
Raga menghentikan motornya di depan rumah Naya. Raga tersenyum, hari ini dia bahagia bisa seharian bersama Naya. Dia selalu merasa hidupnya datar-datar saja, tapi saat dia bersama Naya rasanya bagaikan nano-nano yang yang bisa dijelaskan satu persatu rasanya.
"Makasih ya, Kak udah anterin gue. Mau masuk dulu?" tawar Naya, sebenarnya Naya tidak benar-benar berniat menawarinya. Tapi Raga selalu meminta untuk ditawari masuk, jadi agar tidak repot Naya bertanya duluan.
"Sama-sama gu-"
"Kakkkkk," panggil Hana yang tiba-tiba keluar membuka pintu.
"Apa?" Tanya Naya cuek.
Raga mengulum tawanya, ternyata dia sama seperti Amerta kakaknya, tipikal kakak cuek namun perhatian. Buktinya dia sengaja membawakan sesuatu untuk adiknya meskipun meresponnya dengan tidak bersahabat.
"Lama ih, bunda nitipin gue ke lo eh lo malah lama pulangnya. Gue laperrr, lo mau liat adek lo ini kurus karena gak makan?" Omel Hana.
"Apasih alay banget, nih makan ini dulu nanti dibikinin makan," ucap Naya memberikan boba dan croissant yang tadi dia beli.
"Makasih Kakak cantik, tapi adekmu ini orang Indonesia yang gak afdol kalau makan gak pake nasi. Ayokk masakinn!" Hana menarik tangan Naya.
"Ishh bentar, gak liat ada temen? Jangan rewel dulu, Hanarisa Dealova Wilaga!"
Hana sudah ciut jika Kakaknya ini memanggil nama lengkapnya, rasanya seperti di film horor. Namun sekejap Hana melihat ke arah Raga, menatapnya penuh curiga sambil sesekali melihat ke arah Naya. "Ini pacar Kakak ya?"
"Bukan, temen," sanggah Naya.
"Haha, iya bukan kok. Tapi calon," ucap Raga yang tiba-tiba menyaut.
"Ohhh, pantesan lama. Orang pacaran dulu, Hana bilangin bunda nih?!" Ancam Hana.
"Apasih bocil. Jangan didengerin dia suka ngaco. Yaudah ayok gue bikinin lo makan ah biar gak rewel."
"Ayok! Ehh Kakak, ikut juga ayok," ajak Hana pada Raga. Raga berpikir kalau Hana mungkin akan membantunya memperlancar pdkt bersama Naya. Seseorang pernah bilang, dekati dulu orang terdekatnya pasti semuanya akan menjadi mudah.
"Wahh Hana peka banget, kebetulan Kak Raga laper. Ayok kita nyusahin Kak Naya!" Ajak Raga sembari turun dari motornya.
"Astagfirullah cobaan apa lagi ini??!" batin Naya.
Raga dan Hana masuk ke dalam, sementara Naya mengikuti mereka ke dalam. Dia heran kenapa Hana bisa semanis itu pada Raga. Padahal dengan dirinya saja tidak pernah akur.
__ADS_1
Naya naik ke atas untuk mengganti bajunya, sementara Raga dan Hana tengah asik dengan kegiatan mereka melihat photo-photo pada album keluarganya.
"Ini siapa? Naya?" Tanya Raga menunjuk salah satu photo anak kecil yang tertawa lepas sambil bermain dengan lelaki paruh baya.
"Iya itu Kak Naya. Kata bunda dulu kakak deket banget sama kakek, karena Kakak cucu pertama. Dulu juga kakek selalu bawa kak Naya kemana aja, soalnya ayah sama bunda dulu kerja."
"Ohhh gituu, terus kakeknya sekarang tinggal di mana?"
"Udah meninggal waktu Kakak masih kelas 5 SD waktu itu Hana masih kecil jadi gak tau dan kakak sedih banget. Jadi mulai hari itu bunda gak kerja lagi dan fokus di rumah."
Raga mengangguk paham dia kembali melihat album photo tersebut, Naya kecil terlihat lebih ceria dibanding dengan Naya dewasa. Mungkin Benar kalau semakin kita dewasa, maka akan semakin banyak hal yang perlu dipikirkan. Tidak seperti anak kecil yang hanya mengetahui makan, bermain dan tidur saja.
Cukup lama mereka berbincang, akhirnya Naya turun ke bawah dengan celana pendek dan kaos putih. Setelan rumah yang sangat nyama dipakai Naya saat di rumah. Raga menoleh saat mendengar derap langkah kaki dari atas tangga. Meskipun dengan pakaian yang simpel, Naya terlihat cantik, apalagi degan rambutnya yang panjang bergelombang, membuat dia terlihat manis.
"Bentar ya, gue masak dulu. Kalian jangan recokin," ucap Naya saat sampai di bawah dan berjalan menuju ke dapur. Sementara Raga dan Hana berpindah menunggu di meja makan sambil berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan.
Naya memasang apron miliknya, lalu mengikat rambutnya asal. Naya memang pintar memasak, dia belajar mandiri dengan melihat vidio-vidio di youtube, itulah kenapa bundanya tidak akan khawatir jika meninggalkan Hana bersama kakaknya.
Naya membuka kulkas, memperhatikan apa saja yang bisa dia masak. Akhirnya dia mengambil satu pack udang dan beberapa sayuran. Dia berpikir akan membuat udang asam manis dengan tumis buncis, wortel dan jagung.
"Masak yang ada aja ya, jangan rewel!" Teriak Naya dari dapur.
"Iyaa," sahut Hana.
"Huum, banget. Kak Naya juga galak, apalagi kalau ayah ada di rumah. Kak Naya kayanya puasa ngomong," jawab Hana jujur.
"Puasa ngomong kenapa?"
"Gak tau, Kakak kadang suka jaga jarak sama ayah bunda. Emang kaya gitu sih, kakak terlalu sibuk belajar. Tapi Kakak pinter, pinter banget."
Raga ber-oh ria, dari cerita Naya di hutan, di cafe dan cerita dari Hana, Raga pun mulai sedikit paham dengan kehidupan Naya.
Naya mengupas udang dan menumis nya dengan bawang-bawangan. Setelah itu dia tambahkan bumbu dan saos dan yang lain. Di wajan lain Naya juga menumis sayuran sebagai pelengkap dari masakan ini. Setelah selesai dia menatanya di piring.
Raga semakin kagum dengan Naya, pinter, cantik, bisa beres-beres, jago masak. Sudah sempurna untuk dijadikan pendamping hidup.
"Hana, Kak Naya suka bawa cowok ke rumah?" Tanya Raga lagi.
Hana menggeleng. "Engga, waktu masih pacaran sama mantannya aja gak pernah dibawa ke rumah."
__ADS_1
"Loh kenapa?"
"Gak tau, takut ayah marah kali. Tapi ayah kayanya gak akan marah, cuma Kak Naya banyak takutnya."
Naya mendatangi meja makan dan menaruh masakannya. Tidak lupa dia membawakan mangkuk Nasi, gelas serta es kopi buatannya.
"Makan lah, katanya laper," ucap Naya pada keduanya.
"Nasinya mana? Biasanya bunda ambilin buat gue," kata Hana sembari mengangkat piringnya.
Naya menarik napasnya kasar, kenapa anak ini tidak bisa mandiri saja? Dengan terpaksa Naya mengambilkan nasi dan menaruhnya di piring Hana. "Apalagi?"
"Aduh, Nay. Gua juga kalau di rumah biasanya dialasin sama bibi." Raga menirukan gaya bicara Hana dan membuat Hana sedikit terkekeh.
"Hufft sabar Naya." Naya mengeluarkan senyum terpaksa dan mengambilkannya untuk Raga. Dia merasa sedang menjaga dua balita rewel di hadapannya.
"Makasihh," ucap Raga menyunggingkan senyumnya.
Naya pun duduk dan membiarkan mereka makan, Naya sudah kenyang karena makan wafel dam minum boba jadi dia tidak makan.
"Enak loh, boleh lah masakin gua tiap pagi," kata Raga seraya menyuapkan Nasi ke mulutnya.
"Gak."
"Tuh kan udah Kak Raga bilang kalau kakakmu galak," ucap Raga setengah berbisik pada Hana.
Raga dan Hana tertawa, sementara Naya hanya berdecak kesal. Benar saja niat mereka ingin merepotkan Naya itu berhasil. Dan lagi kenapa Hana bisa mudah akrab dengan Raga, biasanya dia ogah-ogahan kalau teman SMP Naya bermain ke rumah.
"Bunda sama ayah kapan balik?" tanya Naya sambil mengupas apel.
"Bunda minggu paling lama pulang, soalnya bunda juga mau ke beberapa tempat dulu, jadi katanya bisa lebih dari 3 hari. Kalau ayah tadi bilang lagi di luar kota dari kemarin soalnya sibuk banget."
Naya menahan tawanya, kebohongan apa lagi yang dibuat ayahnya di depan Hana. "He's lie."
Samar-samar namun dapat terdengar oleh Raga yang berasa di sampingnya.
"Apa, Kak?" Tanya Hana yang tidak mendengar apa yang Naya ucapkan.
"Gapapa, cepet makannya. Abis itu makan buah terus mandi." Naya mengulurkan piring apel yang sudah dia kupas tadi.
__ADS_1
Naya tidak tau apa jadinya jika Hana mengetahui kalau ayahnya tidak seperti apa yang dia bayangkan. Hanya Naya yang tau rasanya hidup di rumah yang sudah rusak, tapi berusaha agar terlihat utuh dan normal.
Naya dan Hana memang terlihat jauh berbeda, Hana itu periang sedangkan Naya itu cuek. Hana selalu bisa mengutarakan isi hatinya sedangkan Naya cenderung tertutup. Mungkin itu yang ada dipikiran Raga sekarang.