
Naya, Dara, Bila dan Kanya kini sedang asik ber-selfie ria, mereka juga saling memotret satu sama lain untuk mereka pamerkan di instagram nantinya. Seperti sekarang, mereka sedang fokus untung memotret Naya. Dengan gaya yang anggun dan elegan tapi simpel, membuat Naya terlihat cantik saat difoto di depan tenda.
Saat mereka tengah asik berfoto, tiba-tiba suara peluit berbunyi dan menandakan untuk berkumpul di lapangan apel. Semua siswa berlarian dan membentuk barisan. Terlihat petugas apel dan guru-guru sudah berkumpul di sana.
Banyak yang salah fokus kepada kakak-kakak senior karena kini mereka memakai baju OSIS yang terlihat berwibawa dan kharismatik, apalagi Raga yang semakin terlihat tampan, membuat para wanita tertuju padanya.
"Ganteng banget, Nay. Aaa meleleh," bisik Bila padanya.
"Mulai deh lebaynya," ucap Naya.
"Hehe ya abisan ganteng banget, apalagi kak Juna."
"Udah ssstt, apelnya udah mulai."
Upacara apel pun dilaksanakan, banyak siswa yang mengantuk akibat wejangan Kepala Sekolah yang sampai menceritakan 7 keturunannya. Sungguh membosankan.
Sesekali Naya hanya memainkan kukunya, menyisir perlahan rambutnya dengan tangan, atau menggigit gigit bibirnya.
"Lama banget," gumamnya dalam hati.
Beberapa menit berlalu, akhirnya upacara apel selesai. Sekarang mereka kembali dibentuk perkelompok untuk perjalanan hiking. Mereka akan diajak menelusuri hutan melewati kebun teh yang berada di dekat pintu masuk.
"Saat diperjalanan, ikuti pita merah yang sudah dipasang di beberapa titik, ingat jangan saling meninggalkan. Supaya tidak tersesat." Begitulah pesan dari bapak kesiswaan dan semua siswa memahaminya.
Setelah selesai mereka pun memulai perjalanan. Mereka harus ke pintu masuk yang berada di bawah sana dan untuk melewatinya mereka berjalan di tanah yang licin akibat hujan semalam. Naya yang sudah biasa dengan kondisi tersebut hanya santai, menikmati suasana alam dan sesekali memotret hal yang dia sukai.
Yang perlu diketahui adalah, jarak perkemahan ke pintu depan sangat jauh,dengan jalan yang menurun. Naya sudah yakin jika nanti mereka harus melewati jalan yang menanjak untuk kembali ke perkemahan. Naya terlaku asik dengan dunianya sampai tidak sadar kalau dia berada di akhir rombongan, tapi dia masih santai karena masih bisa dia kejar.
"Ekhm." Tiba-tiba seorang berdeham.
Naya yang kaget pun langsung mencari sumber suara.
"Kak, Raga? Kok lo?" tanyanya heran.
"Kenapa? Gua jaga di belakang kalau-kalau ada peserta yang ketinggalan. Nih contohnya kaya lo gini," ucap Raga santai.
"Ya ya, maaf. Gue keasikan motret kayanya."
"Fokus jalan dulu, di depan masih banyak spot yang bagus. Cepetan ntar ketinggalan."
Naya dan Raga pun mempercepat langkahnya. Naya pun memperhatikan sekeliling, banyak pohon rindang, kebun teh, ditambah hamparan kebun teh di bawah bukit yang dia pijak terlihat indah.
"Bagus banget," ucap Naya kegirangan.
"Udah gua bilang, bagus kan?" Ucap Raga.
"Gue gak bicara sama lo ya kak."
"Monolog."
__ADS_1
Naya tak mempedulikan Raga, dia kembali sibuk dengan kameranya. Perjalanan sudah sangat jauh, mereka sudah menaiki bukit, menuruninya lagi, hingga tidak tau berapa bukit yang mereka lewati.
Raga memperhatikan gadis yang di hadapannya ini, tidak terlihat kecapean atau mengeluh meminta istirahat. Bahkan dia terlihat sangat bersemangat.
"Lo gak mau istirahat dulu?" tawar Raga.
"Gak deh ntar aja, dari tadi rombongan berhenti terus jadi gak cape."
Raga pun hanya mengangguk memahami perkataan Naya.
"KAK RAGA INI ADA YANG PINGSAN," teriak salah seorang di depan mereka.
"Lo ikutin gua ya, jangan lewat kemana-mana," ucap Raga pada Naya. Raga pun dengan sigap berlari dan mencari peserta yang pingsan.
Naya yang tak peduli berjalan biasa saja, karena jalanannya juga sudah memakai petunjuk. Jadi dia tidak akan tersesat.
Cukup jauh Raga berlari, akhirnya dia sampai kepada peserta yang pingsan. Dia mengeluarkan minyak kayu putih dan menyuruh teman-temannya meminumkan air kepada peserta tersebut. Tak selang berapa lama dia pun sadar, Raga langsung berjalan menggendong peserta tersebut dan menyerahkannya kepada petugas OSIS yang berada di depan.
Setelah selesai, Raga memastikan kembali kalau tidak ada peserta yang tertinggal. Raga tidak melihat satu orang pun di sana. Namun, saat dia melanjutkan perjalanan, dia mencari sosok Naya. Tidak ada di depan dan di belakang pun tidak ada.
Raga mulai panik dan kembali ke belakang untuk mencari Naya.
"Kemana lagi itu bocah, udah gua bilang ikutin gua eh malah ilang," gerutunya.
Raga mulai panik karena dia tidak menemukan Naya, dia terus berlari untuk mencari Naya, dia juga sesekali melihat ke pinggir bukit, kalau-kalau Naya terperosok ke sana.
"NAYA," teriak Raga, namun tidak ada jawaban dari Naya.
Raga langsung berlari menghampiri Naya dengan wajahnya yang khawatir, Naya yang melihat itu hanya menatapnya keheranan.
"Lo kenapa kaya panik gitu kak?"
"Lo bisa gak sih ikutin instruksi gua? Tadi kan gua bilang kalau lo harus ikutin gua lari."
"Yaampun kan lagian kan udah ada pita merah, kalaupun gue ketinggalan kan tinggal ikutin aja kenapa sih?"
"Lo gak tau artinya rasa kepedulian orang ya? Ini namanya kepedulian, Naya!"
"Loh kan gak ada yang minta? Salah gue?"
"Iya lo gak minta, tapi orang ngelakuin itu karena takut Lo kenapa-kenapa, orang itu care sama lo! Paham gak? Ayok." Naya yang kaget dengan ucapan Raga hanya bisa mengikuti Raga dan membiarkan tangannya digenggam.
"Kak, harus banget dipegangin ini tangannya?"
"Lo liat? Di depan udah gak ada siapa-siapa lagi, kalau gua biarin lo sendiri, yang ada ilang kaya tadi."
"Ck, berasa jompo banget dipegangin."
"Bukan jompo, tapi bayi yang baru bisa jalan. Gak bisa diatur, jalan sesukanya."
"Kok lo kesel?"
__ADS_1
"Gimana gua gak kesel? Coba kalau tadi lo kenapa-kenapa gimana? Panitia juga yang kena."
"Yaudah sih maaf."
Raga pun mencari keberadaan pita merah, mereka sudah berjalan jauh tapi tidak bertemu dengan rombongan. Raga coba mengabaikannya dan fokus untuk terus berjalan.
"Kak," panggil Naya.
" Ini kita bener kan jalannya?" tanya Naya.
Raga pun berhenti sejenak, "Harusnya gak jauh dari sini itu kita naik ke atas, tapi gua gak nemu jalannya. Pita merah juga gak ada."
"Ini kita udah masuk hutan loh kak, udah mau gelap juga."
"Kayanya kita tersesat."
"Lo gak usah prank kaya gitu deh."
"Gua gak prank, yang survey jalanan bukan gua. Gua mengandalkan pita merah dari tadi tapi gak ada."
"Ya terus kita gimana?"
"Yaudah kita coba telusuri siap tau ada pita di depan sana." Raga coba menenangkan Naya. Sementara Naya hanya mengikuti Raga saja.
Setengah jam mereka berjalan, namun mereka tak menemukan apa-apa. Mereka malah semakin jauh masuk ke dalam hutan, melewati jalanan yang naik turun tak beraturan dan juga licin.
"Aduhh kak, kita kayanya beneran tersesat deh," ucap Naya.
"Iya, gua cuma meraba-raba arah. Kalau kita tadi di sebelah barat, berarti kita harus jalan ke arah barat."
"Udah gelap lagi, lo gak bawa senter kak?"
"Bawa, nanti aja kita pakai kalau udah bener bener gak keliatan jalan."
Raga terus menggenggam tangan Naya agar tak terlepas dan menghilang. Pasalnya Naya adalah anak ajaib, sekejap saja dia lengah pasti sudah menghilang.
Naya mulai sedikit takut, tapi dia tidak memperlihatkannya karena gengsi kepada Raga.
Raga yang peka pun hanya berusaha menenangkan Naya dengan mengeratkan genggamannya.
"Lo cape ya?"
"Sedikit," jawab Naya berbohong, padahal dia sudah sangat lelah sekarang.
Raga pun mempercepat langkahnya hingga mereka sampai di lahan yang agak kosong, sepertinya pernah ada yang berkemah di sini.
"Kita istirahat di sini aja ya. Gua yakin guru-guru cari kita kalau mereka sadar. Gua tau lo cape," Ucap Raga.
"Kita gak bisa jalan lagi aja kak? Kalau semakin malem semakin susah nemu jalannya."
"Percuma juga dilanjutin, karena udah malem pasti lebih susah. Pahitnya kita harus diem di sini."
__ADS_1
Naya menghembuskan napasnya kasar. Percuma saja tapi dia mengeluh, lagi pula juga ini salahnya yang terlalu santai tadi sehingga menyebabkan dirinya tersesat.