau kencur! Sok-sokan manggil aku anak kecil! Heeeeuuuuhhhh…” ucap Ruby kesal, sambil melepaskan cubitan kakaknya.
“Siapa aja yang tau? Lo cerita-cerita ke orang lain nggak?”
“Are you crazy? Enggak lah… aku juga paham situasi. Tapi aku nggak tau sih kalau mama, aku aja bisa ngerasain, apalagi mama…”
Ruri tertegun mendengar ucapan Ruby. Di satu sisi dia merasa malu sudah ketahuan, tapi di sisi lain dia lega karena ada orang yang memahaminya tanpa harus dia ceritakan. Terkadang dia lupa betapa berharganya adik perempuannya itu. Kadang dia lebih fokus terhadap Masha daripada adiknya sendiri. Kadang dia jumawa mendengar pendapat orang tentang hubungannya dengan adiknya yang sangat akrab. Dia bangga, tapi saat itu dia merasakan sesuatu yang lebih dari itu.
“Come here…” Ruri membuka tangannya dengan maksud ingin memeluk Ruby.
Ruby tersenyum dan mendekatkan badannya ke Ruri. Tapi saat akan didekap Ruri, Ruby langsung melengos pergi.
“Sorry-sorry… hapeku geter-geter dari tadi, temenku udah di luar. Nanti malem kita lanjutin pelukannya ya aniki sayaaaaang~ Selamat berjatuh cinta~” teriaknya sambil berlari ke luar.
“Ay blyaaaat…” umpat Ruri pelan sambil tersenyum melihat keusilan adiknya.
Dia mengembalikan gitar akustik ke studio. Ruri melihat jam tangannya untuk ke belasan kalinya, dia sudah mulai tidak sabar menunggu Masha. Ruri bersiul sekenanya untuk menghilangkan grogi, tapi gagal.
“Ting tong… Ting tong…”
Jantung Ruri berdegup sangat cepat dan terasa keras, seakan-akan dia bisa mendengarnya. Ruri sampai hampir tumbang karena deg-degan. Dia sangat yakin kalau Masha ada di balik pintu gerbang itu. Dia mengambil ikebana dan memeluknya dengan sangat erat. Lalu berjalan pelan menuju gerbang dan membukanya.
Ruri tidak bisa berkata apa-apa melihat tingkah Masha. Dia menyusulnya naik untuk membukakan pintu.
“Putri Salju kenapa? Abis mbajak sawah ya?” sindir Ruri sambil membuka pintu.
“Taksinya tuh mogok di Anadolu Hisari, aku jalan dari sana,” jawab Masha sambil lari ke kulkas.
Ruri tertawa kecil mendengarnya. Masha mendapat sebutan ‘Putri Salju’ dari teman-temannya karena kalau kepanasan sedikit langsung bertingkah lebay, ditambah dengan background keluarga ibunya yang berasal dari Russia.
“Nggak naik bus aja?”
“Nanggung…”
Masha meminum segelas besar air dingin. Lipglossnya menodai mulut gelas. Ruri mendekatinya dengan langkah agak berat.
“Ini bunga untuk Putri Salju…” ucap Ruri sambil membungkuk dan menyodorkan ikebana ke Masha. “Titip aja tapi…”
Masha tertawa kecil dan menerima karangan bunga itu. Mereka kembali ke void dan duduk di tangga depan studio.
__ADS_1
“Cahayanya bagus ya, udah lama nggak liat sebagus ini. Mungkin karena abis dibersihin juga kali ya. Good job you guys!” Masha memuji keindahan tembok botol dan hasil kerja keras Ruri dan Baris membersihkannya.
“Iya dong, siapa dulu yang bersihin.”
“Kalau gitu kalian sering-sering aja bikin masalah, biar nih tembok bersih terus.”
“Yeeee… enak aja! Nggak usah disuruh juga gue sama Baris udah bikin kekacauan sendiri!”
Mereka tertawa bersama, lalu hening. Keringat dingin mengalir di punggung Ruri. Mungkin karena terlalu banyak grogi jantungan dalam 24 jam ini. Ruri ingin memecah keheningan tapi bingung harus membicarakan atau melakukan apa. Tak biasanya dia selemah ini ketika berdua dengan Masha.
Ruri melirik ke arah Masha dengan sudut matanya, dia sedang tersenyum memandang tembok botol. Tangan Masha mengelus-elus pot ikebana di pangkuannya.
“Lo abis putus masih bisa ngebanyol ya… Nggak kayak gue… Atau emang gitu kali ya kalau cowok?”
“Ya kan beda juga, Sha… Lo udah bertahun-tahun sama Ozan. Wajar lah kalau sedih banget.”
“Lo juga udah lumayan lama kali sama Alex… tapi gue perhatiin emang lo kayak nggak keliatan sedih gitu ya, apa cuma perasaan gue aja?”
Ruri bingung harus menjawab apa. Tapi tentu saja sekarang bukan waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan.
“Sedih sih, tapi nggak berlarut-larut. Mungkin karena ‘Rumah Berlian’…” jawab Ruri sekenanya, terdengar bodoh.
“Halah… alasan klasik… Tapi ada benernya juga sih… Liat tembok ini doang aja bisa damai-damai gimanaaa gitu… Kayak liat hati yang gelap, tapi masih ada seberkas cahaya yang bisa menyelinap.”
Suasana hening sejenak. Ruri berpikir keras harus mengucap apa.
“Ini mah bukan seberkas cahaya, ribuan berkas kalau ini, banyak banget botolnya…”
“Lo tuh emang paling jago ya ngerusak suasana!” gerutu Masha.
Ruri tersenyum.
“Tapi emang iya… keberadaan rumah ini dan penghuninya selalu kayak seberkas cahaya di ruang hampa gitu. Tiap ada masalah aku pasti larinya ke sini juga kan…”
“Diiin… Diiiiiin…” tiba-tiba terdengar suara klakson mobil.
“Itu pasti Hakan-abi. Yuk!” ajak Ruri sambil menarik tangan Masha dengan pelan.
Mereka masuk ke mobil Hakan-abi dan langsung berangkat ke Polonezkoy.
__ADS_1
- Yayashi -