Tentang Raga

Tentang Raga
Devan Turun Tangan


__ADS_3


Karena perginya tidak membawa kendaraan, Al hasil sekarang Naya harus pulang bersama Raga lagi. Dia menolak sebenarnya, tapi Raga memaksa dengan alasan bertanggung jawab. Cukup malas sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi?


Hari ini ada jadwal dadakan kumpul OSIS, seperti biasa dia pasti akan menunggu Raga di lapangan basket. Tapi sepertinya dia tidak bisa bermain basket karena anak-anak basket sedang berlatih.


Naya menghela napasnya sembari mengikuti arah bola yang di mainkan, cukup bosan. Apalagi kumpul OSIS seperti ini cukup lama dan membuat orang pegal menunggu, agak menyesal juga Naya mengiyakan ajakan Raga.


Tiba-tiba seseorang duduk di samping Naya dan tersenyum ke arahnya, membuat Naya menyipitkan matanya. Ya untuk apa Devan menghampirinya? "Nungguin Raga ya?"


Mendengar pertanyaan itu Naya kembali memfokuskan pandangan pada lapangan dan mengangguk pelan. "Iya."


"Raga itu pantang menyerah, dia pasti akan kejar apa yang dia mau sampai dapat," ucap Devan.


Naya terdiam, tuh kan pasti membicarakan soal Raga. Sudah tidak heran lagi, jelas Devan sahabat Raga. Tapi mau siapapun yang mencoba mempengaruhinya, Naya tidak akan terjebak. "Tapi gue bukan barang, Kak."


"Emang yang harus didapatin itu berupa barang aja ya, Nay? Itu perumpamaan aja."


"Kak Raga pantes dapet yang lebih baik, gak ada yang bisa dia dapet dari gue, Kak," ucap Naya dengan tatapan yang masih lurus ke depan.


"Kalau pikiran lo mencintai orang itu give and take, lo salah sih. Raga kalau mencintai orang itu give and give, dia akan selalu memberi tanpa meminta imbalan atau feedback apapun dari lo. Asal dia bikin lo bahagia, bikin lo ketawa, itu udah cukup buat dia."


Naya menghela napas, mungkin untuk percintaan dia sangat nol besar, tapi selama ini ya dia memang tidak ingin mengenal apa itu cinta. Banyak ketakutan yang ada pada dirinya, pikirannya di dominasi oleh pengkhianatan-pengkhianatan di sekitarnya.


"Gua tau mungkin sulit dicerna buat lo yang bisa jadi punya luka masa lalu, tapi gua cuma mau bilang kalau Raga bener-bener serius sama lo, Nay."


Naya lagi-lagi hanya diam, dia tidak tau juga harus membalas apa. Karena memang dia tidak akan kepikiran untuk jatuh cinta pada Raga. Tapi, entah kenapa setelah Devan bicara seperti ini dia jadi mempertimbangkan ucapan Devan. Memang harus dia akui kalau Raga adalah pria yang baik, tapi baik bukan berarti harus dipacari, kan?"


"Kenapa harus bahas kak Raga sih, Kak?" Tanya Naya kesal.

__ADS_1


"Pergerakan kalian lambat sih, bikin gemes. Kenapa, jadi berpikir buat nerima Raga ya?" Goda Devan.


"Apasih, Kak. Engga, gue gak suka sama Kak Raga. Ya emang gue akuin kalau Kak Raga baik, tapi kan gak harus pacaran. Emang apa bedanya juga pacaran sama biasa kaya gini?" Kesal Naya.


"Beda."


"Apa bedanya?"


"Makanya pacaran dulu sama Raga biar tau perbedaannya apa. Dari 1000 cowok, lo hanya akan nemuin satu Raga di dalam sana. Jarang soalnya."


Naya menghela napasnya, Devan ini sekarang sudah persis seperti Ibu yang mempromosikan anaknya. Semua yang baik-baik dia sebutkan semua agar Naya mau menerima Raga. Ada-ada saja memang.


Raga tersenyum dari jauh, Devan memang sahabat terbaiknya. Raga mendengar percakapan Devan dan Naya dari jauh sana, karena memang sedari tadi sudah selesai.


.


.


.


Naya yang mendengar itu sedikit menutup kupingnya, ya karena cukup penging juga suaranya. Sementara Raga hanya terkekeh karena sang kakak yang sudah kepalang marah karena Raga tidak menjemputnya.


"Pulang sendiri, mandiri. Gua lagi anter cewek gua pulang," jawab Raga enteng dan di hadiahi tatapan tajam dari Naya.


"Ya ampun bocah, ya udah jemput gue kek. Sekalian ajak cewek lo yang oke itu, gue males cari taxi."


"Coba tanya dulu sama dianya, mau gak gua aja ketemu lo?" Tanya Raga.


Sungguh meskipun tidak bertatapan mata dengan kakaknya Raga, Naya sudah sangat malu sekali akibat ulah Raga yang menyebutnya sebagai pacar. Naya ingin lompat saja dari sini, kelakuan Raga ajaib sekali, Naya tidak kuat.

__ADS_1


"Ekhmm, siapa nama cewek lo?" Tanya Amerta.


"Naya," ucap Raga tersenyum bangga pada Naya meskipun Naya sudah mengomel tanpa suara.


"Oke, Naya cantik, pacar Raga yang paling oke sedunia. Mau ya temenin Raga jemput kakaknya di Bandara, soalnya adek gue ini laknatullah, dia lebih nurut sama pacarnya ketimbang kakaknya sendiri," ucap Amerta.


Naya yang ditanya seperti itu nampak panik, bagaimana dia harus menjawab? Kenapa dia juga yang dijadikan tumpuan oleh Raga. Sungguh, Raga sangat menyebalkan sekali. Naya menghela napasnya sejenak, setelah itu dia memberanikan diri untuk membuka suara. "Iya, Kak. Boleh."


Raga mengulum tawanya, senang sekali melihat Naya mengakuinya sebagai pacar meskipun hanya mengikuti permainan yang Raga buat, tapi siapa tau kan setelah ini bisa jadi pacar sebenarnya?


"Pinter, kalau gitu suruh Raga cepet ya, Naya. Soalnya panas banget di sini," ucap Amerta yang diiyakan juga oleh Naya.


Setelah mematikan ponselnya Naya langsung menatap Raga dengan tajam dan menghadapkan tubuhnya pada Raga. "KAK KOK LO BILANG GUE PACAR LO?!!"


Raga tidak dapat menahan tawanya, gemas sekali melihat Naya marah besar seperti ini. Dia sudah mengira kalau Naya akan melakukan ini jadi dia tidak kaget. "Kenapa pacarku?"


"Kakk??!!!" Kesal Naya.


"Gak usah malu sama pacar," ucap Raga.


"Gue bukan pacar lo, nyebelin banget. Gue mau turun di sini aja!"


"Gak bisa, nanti gua disangka bohong punya pacar. Lagian lo yang iyain, Nay. Gua gak berniat jemput Kakak gua, jadi lo harus bertanggung jawab."


Naya membulatkan matanya, memang dia yang mengiyakan tapi posisinya kan terjepit karena Raga yang mengenalkannya sebagai pacar. Lalu kalau tidak mengiyakan permintaan kakaknya Raga Naya akan dianggap apa? Ahh ternyata berurusan dengan Raga semenyebalkan ini. Hidupnya jadi banyak kaget, padahal dia ingin hidup dengan nyaman.


"Udah, sehari aja kenapa. Gua emang mau kenalin lo sama kakak gue. Janji setelah itu langsung pulang, gak akan gua apa-apain," ucap Raga.


"Iya!"

__ADS_1


Naya hanya pasrah saja, lagian juga dia tidak bisa kemana-mana kalau begini. Tapi entah kenapa ada perasaan hangat ketika Raga memperkenalkan dia sebagai pacar pada kakaknya. Dia baru pertama kali diperlakukan seperti itu oleh pria. Selama dia pacaran pasti selalu diajak backstreet jadi tidak heran kalau dia kaget. Meskipun dia tidak mencintai Raga tetap saja siapa yang tidak akan salting jika diperkenalkan pada keluarganya?


__ADS_2