Terjawab

Terjawab
Bab 1


__ADS_3

Aknar!" Seorang pria berjalan dengan langkah cepat ke lapangan basket dan memukul salah satu pemain yang baru saja berhasil memasukkan bola ke dalam keranjang.


"Berani-beraninya lo nyakitin hati adek gue!" Altaf Baryan, seorang Kakak yang tidak rela Adiknya disakiti. Dia mendorong anak itu hingga terkapar lalu kembali melayangkan tinjunya beberapa kali.


Pemain lain yang melihat itu sedikit ragu untuk menghentikannya, tetapi jika tidak dihentikan anak itu benar-benar akan habis. Beberapa orang maju untuk memisahkan mereka dan ada satu lagi yang pergi berlari entah kemana.


Di kelas XII-1 terlihat seorang gadis berambut pendek yang sedang fokus dengan buku pelajarannya. "Kak Yara! Aknar dipukul sama Kak Altaf!" Fokusnya hilang mendengar teriakan laki-laki yang baru datang itu, begitupula dengan siswa lainnya yang juga sedang belajar. Suara pemain basket itu terlalu keras.


Yara beranjak dari tempat duduknya seketika itu juga. "Dimana?" tanyanya dengan wajah datar.


"Lo selingkuh dari adek gue, kalau nggak cinta sama dia kenapa lo pacarin?"


Para pemain yang tidak terlibat dalam permasalahan berusaha menahan Altaf yang ingin kembali memukul pria tampan itu. "Kak, aku tahu Kakak marah, tapi jangan sampai ngebunuh juga." Salah satu dari mereka berusaha meredakan kemarahan Altaf. Altaf menghempas dengan kasar tangan-tangan yang menyentuhnya.


"Gue nggak peduli, gue harus matahin tangannya dulu." Tatapan tajam Altaf tak lepas dari Aknar yang masih berusaha bangun.


"Aknar!" Yara yang baru datang berlari menghampiri Aknar dengan wajah khawatir. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Yara. Setelah melihat luka di wajah Adiknya, dia sadar bahwa yang dilakukan Altaf itu keterlaluan.


"Berani-beraninya lo mukul adek gue!" Yara berlari menghampiri Altaf dan menarik kerahnya. Altaf mendorong gadis itu kuat hingga cengkraman pada kerahnya terlepas.


"Lo tahu nggak? Adek lo selingkuh dari adek gue." Altaf mengacungkan jari telunjuknya pada Yara. "Ajarin tuh adek lo!" pungkasnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan lapangan basket tersebut.


Yara terdiam di tempat. Beberapa saat kemudian dia berbalik dan menghampiri Adiknya yang tetap pada posisi yang sama. "Itu nggak bener, kan?" tanya Yara yang berusaha tidak mempercayai perkataan Altaf. Yara memegang lengan Aknar tetapi langsung ditepis.


"Jangan ikut campur urusan gue." Aknar pergi sembari memegang luka lebam di wajahnya. Semua yang ada disana merasa kasihan kepada Yara. "Sabar ya, kak!" ujar mereka secara bersamaan, kemudian pergi mengikuti Aknar. Untungnya tidak ada penonton saat itu.


***


Aknar menatap serius gadis yang tengah duduk sendirian sambil melamun di kursi taman. "Aknar!" panggil Wian, teman dekatnya. Aknar menoleh dan dengan sigap menangkap botol minuman dingin yang dilempar oleh teman laki-lakinya itu.

__ADS_1


"Lo sih, cari gara-gara mulu. Apa susahnya sih, menetap di satu cewek?"


Aknar tidak menjawab. Wian menghembuskan napas frustrasi melihat temannya yang berbisu saat ditanya. Dia menepuk-nepuk bahu Aknar. "Gue balik kelas duluan, ya!" ucapnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan Aknar yang memperhatikannya berjalan hingga tidak terlihat lagi.


Aknar beralih kembali ke kursi taman. Hilang. "Dimana dia?" Mata Aknar mencari-cari keberadaan gadis yang tadinya duduk disana. Ekspresi lega terpampang di wajahnya ketika dia melihat gadis itu lagi. "Dapat." Rupanya gadis itu sedang membersihkan sampah di sekitar tempat sampah.


Wajah gadis itu tampak tidak bersemangat sedari tadi. Dia kembali duduk di kursi taman. Tasnya sedari tadi dia gendong di punggung, sepertinya dia belum menaruhnya di kelas.


Aknar berjalan menghampiri gadis itu dan berdiri di sampingnya. Gadis itu menyadari keberadaannya dan menoleh, lalu melempar pandangannya ke arah lain. "Agel, maafin aku!" kata Aknar.


Agel, seorang gadis yang masih marah setelah diselingkuhi. Dia menoleh kembali ke arah Aknar dan melihat luka-luka di wajahnya. "Lo nggak apa-apa?"


Terkejut, itu yang dirasakan Aknar. Setelah diselingkuhi, rupanya mantan pacarnya masih merasa khawatir padanya. Dengan mata yang sedikit melebar dan juga ekspresi yang mendukung membuat Agel kembali melanjutkan perkataannya. "Gue yakin, lo pasti habis dipukulin Kakak gue." Agel terlihat merasa bersalah.


"Gue punya minuman," ucap Aknar memperlihatkan minuman yang masih dingin di tangan kanannya. Mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Tadi habis pegang sampah." Aknar meletakkan minuman tersebut ke bagian kosong pada kursi yang diduduki Agel. "Minum setelah cuci tangan."


***


"Lo udah ngerjain tugas Matematika?" tanya Resal pada gadis bernama Laya yang duduk disampingnya. "Belum," jawab Laya. Resal menyodorkan bukunya yang berisi seluruh tugas Matematika yang sudah dikerjakan.


"Cepet salin sebelum jam pelajaran mulai!" perintah Resal lalu memainkan permainan tanpa internet di ponselnya.


"Ajun! Lo udah ngerjain tugas Matematika?" tanya Altaf langsung merangkul teman sekelasnya yang sedang berdiri dan menatap ke luar jendela. "Udah," jawab Ajun, "tapi gue nggak mau ngasih lihat siapa-siapa." Altaf yang awalnya senang berubah kesal.


Altaf menjauh dari Ajun dan memilih menghampiri Resal. "Gue minta tugas lo, dong!" pinta Altaf pada Resal yang masih fokus pada ponselnya. Resal menoleh sekilas pada Altaf. "Jelasin soal yang tadi."


Perkataan Resal membuat Altaf mengernyit. "Kenapa tiba-tiba penasaran?" tanyanya. "Nggak penasaran kok, cuma pengen tahu."

__ADS_1


"Terserah," ucap Altaf pasrah. "Adek gue diselingkuhin sama adeknya," bisiknya beberapa detik kemudian. Resal menghentikan kegiatan bermainnya dan lebih berfokus pada ucapan pria di sampingnya. Dia menunjuk kecil ke arah Yara menggunakan jempol.


"Separah apa lo mukul Adeknya?" Resal bertanya dengan berbisik-bisik.


"Sampai mukanya luka-luka." Itu artinya yang dikatakannya saat di lapangan hanyalah sebuah kebohongan. Altaf sebenarnya tidak berani, tetapi dia mengatakan itu agar terlihat keren di mata para Adik kelasnya.


"Tuan-tuan, bukankah lebih baik belajar daripada merumpi?" Laya berbicara dengan nada lembut tetapi mencekik. Altaf dan Resal yang mendengar pun jadi terdiam.


"Nih, gue udah selesai." Laya menaruh buku yang diberikan ke atas meja Resal dengan posisi masih terbuka.


"Ini tugas matematika kan? Gue pinjem!" Resal membiarkan buku tugasnya diambil dan disalin oleh Altaf.


Ting! Ting! Ting!


Lima menit kemudian bel pun berbunyi. "B*j*n*a*!" umpatnya dalam hati. Dia belum selesai menyalin. "Kenapa tugasnya banyak banget, sih?" Tugasnya yang banyak atau dia yang lambat menulis? Hanya sepuluh nomor.


"Selamat pagi, Pak!" Guru Matematika masuk. Altaf mempercepat menulis.


"Kumpulkan tugas kalian di atas meja Bapak!" Semua berdiri mengumpulkan tugasnya. Resal berdiri menghampiri tempat duduk Altaf dan langsung mengambil bukunya. "Gue duluan, ya!"


"Sial!" Altaf tahu setelah ini ia akan dihukum seperti hari-hari sebelumnya. Dia pasrah sembari memegang kepalanya.


"Yang tidak mengerjakan tugas, maju!"


...Bersambung.......


Penulis pemula. Maaf jika masih ada kesalahan dalam cerita!


Silahkan beri like dan juga komentar positif. Terima kasih!

__ADS_1


__ADS_2