Temani Sampai Surga

Temani Sampai Surga
Bab 3 | Secret Angel


__ADS_3

Bab 3


Secret Angel


Honda Accord putih terparkir di samping Lapangan Sempur.


Aluna, Papi, dan lelaki itu berjalan menuju tempat di mana si kembar Deva dan Devi dirawat.


“Kapan si kembar ditemukan, Pi?” tanya Aluna sembari mengikuti langkah ayahnya.


“Sekitar jam 4 sorean, Lun,” balas Ayah sembari terus memacu langkahnya.


“Aku sempat baca di sebuah portal tentang kembar yang masih dalam pencarian tadi pagi. Apa mungkin berita anak Bapak… ” lelaki itu mencoba terlibat dalam obrolan.


 “Oooh ya…” Papi melirik ke lelaki yang kini berada di samping kanannya.


“Kemungkinan benar, namanya Deva dan Devi kan?”


Papi mengangguk.


“Syukurlah, akhirnya sudah ditemukan,” lelaki itu tersenyum.


“Di mana mereka diketemukan, Pi?” Aluna yang kini sudah di samping kiri masih penasaran.


“Tim rescue bilang mereka diketemukan di jembatan gantung Sungai Ciliwung. Tubuh mereka tersangkut di jembatan.”


Aluna membayangkan jembatan gantung itu. Jembatan gantung itu memang tinggi. Tapi kalau volume air sungai sedang banjir, air sungai mampu melampaui tingginya jembatan tersebut.


Mereka bertiga tiba di ruang perawatan. Sebuah posko sementara yang dibuat untuk para pengungsi korban banjir.


Papi segera masuk, diikuti Aluna dan lelaki itu. Selain Deva dan Devi ruangan itu juga ada pasien lain bersama keluarganya. Di ruangan itu, semua tetap memperhatikan prokes. Mereka mengenakan masker.


Sementara itu Deva dan Devi terbaring dan belum ada tanda-tanda siuman. Selang infus menyertai keduanya.


“Nak,bangunlah. Kalian pasti kuat.”


Papi mengusap kepala dan wajah Deva dan Devi secara bergantian.


Aluna pun tak kuasa menahan sedihnya. Tangisnya tak terbendung. Satu sisi, dia merasa senang, adiknya kini sudah ditemukan. Namun di sisi lain, dia merasakan sedih yang sangat karena kondisinya adiknya yang saat ini belum sadar.


Aluna menatap serta menciumi adiknya satu per satu.


“Kalian pasti kuat. Kalian pasti dengar kan kata-kata kakak?” bisik Aluna di telinga Devi. “Bangunlah, kita akan terus bersama. Kita akan sama-sama terus berjuang melanjutkan hidup,” Aluna menangis tergugu.


Sedangkan lelaki yang mengantar Papi dan Aluna masih berdiri menyaksikan kepiluan itu.


Seorang suster berkerudung dan juga mengenakan  masker menghampiri Papi.


“Permisi, Pak. Benar Bapak orang tua Deva dan Devi?”

__ADS_1


“Ya, betul… Ada apa suster?”


“Begini, Pak… langsung saja, karena ini darurat. Deva dan Devi memerlukan darah. Dan saat ini golongan darah yang diperlukan oleh mereka sedang kosong.”


“Oh begitu ya, Sus...” Papi sedikit panik. “Waduh bagaimana ya, golongan darah saya dan putri saya berbeda dengan si kembar. Kami golongan darah A...”


“Mungkin mamanya?” tanya suster itu.


Mendengar nama itu disebut, Papi kehabisan kata. Aluna yang memahami reaksi ayahnya segera berpikir. “Mami kami tidak ada, Sus..” hanya itu yang terucap. Dia berharap ucapan itu bisa dipahami oleh suster.


“Oh, maaf kalau begitu, saya turut berduka...” ucap suster.


Mendengar jawaban itu, Aluna sedikit lega. Tapi dalam hati, Aluna sangat geram. Andai saja ibunya saat ini berada di sisinya, tentu kebutuhan darah si kembar bisa terpenuhi.


Mamiii... kenapa kamu setega itu pada kami… si kembar Deva dan Devi saat ini lagi kritis. Tidakkah kamu sebagai ibu dapat merasakannya? jerit Aluna dalam hati.


Aluna menggenggam tangan Devi. “Aku dan Papi akan melakukan apa pun yang terbaik untuk kalian. Bertahanlah...”


Ya Allah, tolonglah kami. Ya Allah, kumohon sembuhkanlah si kembar, hati Aluna tak berhenti berharap, memanjat doa dari hatinya yang paling dalam.


“Kalau begitu, kita akan sama-sama mencari donornya ya, Pak… ” kata suster sambil berlalu.


“Baik, Suster,” ucap Papi.


“Oia, Pak… kalau begitu saya pamit ya,” ucap lelaki itu. “Mudah-mudahan si kembar segera baikan, dan darah yang dibutuhkannya bisa segera didapatkan.”


“Insya Allah, Pak...”


Tidak lupa Papi meminta nomor kontak lelaki itu sebelum dia pergi.


“Lun, kamu anterin dia sampai depan,” kata Papi.


“Iiidih nggak mau, apaan sih Pi…”ucap Aluna. Dia terdiam.


“Lagian aku sama dia nonmahram,” tiba-tiba terbersit di pikirannya alasan dan pembenaran.


“Kok aneh, kamu tiba-tiba bahas-bahas soal hukum dalam agama, padahal biasanya kamu nggak pernah kayak gitu,” papinya heran.


“Sudah.. Sudah Pak, apa yang diucapkan sama dia emang benar kok, nggak ada yang salah hehe,” ucap lelaki itu.


Lelaki itu kemudian diikuti Papa dari belakang.


“Sudah… sudah, Pak… nggak usah. Bapak jagain aja si kembar,” ucap lelaki itu. Baguslah kalau dia tahu soal hukum nonmahram. Semoga dia berlaku seperti itu ke semua cowok, pikir lelaki itu.


Papi akhirnya menurut lelaki itu. “Ya, sudah kalau gitu. Bapak cuma bisa nganter kamu sampai sini ya… hati-hati di jalan...”


“Baik, Pak… sama-sama. Mari pamit… Assalamualaikum...”


Papi pun membalas salam lelaki itu dan segera kembali menjaga di kembar Deva dan Devi.

__ADS_1


“Pi, gimana ini, kita nyari donor ke mana?” tanya Aluna.


Papi berusaha kerasa memutar otaknya. Gimana caranya ya? Ya Allah, mohon gerakkanlah hati siapa pun orangnya agar bisa membantu menyelamatkanya nyawa Deva dan Devi…. Doa Papi dalam hati.


Tiba-tiba dia terpikir sebuah ide.


“Lun, gimana kalau kita coba umumkan di grup WA yang kita punya… dan juga japri ke setiap kontakan yang kita punya...” jelas Papi.


“Ide bagus… yuk segera....”


Aluna dan Papi segera membuka WA-nya. Kedua segera membagikan ke setiap grup dan juga kenalan mereka.


Beberapa jam berlalu. Rupanya usaha Papi dan Aluna belum membuahkan hasil.


“Gimana, Pi?” tanya Aluna.


“Kenalan Papi, nggak ada yang respon. Mereka cuma ngirim doa. Kamu?”


“Sama kalo gitu. Pi..”


“Kita nggak bisa diem, Lun. Si kembar harus dapet segera,” kata Papi.


“Iya, Papi.. apa lagi ya yang bisa kita lakuin?” Aluna menggaruk-garuk kepalanya dan mencoba menata rasa paniknya.


Papinya pun tak merespon. Kelihatannya dia pun sedang memikirkan cara-cara yang lain bisa dilakukan.


“Pi, coba kita menghadap suster tadi yuk… kali aja ada update...” ajak Aluna.


“Ya udah, kamu coba, gih. Nggak ada salahnya juga,” kata Papi. “Kamu temuin suster tadi, Papi di sini jagain si kembar sambil mikirin usaha lain yang bisa kita lakukan.”


“Okey, Pi… ” ucap Aluna. Dia bangkit.


Baru beberapa langkah Aluna mulai, suster berkerudung itu muncul dengan wajah semringah.


“Baru saja saya mau temui Suster,” kata Aluna.


“Oia, ada kabar baik. Alhamdulillah, kami sudah mendapatkan darah untuk Deva dan Devi,” kata suster itu sambil menunjukkan dua kantong darah yang dibawanya.


“Alhamdulillah...” Papi dan Aluna mengucapkan kalimat itu berbarengan.


Suster pun segera bekerja memasangkan selang infus darah kepada Deva dan Devi secara bergantian.


Sementara Papi dan Aluna merasa sangat bahagia. Kebutuhan darah si kembar Deva dan Devi yang berjam-jam yang lalu sempat membuat mereka harap-harap cemas sekaligus panik kini sudah terpenuhi.


“Pi, kita harus benar-benar berterima kasih kepada orang yang membantu menyelamatkan nyawa si kembar?”


“Pasti… pasti...” kata Papi. “Siapa ya orangnya, padahal tadi kata suster, stok di bank darah sedang kosong?” bisik Papi ke arah Aluna.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2