Terjawab

Terjawab
Bab 5


__ADS_3

Altaf baru saja menyelesaikan makan malamnya bersama tadi. Setelah masuk ke kamar, dia mengambil kembali buku ajaibnya yang berada dalam tas Sekolah, letaknya di samping ranjang.


Dia juga mengambil beberapa buku cetak dan duduk pada meja belajarnya. Dia membuka buku ajaib itu, halaman di mana seharusnya terdapat tulisan kini sudah hilang.


Meski sedikit terkejut, Altaf akhirnya mengerti. Jika buku itu tertutup, maka semua tulisan yang ada di dalamnya juga akan menghilang.


Altaf membuka buku tulis yang tadi dia letakkan di meja belajarnya. Terdapat banyak angka di sana, tentu saja itu pelajaran Matematika. Dia menghembuskan napas frustrasi. "Malas banget."


Dengan berat hati, dia menulis soal pertama pada buku berjudul Terjawab itu. Buku tersebut langsung menampilkan jawabannya, tetapi Altaf merasa kurang puas dengan itu.


"Gue pengen jadi pintar, please!" Teriakan keras itu membuahkan jawaban dari luar kamar. "Makanya belajar, jangan cuma main game."


Altaf tertawa malu mendengar fakta yang dikatakan Ayahnya. "Iya, iya, ini lagi belajar kok." Setelah itu tidak ada jawaban lagi dari Ayahnya.


Altaf kembali pada aktivitasnya tadi. Setelah sedikit berpikir, dia akhirnya menuliskan sesuatu yang berbeda pada lembaran selanjutnya Terjawab. "Bisakah kau menjadikanku pintar?" Itu yang dia tulis. Dan tentu saja jawaban akan langsung keluar.


"Tentu saja!" kata buku itu.


"Kayaknya suara lo kebesaran, deh!" Namanya


juga sistem. Lagipula pengaturan bukunya kan memang seperti itu. "Apakah suaranya bisa dikecilkan?" tulisnya lagi pada lembaran selanjutnya buku itu. Satu halaman hanya bisa berisi satu pertanyaan, tidak lebih. Altaf sudah menyadari itu.


Setelah itu muncul sebuah gambar kotak berukuran sedang dengan tulisan perintah di atasnya. "Silanglah kotak di bawah ini dengan tanda (X) untuk mengubah pengaturan!" Setelah diberi perintah, Altaf langsung mematuhinya, dia menyilang kotak tersebut dengan pena yang digenggamnya.


Seketika semua pengaturan yang terdapat pada buku tersebut keluar dan tampil menggantikan kotak perintah. Altaf tertegun. "Wow!" Hanya itu yang bisa dia katakan saking terpesonanya. Sekarang dia hanya tinggal mengganti pengaturannya sesuka hati.


Altaf tersenyum. "Suara sistemnya dikecilkan, dapat menjawab pertanyaan lewat suara, lalu ...." Dia berpikir sejenak. "Jangan biarkan orang lain membuka buku ini selain aku. Oke!" Setelah itu dia menyilang kotak yang tercantum kata simpan untuk melanjutkan.


"Pengaturan berhasil diubah!" Suara sistemnya sekarang mengecil dan bahkan hampir tidak terdengar. "Satu tambah satu sama dengan?" tanyanya lewat suara untuk memastikan. "Dua," jawab sistem.


"Bagus!" gumam Altaf senang. Sekarang dia ingin memastikan apakah orang lain dapat membuka buku ini atau tidak. Dia menutup buku itu dan berjalan keluar dari kamar sambil membawanya. Dia pergi ke kamar Adiknya yang letaknya tak jauh dari ruang tidurnya.

__ADS_1


"Agel!" Tanpa mengetuk pintu sekalipun, anak itu secara serta-merta memasuki kamar Adiknya. Namun, setelah itu wajahnya berubah seakan melihat sesuatu yang mengejutkan.


"AAAA!" teriak Agel keras yang suaranya sampai ruang tamu. Dua orang tua yang tengah menonton televisi itu pun terkejut secara bersamaan dan refleks menoleh.


"Kenapa tuh?" tanya Ayah.


Altaf tertawa kecil. "Nggak kok, Pah! Tadi Agel lihat serangga," bohongnya. Lantas dia masuk dan menutup pintunya. Saat berbalik badan dia melihat Agel yang telah berada di kasurnya dengan menyembunyikan wajahnya di balik bantal.


"Kakak kalau mau masuk ketuk pintu kek," ucap Agel dengan nada kesal. Altaf hanya menggaruk-garuk kepalanya dengan sedikit senyuman yang menunjukkan rasa bersalah.


"Yaudah deh, maaf!" ujar Altaf meminta maaf. Betapa malunya Agel saat ketahuan ketika sedang asik menari lagu kesukaannya. Kesal, malu, marah, semuanya bergabung dalam satu tubuh dan emosi.


Altaf tertawa canggung. "Bagus kok." Tidak mendapat jawaban dari sang Adik.


"Wow, lo keren banget tadi waktu dance." Berusaha menghibur tetapi tidak berhasil. "Oh ayolah, masa gitu doang ngambek, sih!"


Agel bangkit dari tengkurapnya dan berubah menjadi posisi duduk sambil menatap Kakaknya dengan wajah kesal. Sedetik kemudian dia melempar bantal yang tadi dia gunakan untuk menyembunyikan wajahnya. "Keluar!"


"Lalu buat apa?!" tanyanya dengan nada yang sedikit dibuat tinggi.


Altaf menyodorkan bukunya dan setelah itu diambil Agel meski dengan perasaan yang belum terlepas dari kesal. "Apa nih?" tanyanya bingung.


"Buku," jawab Altaf.


"Iya aku tahu ini buku, tapi buku apa dan buat apa Kakak ngasih ke aku?"


"Kakak nggak bisa buka buku itu, kamu bisa nggak? Siapa tahu kalau kamu yang buka bisa."


Agel hanya menatap Altaf dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Datar, lelah, lesu, kira-kira seperti itulah tatapan yang dilayangkan ke Kakaknya. Secara logika, mana ada manusia yang tidak bisa membuka buku. "Hanya ini? Hanya gara-gara ini?" Agel menghembuskan napas pasrah dengan kelakuan Kakaknya itu.


"Ini hanya tinggal di buka aja," kata Agel sembari berusaha membuka buku itu. Keras, tidak bisa dibuka, lembaran-lembarannya seperti melekat satu sama lain.

__ADS_1


"Gimana? Bisa nggak?" tanya Altaf memastikan ketika melihat Agel yang terlihat kesusahan membuka bukunya.


"Ih kok keras? Nggak bisa."


"Nggak bisa? Okelah, kalau gitu Kakak bakal cari cara lain buat buka." Setelah keinginannya terpenuhi dia berjalan keluar begitu saja dari kamar Adiknya.


...***...


...09.00...


Yara sedang mengeluarkan seluruh kemampuan dan kepintarannya untuk mengerjakan tugas yang diberikan saat di Sekolah tadi. Namun, bunyi-bunyi notifikasi di ponselnya mulai mengganggunya. Satu atau dua kali mungkin tidak masalah, dia memakluminya. Namanya juga grup kelas, di sana terdapat banyak orang dan sudah pasti akan berkirim pesan. Tetapi lama-kelamaan dia mulai geram karena notifikasi di ponselnya terus-menerus berbunyi tanpa henti.


Biasanya hal seperti itu terjadi jika ada hal penting yang sedang mereka bahas di dalam grup. Karena ingin tahu, Yara pun memeriksa ponselnya dan hal itu berhasil membuatnya tercengang. Hampir dua ratus notifikasi yang didapatnya. Yara pun membaca pesan yang dikirimkan anak-anak itu satu persatu. Meski butuh waktu lama, akhirnya dia mengetahui persoalannya.


"Bisa-bisanya mereka ngebahas ini di grup." Mereka membahas tentang hal yang terjadi di Sekolah tadi, apalagi kalau bukan pemilihan Ketua kelas baru. Sepertinya pidato yang disampaikan Yara saat di kelas tadi kurang menarik perhatian, apalagi saat dia mengatakan bahwa dia akan memastikan tidak ada yang membawa alat kecantikan di Sekolah.


Anak-anak itu sudah pasti menginginkan kebebasan di lingkungan Sekolah, seperti membawa peralatan make up, sisir, cermin, dan lain-lain. Saat pidato, Yara juga mengatakan akan mengumpulkan semua ponsel ketika jam pelajaran berlangsung. Tentu saja hal itu membuat sebagian murid tidak senang, biasanya mereka selalu mencari jawaban di internet atau mereka pasti akan berkirim pesan dengan pacarnya masing-masing.


Notifikasi baru muncul, itu dari salah satu siswa di kelasnya.


...(Grup kelas XII)...


^^^Menurut gue Yara nggak terlalu|^^^


^^^pantas jadi Ketua kelas^^^


...Bersambung.......


Setelah sekian lama akhirnya up juga. Saat sampai di sini apakah bosan? Atau makin seru?


Silahkan komentar di bawah!

__ADS_1


__ADS_2