Tentang Raga

Tentang Raga
Advice


__ADS_3


30 menit pun berlalu, Raga yang muncul dari dalam kelas langsung menuju ke arah Naya yang masih bermain dengan bola basket.


"Naya!" Panggil Raga dan berlari masuk ke lapangan.


Naya menoleh dan menghentikan aktivitasnya, saking asiknya dia bermain sampai lupa waktu dan tidak sadar kalau Raga sudah selesai.


"Lama ya?" Tanya Raga.


"Lama banget," jawab Naya dingin. Padahal dia tidak merasa begitu. Hanya di depan Raga saja dia bilang seperti itu, padahal dalam hati Naya sedang senang karena bisa bermain basket lagi.


"Maaf ya, yaudah pulang sekarang?"


"Katanya mau cari kunci loker dulu?"


"Hahaha kuncinya ada di saku gua kok. Sengaja aja biar pulang bareng," kata Raga tanpa rasa bersalah.


"Ihh nyebelin banget sih lo, Kak. Astagfirullah sabar ya gue." Naya pun meletakan bola basket di bawah. Lalu dia mengambil tas nya di pinggir lapangan.


Raga yang tertawa hanya mengikuti Naya. Tidak apa-apa Naya marah, lagi pula dia khawatir jika Naya sendirian menggunakan angkutan umum atau ojek online. Lebih baik Naya aman bersamanya dan juga memperlancar pdkt nya bersama Naya.


"Tunggu bentar," Naya mengeluarkan pouch dari tas nya.


"Kenapa? Ada yang ketinggalan?"


"Badan gue lengket, gak enak." Naya mengambil tissue basahnya untuk mengelap wajah, tangan dan juga lehernya. Tak lupa juga dikeringkan dengan tissue kering.


Tanpa memoles make up lagi, Naya memakai liptint agar tidak terlihat pucat, setelah itu memakai jaket jeansnya dan menyemprotkan parfum agar tidak bau keringat.


"Emang ya, dimana-mana cewek itu ribet," ceplos Raga.


Naya menatap Raga, memang pria yang dihadapannya ini hobi mengkritik apapun yang dia lihat, sangat menyebalkan. "Bukan ribet, tapi gak enak. Emang lo mau, Kak boncengin gue terus gue nya bau dan nempel di baju lo juga? Kan engga."


"Oh jadi lo mau terlihat cantik dan wangi terus di hadapan gua?" Godanya.


Naya menyergitkan dahinya, kenapa bisa di dunia ini ada manusia super percaya diri seperti Raga? "Gak gitu, udahlah cape ngomongnya."


"Mau dalam kondisi apapun lo tetep cantik kok di depan gua," ucap Raga.


Naya sebenarnya sedikit salah tingkah tapi dia harus tetap menjaga image-nya dan memasukkan kembali pouch miliknya. Bisa-bisanya Raga memujinya tanpa aba-aba.


Raga hanya tertawa melihat Naya, sepertinya menggoda Naya telah menjadi hobi barunya. Meskipun Naya terlihat galak dan berbeda dari wanita biasanya.

__ADS_1


"Ayok pulang, jangan liatin gue kaya gitu," ajak Naya.


"Ayokk."


Tiba-tiba Juna datang menghampiri mereka. Juna menatap Naya lalu tersenyum. "Nay, mau pulang bareng?"


"Dia sama gua, gak liat?" Timpal Raga sambil menyilakan tangan di dadanya.


"Orang gua tanya Naya, bukan lo," ketus Juna.


"Maaf, Kak. Gu,-gue udah bareng sama Kak Raga, jadi kayanya gak bisa bareng." Naya lebih memilih dengan Raga saja. Dia sudah tau kalau Juna tukang modus. Tentu dia akan lebih aman jika bersama Raga.


"Ohh, gitu. Yaudah lain kali pulang bareng gua, ya?" Tawar Juna.


Naya tersenyum. "Gimana situasi ya, Kak. Yuk, Kak pulang."


Naya mengajak Raga untuk segera pergi, dia tidak mau berlama-lama dengan Juna, sejak awal Juna sudah membuatnya risih. Raga mengiyakan ajakan Naya dan tersenyum menang. Sedangkan Juna terlihat kesal melihat tampang Raga yang songong menurutnya. Selalu saja dia kalah dari Raga.


Mereka berdua melangkahkan kaki dan beranjak untuk pulang, tak lupa mampir dulu ke loker milik Raga dan mengambil si pink kesayangan Naya. Setelah itu mereka langsung menuju parkiran dan pulang.


Beberapa menit berlalu, di perjalanan tidak ada percakapan di antara mereka. Sampai akhirnya Raga menghentikan motornya di sebuah toko boba.


"Kok berhenti?" Tanya Naya keheranan.


Naya turun dari motor Raga, kalau dipikir Naya juga sepertinya ingin minum boba, jadi dia mengiyakan ajakan Raga.


Mereka duduk di meja yang dekat dengan ruangan outdoor, di luar sedikit hujan jadi lebih baik mereka di dalam saja. Raga memperhatikan Naya yang sedang membuka ponselnya.


"Gua baru tau kalau cewek kaya lo suka main basket," ucap Raga memulai pembicaraan.


"Waktu SMP gue ikut ekskul basket."


"Loh keren, jadi kenapa sekarang gak ikut ekskul basket lagi?"


"Udah gak se-menggebu-gebu gitu ikutnya. Ya tapi masih suka. Semenjak dilarang, gue mutusin buat gak akan main basket lagi."


"Dilarang sama siapa? Orang tua atau sama mantan?" Tanya Raga yang penasaran.


Pembicaraan mereka terpotong karena pesanan sudah datang. "2 brown sugar milk boba dan 2 waffle. Apa ada yang ingin dipesan lagi, Kak?"


"Emm 1 pure choco boba yang large sama croissant tapi dibungkus ya, Mba," ucap Naya lembut.


"Baik ditunggu ya, Kak." Pelayan itu pun tersenyum dan kembali untuk membawa pesanan Naya.

__ADS_1


"Buat siapa?"


"Adek gue, Kak. Soalnya mama sama papa lagi ada urusan jadi gue harus jaga dia dan mastiin makan dia juga," jawab Naya sambil menusuk bobanya dengan sedotan.


"Ohh kalau gua gak punya adek, tapi punyanya kakak."


"Cewek?"


"Iya tapi dia lagi kuliah di London. Jadi gak di Indonesia."


"Ohh gitu." Naya meminum bobanya sambil melirik Raga yang juga meminum miliknya.


"Jadi, lo berhenti main basket karena?"


"Karena dilarang ayah gue, beliau maunya gue fokus buat belajar dan gak ikut kegiatan-kegiatan gak penting."


"Bokap lo otoriter ya?"


Naya mengangguk, memang seperti itu cara didik ayahnya. Sebenarnya Naya paham setiap orang tua punya cara berbeda untuk mendidik anak-anaknya, Naya juga cukup kagum dengan prestasi yang dimiliki kedua orang tuanya, tapi terkadang Naya merasa di-push untuk selalu menjadi yang terbaik dan itu melelahkan.


"Iya tapi, gue paham kok maksudnya. Yang penting gue menikmati semua yang gue lakuin udah cukup."


Raga tidak berani bertanya lebih, tapi dia paham kalau Naya begitu tertekan dengan hal-hal yang dilarang oleh orang tuanya. Terbukti tadi Naya sangat bahagia saat bisa bermain basket lagi. Meskipun dia berkata sudah kehilangan minatnya.


"Tapi menurut gua, lo harus belajar buat bener-bener nikmatin hidup lo. Karena masa-masa keemasan dalam diri kita cuma terjadi satu kali seumur hidup dan terjadi diumur yang segini. Gak harus menentang, tapi lakuin apa yang jadi minat lo dan buktiin kalau itu gak salah," ucap Raga sambil tersenyum.


Naya terdiam, mungkin Raga ada benarnya. Lagi pula dia bukan anak kecil lagi yang harus hidup dalam kendali kedua orang tuanya. Dia harus bisa memulai untuk mempunyai jalan sendiri dan membuktikan jalan yang dia ambil itu benar.


"Makasih ya, Kak," ucap Naya.


"Makasih buat apa?"


"Ya makasih advice nya, itu berguna buat gue."


"Sama-sama, lain kali kalau lo punya beban coba buat diceritain. Jangan ditelen sendiri. Kadang kita butuh someone to talk, buat berbagi apapun yang gak bisa kita bagi ke orang lain. Biar hidupnya juga jadi gak berat-berat banget."


"Tapi dunia bakalan baik-baik aja kalau kita mendem semuanya sendiri. Karena gak semua orang bisa dipercaya, bahkan kita aja suka bohongin diri sendiri."


"Iya itu bener, tapi ketika lo udah punya satu rumah yang lo anggap nyaman, lo bakalan tau kalau berbagi masalah itu bisa meringankan hidup kita dan jauh bikin kita bahagia dari sebelumnya."


"Humm, entahh. Gue belum pernah ngerasain itu." Naya meminum bobanya. Dia baru sadar kalau selama ini belum mempunyai rumah seperti apa yang Raga katakan.


Dia memiliki banyak teman, namun tidak bisa membagi ceritanya kepada mereka. Sangat tabu bagi Naya untuk menceritakannya.

__ADS_1


__ADS_2