Temani Sampai Surga

Temani Sampai Surga
Bab 2 | Asa dalam Doa


__ADS_3

Bab 2


Asa dalam Doa


"Deva, Devi kalian di mana," gumam Aluna. Dia kenakan masker. Di pengungsian, penerapan prokes sangat ketat karena saat ini penyebaran Covid-19 masih menggila.


"Apakah kalian terseret arus air Ciliwung ini?"


Aluna berdiri di tepi Jembatan Sempur di sore yang mendung itu.


Suasana jembatan sore itu sangat sepi. Sesekali kendaraan lewat. Orang mungkin belum berani lewat karena banjir yang baru saja terjadi sehari yang lalu belum surut sepenuhnya.


Dia melihat jauh ke bawah, ke derasnya Sungai Ciliwung yang berwarna keruh. Sungai masih meluap, tapi tidak sebesar pagi tadi.


Kedua tangan Aluna memegang pagar tembok jembatan. Tubuhnya mulai bersandar. Matanya awas menatap air yang deras. Hatinya berharap, dia bisa melihat adil kembarnya.


Aluna menutup kelopak matanya sembari membayangkan senyum manis Deva dan Devi.


Sayang, saat membuka mata, yang dia saksikan hanya air deras berwarna kecoklatan.


Dia juga tak mendengar suara Deva dan Devi yang amat dia rindukan, kecuali hanya suara deras air sungai.


Aluna pun kembali memejamkan mata. Dalam hati dia memanjatkan doa.


Ya Allah, Yang Mahakasih, kasihilah adik-adiku. Perkenankan aku untuk bisa bertemu, menjaga dan membahagiakan keduanya.


"Kalian pasti ditemukan," gumamnya lagi dalam kondisi mata terpejam. Air matanya tumpah. "Jika dalam waktu 1×24 jam kalian tak kunjung diketemukan, aku berjanji untuk menyusuri aliran sungai ini untuk menjemput kalian," Aluna bertekad. Matanya masih terpejam.


"Kamu ini, apa-apaan!" suara yang terdengar seperti membentak mengagetkan Aluna. Refleks kedua matanya terbuka. Sosok lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya menarik tangannya kuat.


Aluna tak menyadari baru saja sebuah kendaraan roda empat terparkir di dekatnya, di samping tempat ia berdiri di tepi jembatan itu.


"Kamu yang apa-apaan?" Aluna melepaskan pegangan lelaki itu. Tapi pegangannya sangat kuat.


Aluna makin takut. Jangan-jangan dirinya akan dijadikan korban pelecehan.


"Pergi kamu. Lepaskan aku," teriak Aluna. Kali ini tangannya berhasil terlepas dari genggaman lelaki itu.


"Jangan gitu, kalau ada masalah hadapilah. Sayangi nyawamu. Hidup itu hanya sekali. Sia-sia kalau kamu mati bunuh diri," lelaki berpenampilan seperti oppa-oppa Korea itu terus nyerocos tanpa memberikan kesempatan pada Aluna untuk berbicara.


Aluna benar-benar tak mengerti apa maksud lelaki itu. Namun, Aluna tidak mau ambil pusing. Bodo amat, kata hati Aluna, yang kupikirkan saat ini adalah keselamatan Deva dan Devi.


"Ayo pergi dari sini," pinta lelaki itu.


"Nggak mau. Aku nggak akan pergi dari sini," tolak Aluna tegas.

__ADS_1


"Ayolah, di sini bahaya. Kamu bisa terbawa arus air."


"Ngapain sih kamu ikut campur urusan hidup. Kamu nggak ada kerjaan ya. Sono pergi. Aku bisa jaga diri."


"Ayolah, ini sudah hampir Magrib. Asal kamu, di waktu-waktu seperti ini, setan-setan berkeliaran. Aku takut kamu terhasut sama mereka untuk menceburkan diri ke sana," jelas lelaki itu sambil menunjuk ke arah derasnya aliran Sungai Ciliwung.


Aluna memutar-mutar pupil matanya dan mengarahkan pandangannya agak ke atas. Dia mulai sebal pada ucapan lelaki yang menurutnya omong kosong.


Aluna pernah mendengar penjelasan seperti itu dari Papinya dan guru ngaji saat ia kecil. Ucapan lelaki itu benar. Nama menurutnya, kalimat itu tidak tepat jika dilayangkan kepada diri.


"Yeaah… siapa juga mau bunuh diri. Jangan sotoy. Kamu.mau jadi pahlawan kesiangan," ucap Aluna sambil tertawa, meremehkan lelaki itu.


Lelaki itu tak berkutik.


"Baguslah kalau gitu. Sekarang lebih baik kamu segera pulang. Itu lebih baik," ucap lelaki itu seraya mengenakan maskernya.


"Okey. Aku akan pulang. Asal kamu tahu, aku pulang bukan karena menuruti permintaanmu. Aku pergi karena di sini sudah tak aman," Aluna merasa puas mengeluarkan unek-uneknya.


"Mungkin kamu bisa jadi lebih berbahaya dari banjir Ciliwung ini," lanjut Aluna sambil melangkah menjauhi lelaki itu.


"Maksud kamu apa?" tanya lelaki itu, sepertinya dia pun merasa tersinggung.


Pertanyaan lelaki itu menghentikan langkah Aluna.


"Aku tak mengenalimu. Kenapa kamu tiba-tiba berada di sini? Jangan-jangan kamu punya modus jahat!"


"Hebat bener ya. Kamu bisa melihat isi hati orang. Kamu dapat kesaktian dari mana?" ucap lelaki itu dengan wajah datar.


Setelah mengucapkan kalimat itu Aluna membalikkan kembali pandangannya dan melanjutkan langkahnya.


Namun langkah Aluna terhenti sejenak karena di hadapannya Papi tengah menuju ke arahnya. Sekalipun Papi mengenakan masker, Aluna yakin dari perawakan dan pakaian yang dikenakan, dia itu ayahnya.


"Lun, kamu dari mana saja? Papa dari tadi cariin kamu" tanya Papa.


"Aku cari-cari si kembar di sekitaran sini," jawab Aluna. "Tapi sayang, malah ketemu sama orang rese," lanjut Aluna sembari memandang ke arah lelaki itu.


Lelaki itu masih jelas bisa mendengar percakapan ayah dan putrinya itu.


"Siapa dia emangnya, Lun?" tanya Papa melihat sekilas ke arah lelaki  itu.


Lelaki itu membuka maskernya, lalu tersenyum. Dia bermaksud agar tidak ingin terjadi kesalahpahaman sebagaimana pandangan Aluna terhadap dirinya.


Papi tersenyum tipis. Dan berikutnya fokus perhatiannya dia arahkan hanya kepada putri tercintanya.


"Nggak tahu, Pi. Nggak penting," balas Aluna. "Ngapain juga ya ngebahas itu. Si kembar lebih penting. Di mana mereka sekarang, Pi?"

__ADS_1


"Justru itu. Lun. Papa nyariin kamu karena ada kabar baik. Alhamdulillah tim rescue sudah menemukan si kembar."


"Alhamdulilah…" betapa bahagianya Aluna mendengar kabar itu.


"Kalau gitu, yuk kita segera balik ke pengungsian. Si kembar masih belum sadar, memerlukan perawatan."


Aluna dan Papi melangkah cepat di trotoar. Lokasi pengungsian yang mereka tinggali sehari yang lalu adalah Lapangan Sempur.


Warga yang terdampak banjir terbilang banyak. Awalnya ditempatkan di gedung sekolah. Selama pandemi gedung sekolah memang jarang dipakai aktivitas belajar karena semua kegiatan bermigrasi jadi online, termasuk belajar.


Namun ternyata gedung sekolah di kawasan Sempur tidak cukup menampung, sehingga sebagian warga korban banjir diungsikan ke Lapangan Sempur.


Perjalanan dari Jembatan ke Lapangan Sempur masih memerlukan waktu. Jika ditempuh dengan berjalan kaki tentu akan jauh lebih lama dibandingkan dengan kendaraan.


Sewaktu kendaraan Lelaki itu lewat, lelaki itu bisa melihat Aluna dan ayahnya.


Lelaki itu menghentikan laju kendaraannya. Dia pun segera membuka kaca mobilnya.


"Pak, mari saya antar," kata lelaki itu.


"Nggak perlu. Kami masih bisa jalan kaki," balas Aluna ketus.


"Siapa yang nawarin kamu. Saya hanya mengajak ayahmu?" balas lelaki itu datar.


Papi memandangi lelaki itu lekat-lekat. Hanya orang bodoh, yang menolak tawaran bantuan ketika memerlukan, sementara bantuan yang dibutuhkannya itu sudah di depan mata, pikirnya.


"Luna, Papi yakin dia itu orang baik yang dikirim Allah untuk kita," bisik Papi ke telinga putrinya.


"Terima kasih banyak atas tawaranmu. Kamu datang di waktu yang tepat, Nak," ucap Papi sambil tersenyum.


"Ayo, Nak," ucap Papi sambil menarik lengan Aluna.


Langkah Aluna tertahan. Dia mematung. Lagipula benar yang ditawari kan cuma Papi, pikirnya.


"Papi, tunggu dulu. Papi yakin?" tanya Aluna sembari menahan lengan Papi.


Papi mengangguk. Dengan cepat dia memasuki kendaraan yang sedari tadi pintunya sudah terbuka.


Setelah duduk rapi di depan, Papi memandangi Aluna yang masih mematung sembari matanya bolak-balik memandangi ayah dan lelaki itu.


"Lun, ayolah… kamu segera duduk di belakang!" pinta Papi.


Papi, kamu kok nggak ngerti sih… aduh gimana ini ya, Aluna masih galau.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2