
Bab 5
Life Must Go On
“Lun, Papi kok lapar banget ya...” ucap Papi pagi itu. Dia mengelus-elus perutnya yang keroncongan.
“Kalo gitu, aku ke dapur umum ya, mumpung masih pagi. Mudah-mudahan nggak ngantri.” Aluna yang mengenakan celana panjang hitam dan kemeja flanel kotak marun berpadu hitam itu menghambur keluar.
“Sip.. jangan lupa minta masker dan hand sanitizer ya… Stok punya kita sudah habis...”
Aluna berbalik melirik ayahnya sambil mengacungkan jempolnya.
Tiba di posko dapur umum, para pengungsi tampak mengantre. Panjang antrean masih normal.
Aku ambil sarapan dulu atau ambil masker ya? pikir Aluna.
Melihat panjang antrean di posko dapur dan prokes lebih pendek antrean di posko prokes, akhirnya dia memutuskan untuk mengambil masker dan hand sanitizer terlebih dahulu.
Beberapa menit berdiri di antrean posko prokes, akhirnya tiba juga gilirannya. Tak menunggu lama, dia mendapatkan sekotak masker dan hand sanitizer.
“Terima kasih banyak ya, Bu,” ucap Aluna kepada petugas perempuan yang memberikan sarana prokes itu kepadanya.
“Sama-sama, Dik,” balas petugas itu.
Keluar dari antrean untuk mendapatkan saran prokes, Aluna masuk ke antrean untuk mendapatkan sarapan.
Syukurlah, pilihan dia tepat. Antrean di posko dapur umum itu tersisa sekira 5 orang. Aluna pun berdiri di antrean berikutnya.
Kurang dari 15 menit, Aluna sudah mendapatkan paket nasi untuk sarapan dirinya dan ayahnya. Dia pun segera kembali ke ruang tempat Deva dan Devi dirawat.
Pagi ini, Aluna dan Papi masih menjaga si Kembar Deva dan Devi.
“Ayo, Pi.. sarapan dulu… Jagain si kembar Deva dan Devi juga harus kuat dan semangat. Life must go on!” ajak Aluna sambil menyemangati dirinya sendiri dan juga ayahnya.
“Betul-betul,” jawab ayahnya singkat sambil tersenyum. “Papi suka qoutemu pagi ini,” lanjutnya sambil mengangkat otot bisep dan mengepalkan tangan kanannya.
__ADS_1
Ayah dan anak itu pun menikmati sarapannya dengan dengan menu nasi kuning, telor dadar, dan oreg tempe.
Mereka tampak semangat. Ya memang seharusnya semangat itulah yang mesti tetap dirawat sekalipun masih dalam suasana duka karena ditinggal sosok istrinya, banjir dan musibah yang menimpa Deva dan Devi secara beruntun.
Beberapa saat kemudian, Papi lebih dulu menghabiskan jatah sarapannya.
“Pi… semangat banget sarapan pagi ini,” goda Aluna.
“Bukan semangat lagi, Lun… Bawaannya emang Papi laper. Alhamdulillah, pagi ini selera makan Papi resmi kembali. Kemarin-kemarin Papi kurang nikmat makan,” jelas Papi. Lalu dia menyeruput teh hangat di gelas plastik yang sepaket tadi dibawa oleh Aluna.
“Iya, Pi. Sepertinya sama aku juga. Rasanya sarapan pagi ini paling beda dari beberapa hari kemarin selama di pengungsian.”
“Apa rencana kita ke depan, Pi? Aluna bertanya sebelum menghabiskan suapan terakhirnya.
“Kelihatannya banjir sudah surut, Papa akan bereskan rumah. Kamu sementara tetap di sini jagain si kembar,” jelas Papi serius. “Kewajiban Papi adalah menjaga kalian. Papi akan melanjutkan rutinitas Papi...”
“Berarti Papi, mau narik angkot lagi?” tanya Aluna memastikan.
“Iya, untuk saat ini, baru itu yang bisa Papi lakukan. Semoga ke depan dari hasil narik angkot punya Pak Arman, selain nanti bisa cukupi kebutuhan, Papi juga pengen nabung buat modal usaha...”
“Ya.. mudah-mudahan. Inilah jalan dan ujian yang harus kita tempuh… Dulu Papi senang punya banyak usaha, namun semuanya alami kejatuhan saat pandemi terjadi. Papi tidak menyesal sama sekali. Barangkali ini cara Allah untuk kita, terutama Papi bisa terbebas dari utang dan pratik riba...” Papi tersenyum.
Dulu memang dia pengusaha kaya di Jakarta, sukses memimpin beberapa PT. Terkendala dengan bunga bank, akhirnya semua aset diambil bank. Papi hanya memiliki sisa-sisa uang untuk bisa hidup bertahan dengan istri dan anak-anaknya. Dia pun hijrah ke Bogor dengan membeli rumah kecil.
Dia lebih tenang sekarang, sekalipun kecil, dia kini tidak lagi dikejar-kejar hutang riba. Namun sekalipun dia berusaha untuk menjalani hidup dengan normal sesuai ketentuan agama, justru yang menjadi ujiannya kini adalah istrinya sendiri. Istrinya pergi setelah memintanya untuk menandatangani surat cerai. Tidak terima, malam sebelum istrinya itu pergi, Papi justru malah merobek-robek surat gugatan cerai itu.
“Kamu sendiri, bagaimana Lun? Maafin Papi ya.. Rencana kuliah Mastermu jadi berantakan!” Tak tahan, Papi menitikkan air matanya.
Aluna mengambil hapenya. Sambil mengecek apakah ada email apply lamarannya yang dibalas.
Dia mengecek sejenak dan membuka emailnya. Ternyata ada panggilan interview. Dia sangat bahagia. Akhirnya ada juga lamaranku yang nyangkut, pikirnya.
Namun ketika dia baca lebih teliti lagi, ternyata email itu masuk dua hari yang lalu. Itu artinya, panggilan interviewnya sudah lewat. Dia berpikir beberapa saat.
Dia mencoba mengingat-ingat, kenapa dia tidak buka email saat itu.
__ADS_1
Dia tahu masalahnya. Saat itu, dia sedang kalut. Hari pertama banjir dan juga harus mencari kedua adiknya.
Aluna mencoba tenang. Tapi tetap saja, Papinya bisa melihat dari sikapnya.
“Lun, kamu kenapa?”
“Euummm… nggak kok, Pi. Ya, tenang aja kok, Pi, aku masih muda, dan masih ada waktu untuk mengejar kuliah S2,” dia berusaha menghibur dirinya dan juga ayahnya.
Padahal sebenarnya di hatinya yang paling dalam, mendengar kata S1 atau Master, mengingatkannya pada kegagalan masuk di PTN Favoritnya. Uang yang seharusnya dipakai untuk membayar biaya kuliah terpaksa digunakan untuk menutupi keluarga, menggenapi usaha papinya untuk membeli rumah kecil di Bogor yang biayanya belum tertutupi.
“Aku pasti akan mendapatkan pekerjaan. Kalau aku sudah bekerja, nanti bakal punya biaya untuk lanjut Master Komunikasi, bantu modalin Papi usaha dan biayain sekolah si kembar Deva dan Devi,” ucap Aluna dengan tersenyum miris dan hati yang teriris-iris.
“Papi akan selalu mendoakan, semua ucapanmu Allah segera kabulkan dan menjadi kenyataaan,” ucap Papi.
“Aamiiin. Makasih banyak, Pi. Doa Papi pasti didengar Allah,” balas Aluna.
Aluna menyimpan apa yang dia alami rapat-rapat. Dia tidak bisa bermanja ria kepada Papinya seperti dulu saat hidup mereka kaya. Dia tidak pernah mengeluhkan jika berapa banyak lamaran yang sudah dia kirim, nanti belum ada perusahaan yang mau memanggil untuk menjalani tes dan interview.
Namun sekalipun realitanya seperti itu, Aluna menolak untuk menyerah. Dia selalu ingat pesan Papi, tugas manusia itu adalah berikhitar, biarkanlah semuanya serahkan pada Allah.
“Biarlah sistem Allah yang bekerja dan kita tetap berdoa agar Dia menggerakkan siapa pun orangnya untuk memanggilmu untuk tes dan interview,” kata Papi untuk sekian kali kepada putrinya.
“Siap, Pi. Papi selalu bilang begitu… aku sudah hafal kalimat Papi hehe,” ungkap Aluna. Saat ini Dia tetap berharap pada-Nya agar pekerjaan impian yang sangat dibutuhkannya saat ini segera didapatkan.
Ada yang mengganjal di hati Aluna. Dia sebenarnya ingin berbagi kepada ayahnya. Hanya saja, dia pikir-pikir lagi, kalau dia bercerita, dia kuatir ayahnya bertambah sedih.
“Lun, kamu mau bilang sesuatu?” Papi menatap Aluna yang dari wajahnya tampak galau.
“Engg… Enggak kok, Pi,” Aluna masih menyembunyikannya. Untuk saat ini dia akan terus mengirimkan lamaran.
Anggap saja panggilan tes di email yang terlambat dia baca ibarat jodoh. Ya mungkin belum berjodoh, pasti lamaran pekerjaan yang kukirim, akan menemukan jodohnya, gumam Aluna dalam hati untuk mengusir kesedihan yang dia alami saat ini.
Sejenak Aluna memandangi Devi. Dan tiba-tiba dia melonkak kegirangan.
“Pi, Pi… jari Devi gerak… Dia sudah sadar,” Aluna menunjuk jemari tangan adik perempuannya yang bergerak-gerak.
__ADS_1
Bersambung