
Bab 4
Asa dan Senja
“Nanti kita tanyakan ke suster,” balas Aluna dengan pelan.
“Lun, kenapa ya, ada orang berhati malaikat merahasiakan kebaikannya?”
“Mungkin dia ingin mengamalkan ajaran agama kali, Pi,” Aluna menjawab sekenanya. Dia pernah mendengar kalau berbuat baik itu lebih mulia tidak diketahui. Katanya kalau diketahui orang, potensi pamernya lebih besar.
Dan sepengetahuan Aluna, pamer, riya atau apalah namanya bisa mengurangi pahala kebaikan. Apa mungkin itu alasan orang baik yang mendonorkan darahnya, pikir Aluna.
“Bisa jadi, Lun. Mudah-mudahan kita bisa mengucapkan terima kasih kepadanya secara langsung,” bisik ayahnya.
Aluna berharap obrolan dirinya dengan ayahnya tidak didengar suster itu. Kalau terdengar ribut khawatir mengganggu pekerjaan suster itu.
Aluna dan Papi dengan sabar menunggu sambil memperhatikan suster itu bekerja dengan telaten untuk kesembuhan Deva dan Devi.
Tak lama setelah suster berkerudung itu selesai menjalankan tugasnya, Aluna dan Papi mendekati suster itu.
“Terima kasih banyak atas bantuannya ya, Suster,” ucap Aluna dengan tulus. Inilah senyum yang pertama kali ia sunggingkan setelah dalam beberapa hari ini ia murung dalam suasana bencana banjir.
“Sama-sama. Ini sudah jadi kewajiban saya, Mbak...”
“Aluna...” ucap gadis itu seakan tahu apa yang dimaksud suster itu.
“Iya, Mbak Aluna…. Semoga Deva dan Devi lekas sadar ya dan kembali pulih seperti sedia kala...”
Papi dan Aluna mengaminkan doa suster itu.
“Oia, suster. Anu… kami merasa sangat berhutang budi kepada pendonor berhati malaikat itu. Bolehkah kami mengetahui siapa orangnya?”
Suster itu terdiam sebentar.
“Saya kira, Bapak sudah mengetahuinya… orangnya tadi ada di sini...”
“Di mana, Suster?” Papi makin penasaran.
“Laki-laki yang tadi bersama Mbak dan Bapak. Saya kira Anda sudah saling kenal...”
Papi masih bingung. Tadi dia benar-benar lupa, menanyakan nama orang yang sudah menolongnya itu.
Dia melirik Aluna. “Lun, tadi Papi hanya mengucapkan terima kasih dan lupa menanyakan nama. Tadi dia meminta nomor Papi, sayang saking paniknya Papi lupa minta nomor dia... ” ucap Papi pelan dan penuh penyesalan.
“Suster, siapa pendonor itu?” Aluna bertanya pelan. Ragu sekaligus malu.
“Bapak Arka Pratama Putra.”
“Apakah dia masih ada di sini, Suster?” tanya Papi.
“Sudah pamitan. Setelah dia mendonorkan darahnya tadi dia langsung pamit. Dan saya pun langsung ke sini,” kata suster itu.
“Oh iya, mungkin Bapak Arka tadi terburu-buru. Kami tadi memberikan susu dan suplemen, tapi ternyata ketinggalan.”
“Oia… wah sayang sekali. Padahal dia memerlukan pemulihan,” kata Papi.
__ADS_1
“Betul sekali Pak.. ”
“Oia, suster.. Itu dua kantong semuanya dari donor Pak Arka?” tanya Aluna.
“Tidak.. Alhamdulillah tadi satu kantong ternyata dikabarin ada dari bank darah. Dan itu pas banget satu-satunya...” jelas suster itu.
“Baik, Pak, Mbak.. saya pamit dulu,” lanjut suster itu.
Papi dan Aluna menyilakan suster itu dengan ramah.
Namun sepertinya Papi masih merasa ada yang mengganjal.
“Lun, kamu jaga adik-adikmu ya,” pinta Papi.
“Siap, Pi..”
Kemudian Papi segera mengejar suster itu.
“Suster… apakah suster menyimpan nomor Arka?”
“Ada Pak...”
“Alhamdulillah. Boleh minta ya, Sus. saya mau mengontaknya...”
Suster dan Papi tiba di sebuah ruangan di posko yang sama.
“Oia, Bapak berniat untuk menemui Pak Arka?”
“Tentu, Suster. Saya mau coba cari mungkin dia masih tak jauh dari sekitaran sini...”
“Baik, Suster,” balas Papi.
Suster menyerahkan plastik putih itu kepada Papi.
Papi secepatnya kembali ke ruangan tempat Deva dan Devi dirawat.
“Lun, kamu tetap jagain ya...”
“Papi mau ke mana?” Aluna yang duduk di samping Devi melirik ayahnya.
“Papi mau cari Arka, mungkin dia masih dia masih ada di sekitaran sini… Sekalian mau ngasih suplemen punya dia,” kata Papi seraya menunjukkan plastik suplemen yang dipegangnya.
“Ya, Udah Pi… Tapi jangan lama-lama ya… Kalau bisa jangan lebih dari Magrib...”
“Oke, kalau udah azan Magrib belum ketemu juga, Papi segera pulang.”
Papi pun segera keluar dari posko.
Aluna masih setia menunggui adiknya. Dia kini mengambil posisi di tengah-tengah, supaya bisa bergantian mengamati Deva dan Devi satu per satu.
Selama menjaga adiknya, dia membaca doa yang ia mampu. Dia membaca Al-Fatihah, Al-Falaq, An-Naas, Al-Ikhlas dan surah-surah lainnya yang ia bisa.
“Astagfirullah…” gumam Aluna pelan. Entahlah dia juga masih belum terlalu paham dan awam soal urusan agama.
Apakah aku pantas membaca ayat Al-Quran, sementara rambutku tak kututup? Pikir Aluna.
__ADS_1
Ya Allah, mudah-mudahan aku nggak berdosa, harap Aluna dalam hati.
Namun hatinya kini masih ragu. Dia pun sejenak berlari ke tenda tempat dia tidur dan berisitrahat. Dia mengambil mukena dan sajadah. Lagi pula sebentar lagi akan tiba waktu azan Magrib.
Aluna segera mengambil air wudu. Tak lama setelah itu, dia pun kembali duduk menunggui Deva dan Devi.
Jika sebelumnya dia membaca surah-surah pendek. Kali ini dia menginstall aplikasi Al-Quran di hapenya.
Setelah terinstal, dia pun membaca dengan pelan Surah Yasin. Selama membacanya, hatinya terus menerus memanjatkan doa untuk kesembuhan kedua adiknya.
Terkadang ia juga mengajak ngobrol Deva dan Devi secara bergantian. Dia mengatakan kata-kata positif dan penuh semangat untuk kesembuhan keduanya.
Sementara itu, Papi menyusuri jalan di sekitar Lapangan Sempur. Dia melangkah sembari matanya melihat-lihat ke sekeliling berharap menemukan mobil putih Arka yang telah mengantarkannya ke posko.
Ada beberapa mobil berwarna putih, tapi yang jelas itu bukan mobil Arka.
Dia pun melangkah lebih jauh lagi dengan harapan bisa menemukan mobil Arka.
Setelah kurang lebih setengah jam tak kunjung ketemu. Papi pun duduk sejenak di sebuah bangku di trotoar jalan.
Papi baru teringat. Tadi dia mendapatkan nomor hape Arka dari suster itu. Dia pun segera memanggil nomor itu.
Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif. Hanya ada jawaban seperti itu setelah dicoba dihubungi beberapa kali.
Akhirnya, Papi mengetik sebuah pesan kepada Arka ke WA.
Assalamualaikum…
Terima kasih untuk semuanya. Saya tak membayangkan bagaimana nasib anak kami jika tanpa pertolongan dari orang baik sepertimu.
Salam hangat
Papi Aluna dan si kembar Deva dan Devi
Papi menekan simbol pesawat kertas di aplikasi WhatsApp.
Dia berharap pesan itu dibaca dan segera dibalas. Namun kenyataannya pesannya itu baru centang satu.
Papi memandangi plastik yang berisi suplemen dan susu kotak.
“Aku harus segera ketemu Arka. Ini titipan, dan harus segera tersampaikan,” gumam Papi.
Allahu Akbar … Allahu Akbar!
Azan Magrib berkumandang. Terdengar sahut menyahut dari satu masjid ke masjid lainnya.
Papi teringat janjinya kepada Aluna. Sangat disayangkan tidak bisa langsung ketemu dengan Arka. Namun dia berharap esok atau lusa bisa segera bertemu dengan orang baik yang telah banyak membantunya itu.
Papi masih duduk di bangku sejenak sembari menjawab azan hingga tuntas. Setelah itu, barulah dia bangkit dan mengayunkan langkah untuk kembali ke posko pengungsian.
Ya Allah, berikanlah kesempatan aku untuk bisa mengucapkan terima kasih kepada pemuda berhati mulia itu.
Doa tulus itu terpanjat dari hati terdalam Papi.
Bersambung
__ADS_1