
Bab 1
Tak Punya Hati
“Mi, tolong jangan pergi. Jangan tinggalkan kami!” Aluna menahan lengan ibunya di depan pintu.
“Tidak. Aku harus pergi!” Mami sama sekali tak memandang iba Aluna sekalipun di kedua pipinya air mata sudah menganak sungai.
Mami pun sama sekali tak menghiraukan si kembar Deva dan Devi yang masih membutuhkan kasih sayangnya. Keduanya kini baru akan masuk SMP.
“Kalau Mami sudah nggak peduli lagi Papi, setidaknya pikirkan masa depan Aluna dan si kembar,” ucap Papi pelan. Dia menyusut air matanya dengan punggung tangannya.
"Bosan. Itu saja yang selalu kamu bilang," sanggah Mami. "Omong kosong soal masa depan. Bukankah aku juga harus memikirkan masa depanku sendiri, hah?! Masa depanku hancur jika aku tidak putuskan untuk pergi hari ini!"
"Kenapa kamu tak pernah sedikit pun menurunkan egomu?" ucap Papi.
"Dalam kondisi seperti ini, kita harusnya saling menguatkan, bukan saling menyalahkan. Mami, tolong pertimbangkan lagi matang-matang. Jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari," ungkap Aluna.
Mami merasa diserang dengan pertanyaan itu. Apalagi, menurut Mami ucapan Aluna menegaskan dirinya berada di pihak siapa. "Apa katamu? Ngaca dulu sebelum bilang seperti itu. Justru kamu yang sebenarnya egois," Mami balik menyerang.
"Dan kamu, Luna. Kamu nggak usah sok-sokan nasihatin aku. Aku sudah punya pilihan sendiri," Mami menatap Aluna tajam.
"Dengar dan camkan baik-baik! Ucapan kalian takkan bisa mengubah pilihanku sedikit pun," lanjut Mami menatap Papi, Aluna, dan si kembar satu per satu.
Malam semakin larut. Sesekali cahaya kilat terlihat dari balik jendela. Suara guntur pun terdengar mengerikan. Hujan deras tak henti-hentinya turun sejak Subuh pagi tadi.
Namun Mami sama sekali tak menghiraukan cuaca. Kakinya melangkah, melewati batas daun pintu depan rumah.
“Aku tak kuat tinggal di pemukiman kumuh ini. Aku harus pergi!”
Semenjak pandemi, kondisi mereka memang berubah. Sebelumnya mereka tinggal sebuah kawasan elit. Huniannya bak istana.
Kini mereka terpaksa harus menempati sebuah rumah sederhana. Untuk bisa sampai ke rumah tersebut harus melewati gang-gang sempit yang becek.
“Mami jangan pergi! Mami mau pergi ke mana?” pertanyaan si kembar Deva dan Devi terdengar polos.
Keduanya berusaha menghambur keluar untuk memeluk Mami. Namun Mami menghindari pelukan mereka.
"Lepaskan!" Mami menghempas tangan Deva dan Devi yang meraihnya.
"Aku mau sama Mami," rajuk Devi, "Kenapa Mami pergi?"
__ADS_1
"Biarkan aku pergi. Aku ingin bahagia. Aku tak ingin menderita," Mami menguatkan diri. Sekalipun begitu, tetap saja tangisnya tak terbendung.
"Kalian pun tanpa akui bisa bahagia. Pergilah… Jangan halangi aku lagi," lanjutnya sambil sesenggukan.
"Mami, tetaplah bersama kami. Aku janji nggak akan repotin Mami lagi. Aku akan mandiri dan membahagiakan Mami," kali ini Deva yang merajuk.
"Aku harus pergi," kata Mami. "Dan jika nanti aku kembali, itu pun hanya untuk mengambil surat perceraian yang sudah tertunda berbulan-bulan. Papi tak pernah mau menandatanganinya."
Mendengar sayup-sayup kalimat itu di antara derasnya air hujan, hatinya kian tertusuk. Namun, hatinya sama sekali tak berniat menandatanganinya. Justru ingin sekali dia merobek-robek surat gugatan cerai yang dilayangkan istrinya itu.
Papi sudah tak berharap banyak. Semenjak dari kamar dia membujuk istrinya agar tidak pergi. Namun istrinya bersikukuh.
Bahkan, sejak istrinya membuka pintu kamar sambil menarik kopernya, Papi menahannya berkali-kali. Namun usahanya tak berguna sama sekali.
"Memangnya kamu mau pergi ke mana?" Papi masih mengingat pertanyaannya untuk mencecar istrinya.
"Terserah aku. Aku pergi untuk mencari kebahagiaanku sendiri," ungkap sang istri ketus dan terkesan egois.
"Yang pasti, aku nggak mau hidup sengsara denganmu," lanjutnya.
Kalimat terakhir itu menghujam di hati papi ibarat belati. Lukanya terus mengalir hingga detik ini.
Kini Papi memilih pasrah. Dia duduk termangu di sebuah kursi reyot, menatap istri dari balik kaca jendela.
Dia menyaksikan dengan nanar Deva dan Devi berusaha mengejar Maminya. Sayang, usaha mereka untuk mendapatkan perhatian Mami tak membuahkan hasil.
Papi tak tahan menyaksikan pemandangan itu. Semakin jelas pemandangan itu, semakin bertambah dan terus mengalir luka belati yang masih menancap di dadanya.
Papi bangkit. Dia melangkah keluar, menghampiri putri sulungnya yang masih mematung menyaksikan adik kembarnya dengan hati yang amat pilu.
"Pi, kenapa Mami bisa setega itu pada kita?" Aluna menyandarkan tubuhnya ke pelukan Papi. Sekujur tubuh dan rambutnya basah kuyup oleh derasnya air hujan.
"Mamimu kalah, Sayang. Dia mungkin tak tahan dengan ujian ini," bisik Papi seraya mengusap-usap kepala putrinya.
"Tapi, Papi sangat percaya kalian. Kamu dan si kembar akan tetap kuat sekalipun tak ada Mami di sisi kalian," lanjutnya.
"Aku nggak yakin, Pi. Dan … aku juga nggak janji akan kuat seperti yang Papi bayangkan," ungkap Aluna. Tangisnya pecah sambil memeluk Papi erat-erat.
"Kamu akan kuat. Papi akan selalu ada di sisi kalian apa pun yang terjadi," Papi menegaskan sekaligus meyakinkan Aluna.
Hujan makin deras. Sementara si kembar sudah kelihatan keberadaannya. Sepertinya masih mengejar Mami.
__ADS_1
"Hujan ini belum ada tanda-tanda reda, ayo kita berteduh," Papi menuntun Aluna ke teras rumah.
Mereka berdua duduk sembari menyaksikan sekeliling yang makin tergenang air. Daerah tempat tinggalnya yang berlokasi di kawasan pinggiran kota Bogor itu memang rendah dan berada di bantaran Sungai Ciliwung.
"Luna, lihat airnya kok makin tinggi ya?"
"Iya, nih, Pi?
Ketinggian air karena hujan deras sejak tadi pagi membuat semua khawatir, tak terkecuali Aluna dan Papi.
"Jangan-jangan Ciliwung sudah siaga satu?" kata Papi.
"Bisa jadi, hari ini aku sama sekali nggak update berita lagi."
Papi dan Aluna mematung. Selokan-selokan di samping gang becek sudah tak kelihatan yang ada hanya aliran air cukup deras.
"Beneran, banjir, Pi. Air sebentar lagi naik ke rumah!" Aluna mulai panik.
"Gawat! Kamu segera amankan barang-barang di rumah sebisa mungkin. Papi mau mencari si kembar!"
Tanpa menoleh ke arah Luna sama sekali, Papi segera menerobos genangan air untuk mencari si kembar.
"Papi, hati-hati. Jaga diri! Kalian bertiga harus kembali!" Aluna meminta ayahnya dengan volume suara terbesar yang ia keluarkan.
Sekalipun ayahnya tak menoleh, Aluna sangat berharap permintaannya itu masih bisa terdengar oleh sang ayah.
Aluna pun bergegas masuk. Dia segera beraksi. Terlebih dahulu ia mengganti pakaiannya. Tubuhnya masih menggigil akibat basah kuyup. Dia melakukannya secepat kilat.
Sebelum air menggenang membanjiri ruangan dia mengangkat barang-barang yang sekiranya penting untuk diselamatkan.
Sementara itu, sebagian besar warga pun sama paniknya. Suara kentungan dibunyikan.
"Banjiiir!" teriakan itu terdengar berulang-ulang.
Papi terus mencari si kembar Deva dan Devi.
"Devaaa…"
"Deviii…"
Papi terus menerus memanggil dua nama itu dalam pencariannya.
__ADS_1
Bersambung