
Setelah selesai makan Hana bergegas mandi dan beristirahat sesuai yang Naya perintahkan. Sementara Naya mencuci piring bekas mereka makan, bundanya memang sengaja tidak menyewa pembantu agar bisa mengurus keluarga di rumah dan melatih agar Naya dan Hana bisa mandiri.
Raga berdiri di samping Naya, memperhatikan bagaimana Naya mencuci piring. Dalam keadaan apapun Naya terlihat cantik. Raga tau meskipun banyak mengomel, Naya melakukan semua hal itu atas dasar kepeduliannya yang terlaku tinggi. Namun Naya memang tidak bisa mengutarakannya.
"Lo sama Hana kontras banget ya?" kata Raga yang melihat ke sekeliling ruangan, memperhatikan photo keluarga yang dipajang di setiap dinding. Terlihat harmonis, tapi entah kenapa Raga merasakan Naya tidak menganggapnya begitu.
"Kontras gimana?" Tanya Naya tanpa beralih dari pekerjaannya.
"Hana itu bawel, ceria, dia bisa mudah akrab sama orang. Dia bisa mengutarakan apa yang dia rasain, bahkan mudah buat cerita sama orang."
"Semua orang kan punya karakter masing-gue gak harus sama kaya Hana, kan?" Kata Naya simpel.
"Emang gak harus kaya Naya, tapi aneh aja. Biasanya satu keluarga itu pasti ada sebuah kesamaan dan gua gak liat itu di kalian," ucap Raga.
"Ya bunda juga gitu. Mungkin gue lebih mirip Ayah, mungkin. Bunda selaku bisa bicara apa yang dia rasain dan gak bisa bohong soal perasaan. Itu kenapa Hana kaya gitu." Naya tidak menutupi apapun, yang dilihat Raga memang akan terlihat seperti pada kenyataannya.
"Lalu lo? Kenapa menutup diri?" Raga menatap Naya, mencoba mencari tau apa yang terjadi pada gadis penuh rahasia ini.
"Genetika itu bisa berubah karena berbagai faktor, gak perlu gue jelasin lo juga tau maksudnya gimana. Faktor sosial, lingkungan, pola asuh, pola berpikir. Gue gak perlu sama kaya Hana biar diakui di keluarga ini."
"Gak gitu maksudnya, gua cuma mau lo gak menjauhkan diri lo dari keluarga lo. Mungkin mereka gak mendekat ke lo juga karena lo menutup akses dari mereka," ucap Raga.
Naya menghela napasnya, ya memang mungkin seperti itu. Tapi ada beberapa alasan juga yang membuatnya memilih untuk banyak diam. Apalagi dia banyak menyimpan rahasia sendirian. Bahkan rahasia keluarganya sendiri yang selalu ditutup-tutupi dari Hana.
__ADS_1
"Lo yang sekarang banyak kepura-puraan. Beda sama lo waktu kecil yang polos, ceria dan gak bisa dengan lepas tertawa. Mau orang tua lo ada atau engga tapi lo enjoy sama hidup."
Naya berpikir sejenak, jika Raga berpikir kalau Naya kecil adalah Naya si ceria, itu memang benar. Dulu, dia tidak tau arti prioritas. Dia hanya tau orang tuanya bekerja dan sepulang mereka kerja Naya akan mendapatkan oleh-oleh. Naya tidak tau arti kesepian karena kakek selalu bersamanya.
Baginya dulu, orang tuanya adalah orang terhebat karena bisa memberikannya banyak coklat dan permen. Iya, dulu. Sekarang Naya dewasa sudah tau kalau selama ini dia bukan prioritas dan selalu diselimuti oleh rasa kesepian.
Naya menatap ke arah Raga. Sorot matanya tak bisa diartikan namun dalam. "As you grow up, you started to see your parents as who they really are, cause when you were kids they're superhero."
Raga tertegun, ucapan Naya seperti ungkapan isi hatinya. Isi hati yang tak pernah dia utarakan kepada siapapun. "Maksud lo Hana belum ada di tahap itu?"
Naya mengangguk, setelah itu mengeringkan tangannya. "Gak penting juga. Semakin banyak yang lo tau tentang gue, semakin dalam lo masuk ke kehidupan gue, lo bakalan tau kalau gak ada yang bisa lo harapkan dari gue."
Raga terkekeh. "Nay emang menurut lo gua berekspektasi apa tentang lo?"
"Ya gak tau, tapi kalau lo mencintai seseorang udah pasti punya ekspetasi sendiri, kan? Misal lo berharap dia gini gitu. Sadar atau engga diri kita punya standar dan pasti mau yang terbaik apapun itu."
"Lo harus belajar sama gua soal makna cinta, lo terlalu banyak takutnya sampai lo gak berani buat melangkah. Padahal belum tentu seburuk itu. Itu kenapa gua gak terburu-buru soal perasaan. Nikmati setiap rasa yang dateng, lo pasti bakalan tau apa maknanya."
Mereka pun saling menatap, lalu Naya memutuskan kontak mata itu. Terlalu aneh baginya dalam posisi seperti ini. Semua tentang Raga dan yang ada pada dirinya memang ajaib.
Pria itu selalu mempunyai pemikiran berbeda dan jawaban yang tak pernah Naya pikirkan.
"Anter gua ke depan yuk, gua mau balik," ucap Raga.
Naya pun mengangguk dan mengantarnya ke depan rumah, tidak ada percakapan dari mereka. Naya benar-benar dibuat kepikiran dengan ucapan Raga. Kata-kata yang tak pernah dia dengar dari seseorang.
__ADS_1
Bahkan dia lebih tidak mengerti kenapa bisa sejauh ini, maksudnya Raga saja bisa mengetahui tentang apa yang terjadi pada keluarganya. Bahkan dia tidak biasanya bisa berbicara hal seperti itu pada orang lain.
Apa ini yang Raga sebut someone to talk? Seseorang yang dianggap rumah untuk berbagi apapun?
Naya menggelengkan kepalanya, tidak. Dia tidak bisa lebih jauh setelah ini. Bagaimana pun Raga adalah pria dan semua pria tidak ada yang bisa dipercaya ucapannya. Terlebih lagi dia tidak ingin menggantungkan hidup pada siapapun. Tidak akan pernah.
"Gua balik dulu ya, makasih makan sorenya. Jadi gua gak perlu makan lagi sampai ke rumah," ucap Raga sembari memasang helmnya.
Naya mengangguk dan tersenyum tipis. "Sama-sama."
"Lo jangan lupa makan yang bener, tadi belum makan," peringat Raga dan menaiki motornya.
"Iyaa." Pria itu banyak bicara, jadi Naya hanya mengiyakan. Bundanya saja jarang mengingatkan dirinya untuk satu hal, tapi Raga ini dari hak terkecil pun dia ingatkan.
"Oh iya besok jangan jemput gue, gue bisa sendiri," lanjut Naya.
"Kenapa? Enak dianter jemput," tanya Raga dengan senyum.
"Gak, gue gak mau jadi bahan gosip. Belum juga seminggu di sekolah udah kena gosip aja."
"Udah gua bi-"
"Iya harus bodo amat tapi gue gak mau."
"Gimana besok. Yaudah gua balik yaa, hati-hati di rumah." Setelah mendapat anggukan dari Naya, Raga pun melajukan motornya dan menuju pulang. Naya menatap punggung Raga yang semakin menjauh, jauh seperti pikirannya yang sudah kemana-mana.
__ADS_1
"Kayanya dia udah terlalu jauh tau tentang hidup gue. Kenapa rasanya aneh banget sih? Nay, lo terlaku oversharing tau gak?!" Naya merutuki dirinya sendiri.